Pilih Laman

Prasasti Pagaruyung merupakan situs peninggalan di Minangkabau pada masa pemerintahan Raja Adityawarman. Raja ini berkuasa di kerajaan Pagaruyung pada sekitar abad ke XIV M. Prasasti ditemukan di daerah Tanah Datar sekitar 22 buah. Ditemukan tersebar di Kecamatan Pariangan, Rambatan, Tanjung Emas, dan Lima Kaum. Beberapa buah prasasti yang ditemukan di sekitar Bukit Gombak, kecamatan Tanjung Emas. Prasasti dikumpulkan dalam suatu tempat yang kemudian disebut dengan Kompleks Prasasti Adityawarman.

Kompleks prasasti Adityawarman berada dipinggir jalan raya Pagaruyung – Batusangkar, Kecamatan Tanah Emas, Kabupaten Tanah Datar. Prasasti Pagaruyung terdiri dari delapan buah prasasti. Sayang sekali, lokasi asal temuan prasasti – prasasti tersebut tidak dapat diketahui dengan pasti, demikian pula tentang riwayat penemuannya.

Prasasti Pagaruyung

Pagaruyung I

Prasasti Pagaruyung I (1356 M). Isi dari prasasti ini adalah pujian pada keagungan dan kebijaksanaan Adityawarman. Dia dipuji sebagai raja yang banyak menguasai pengetahuan, khususnya di bidang keagamaan. Raja Adityawarman juga dianggap sebagai cikal bakal keluarga Dharmaraja. Adityawarman sendiri menggunakan nama rajakula ini di dalam salah satu gelarnya, yaitu Rajendra Maulimaniwarmmadewa. Penulis dari prasasti atau biasa disebut Citralekha, adalah Mpungku Dharmma Dwaja bergelar Karuna Bajra. Prasasti ini menyebutkan Swarnnabhumi sebagai nama wilayah Adityawarman. Swarnnabhumi mempunyai arti tanah emas, yang memberikan petunjuk bahwa daerah tersebut mempunyai tambang emas.

Pagaruyung II

Prasasti ini memiliki tulisan yang indah dan rapi serta goresan yang cukup dalam. Huruf dari prasasti ini adalah jawa Kuno dengan bahasa Sansekerta. Isi dari prasasti ini belum dapat dijelaskan secara lengkap, karena terjemahan yang dihasilkan masih meloncat-loncat. Prasasti ini diperkirakan berangka pada tahun 1295 Saka atau 1373.

Baca Juga:  Baju adat perempuan Minangkabau

Pagaruyung III

Prasasti ke- III memiliki pertanggalan prasasti berupa Candra Sengkala, yaitu dware rasa bhuje rupa atau gapura, maksud, lengan, rupa. Dware bernilai 9, rasa = 6, bhuje = 2, dan rupe = 1. Jika dibaca dari belakang menjadi 1269 saka atau 1347 M. Penulisan Prasati ke- III dimaksudkan untuk memperingati berdirinya suatu bangunan atau tempat suci keagamaan. Sayangnya bangunan yang dimaksud tidak diketahui lagi keberadaannya saat ini.

Pagaruyung IV

Prasasti ke- IV ini menyebutkan kata Sarawasa pada baris ke 9. Kata yang sama dapat ditemui pada Prasasti Saruaso I, yaitu Surawasan, yang kemudian berubah menjadi Saruaso. Saruaso merupakan nama sebuah nagari di Kabupaten Tanah Datar, sekitar 7 Km dari Kota Batusangkar. Apabila pembacaan ini benar, maka sarawasa atau Surawasa merupakan sebuah tempat atau daerah yang penting pada masa Adityawarman

Pagaruyung V

Dibandingkan dengan prasasti lainnya, Prasasti ke- V memiliki isi yang unik karena berisi tentang masalah taman dan di luar kelaziman prasasti – prasasti dari Adityawarman.

Pagaruyung VI

Prasasti ke- VI memiliki isi: Om Pagunnira tumanggung kudawira yang berarti bahagia atas hasil kerja Tumanggung Kudawira. Prasasti ini merupakan stempel atau cap pembuatan bagi Tumanggung Kudawira. Jabatan tumanggung merupakan jabatan yang lazim dipakai dalam pemerintahan Singasari dan Majapahit. Nama Kudawira merupakan nama seseorang, yang berarti kuda yang gagah perwira. Dari catatan sejarah tentang ekspedisi Pamalayu yang dijalankan Kertanegara dari Singasari, dapat diperkirakan bahwa Kudawira ini merupakan tumanggung dari kerajaan Singasari yang ikut dalam ekspedisi tersebut.

Baca Juga:  Rumah Adat Minangkabau

Pagaruyung VII

Prasasti ini tidak diketahui angka tahunnya. Isi dari prasasti ini adalah suatu sumpah atau kutukan yang ditujukan kepada orang yang mengganggu atau tidak mengindahkan maklumat raja di dalam prasasti tersebut.

Pagaruyung VIII

Prasasti ke- VIII merupakan sebuah teks yang dipahatkan pada sebuah artefak lesung batu berbentuk empat persegi dengan sebuah lubang di tengahnya. Teks dari prasasti tersebut digoreskan pada ketiga sisinya, terletak dibagian atas. Teks dimulai pada sisi yang berbaris dua lalu dilanjutkan pada kedua sisi lainnya dan diakhiri sisi pertama. Prasasti ini berangka tahun 1291 Saka atau 1369 M.

Prasasti ini berisikan: “Om tithiwarsatitha ratu ganato hadadi jestamasa dwidasa drta dana satata lagu nrpo kanaka jana amara wasita wasa”. Teks tersebut memiliki arti bahagia. Pada tahun Saka 1291 bulan Jyesta tanggal 12, seorang raja yang selalu ringan dalam berdana emas dan menjadi contoh bagaikan dewa yang harum selain itu ada juga perintah untuk “Sukhasthita” yang artinya tertib dan selalu gembira.