Select Page

Sistem Pewarisan di Minangkabau

Sistem Pewarisan di Minangkabau | Waris merupakan suatu barang yang ditinggalkan oleh seorang yang telah meninggal dunia kepada ahli warisnya baik berupa harta pusaka tinggi, harta pusaka rendah maupun gelaran adat.

Menjawat Waris

Hukum waris di minangkabau | Seseorang yang menerima kata-kata atau amanah dari orang lain atau mamaknya sendiri belum tentu “menjawat waris” tetapi baru menjawat tutur atau menjawat kata, karena menjawat waris itu betul-betul waris penghulu yang dijawat. Orang yang menjawat waris ini “sako” atau turunan namanya. Dalam sistem pewarisan di Minangkabau yang menjawat waris ini adalah keturunan dari ibu karena Minangkabau berbentuk matriarchaat. Jadi anak dari garis ibu yang menjadi ahli waris atau kemenakan menurut sistem pewarisan di Minangkabau.

Baca Juga:  Kebesaran Gelaran Penghulu di Minangkabau

Jenis Harta Pusaka

Jika seorang penghulu meninggal dunia maka kemenakannya yang akan menjawat gelarannya dan menguasai harta pusaka dalam kaumnya. Namun bukan berarti dia leluasa berbuat dengan harta pusaka itu sebab ada ketentuan-ketentuannya. Menurut adat Minangkabau harta itu ada pula jenis-jenisnya: harta pusaka tinggi, harta pusaka rendah, harta pencaharian, harta surang, dan harta serikat.

Menurut sistem pewarisan di Minangkabau seorang anak yang ayahnya seorang penghulu tidak pula berhampa tangan dari pusaka ayahnya yang jadi penghulu itu. Anak tersebut boleh menerima harta pusaka dengan syarat-syarat tertentu yang bernama hibah.

Baca juga: Martabat seorang penghulu di Minangkabau