Select Page

Pelopor Islam di Minangkabau | Masuknya Islam di Sumatra Barat masih menjadi perdebatan para ahli sejarah namun indikasinya pantai timur Sumatra telah disinggahi saudagar-saudagar Islam sejak abad ke-7. Kronik Tiongkok Xin Tangshu menyebutkan bahwa pada tahun 675, orang-orang Ta-Shih (Arab) telah mempunyai perkampungan di pantai barat Sumatra. Pengelana Venesia Marco Polo (1292) yang singgah di Sumatra menulis bahwa penduduk pedalaman pada umumnya masih belum beragama Islam, sedangkan pengelana Maroko Ibnu Batutah (1345) menemukan bahwa Mazhab Syafi’i telah diamalkan oleh masyarakat Pasai. Pengelana Portugis Tomé Pires (1512-1515) secara khusus menyatakan bahwa hanya satu dari “tiga raja Minangkabau” yang saat itu telah memeluk Islam.

Interaksi Minangkabau yang intens dengan Islam, setidaknya dimulai sejak abad ke-13 yang melahirkan tokoh-tokoh yang terlibat dalam penyebaran Islam di Nusantara. Di Minangkabau, ulama begitu populer karena pengaruh mereka dalam perubahan politik dan sosial-kemasyarakatan. Salah seorang ulama terkemuka pertama Minangkabau ialah Syekh Burhanuddin (1646-1692), yang merupakan pelopor penyebaran Islam di daerah pedalaman Kerajaan Pagaruyung. Syekh Burhanuddin yang menetap di nagari Ulakan, Pariaman merupakan murid dari ulama besar asal Aceh, Syekh Abdurrauf Singkil.

Pelopor Islam di Minangkabau periode berikutnya adalah tiga orang ulama yang kembali dari ibadah haji pada tahun 1803, yaitu Haji Miskin, Haji Piobang, dan Haji Sumanik, menjadi penganjur gerakan puritanisme agama Islam di Sumatra Barat. Mereka menyerang adat dan kebiasaan lama yang mereka anggap tidak sesuai, dan mendesak masyarakat untuk melakukan kewajiban formal agama Islam. Terjadilah perang saudara antara Kaum Padri (kelompok pendukung) dan Kaum Adat (kelompok penentang) gerakan tersebut.

Pelopor Islam di Minangkabau pada awal abad ke-20 dimana ulama Minangkabau memulai usaha membebaskan praktik Islam yang bercampur dengan praktik adat. Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, diikuti oleh murid-muridnya, mengangkat kembali gagasan pemurnian Islam. Mereka, belakangan dijuluki sebagai ulama Kaum Muda, mencetuskan gerakan pembaruan Islam yang ditandai dengan maraknya penerbitan media massa Islam seperti Al-Munir dan pembukaan lembaga pendidikan modern seperti Sumatra Thawalib. Ulama Minangkabau sejak tahun 1900-an cenderung lebih berfokus pada pendidikan dan aktivitas intelektual dari pada perlawanan fisik. Gerakan modernisme Islam di Timur Tengah, yang antara lain digerakkan oleh Syekh Muhammad Abduh dan Syekh Rasyid Ridha, juga berimbas pada alim ulama Minangkabau pada masa itu.

Baca Juga:  Watak Penghulu Adat di Minangkabau

Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi (1860–1916) merupakan seorang ulama kelahiran Koto Gadang, Agam, yang menjadi imam besar non-Arab pertama di Masjidil Haram, Mekkah. Ia merupakan guru bagi ulama-ulama besar Nusantara pada zamannya, dan sangat kritis terhadap adat-istiadat dan praktik tarikat yang dianggapnya bertentangan dengan ajaran agama. Seorang sepupunya, Syekh Tahir Jalaluddin (1869–1956), juga banyak menganjurkan gagasan pembaharuan dan menerbitkan majalah reformisme Islam Al-Imam (1906) di Singapura yang isinya sejalan dengan majalah Al-Manar terbitan Rasyid Ridha di Mesir. Setelah Ahmad Khatib, ulama Minangkabau lainnya yang berkiprah di Masjidil Haram ialah Djanan Thaib. Ia ditunjuk sebagai penghulu (ma’dzun syar’i) bagi orang-orang Nusantara di Mekkah.

Syekh Muhammad Jamil Jambek (1860–1947) adalah salah seorang pelopor ulama reformis di Minangkabau. Ia banyak menganjurkan pembaharuan dan pemurnian Islam melalui ceramah atau dakwah secara lisan, serta menulis buku-buku yang menentang praktik tarikat yang berlebihan. Haji Abdul Karim Amrullah (juga dipanggil Haji Rasul atau Inyiak Doto, 1879–1945) berasal dari Sungai Batang, Maninjau adalah tokoh lainnya yang mendirikan sekolah Islam modern Sumatra Thawalib (1919), dan bersama Haji Abdullah Ahmad (1878–1933) merupakan orang Indonesia terawal yang mendapat gelar doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar, Mesir. Selain itu, Haji Abdullah Ahmad juga menerbitkan majalah Al-Munir (1911) di Padang, yang mengusung ide kesesuaian Islam dengan sains dan rasionalitas modern. Ulama lainnya Syekh Ibrahim Musa (Inyiak Parabek, 1882–1963), berasal dari Parabek, Bukittinggi, turut mendirikan Sumatra Thawalib; di mana Syekh Ibrahim Musa mengelola sekolah cabang di Parabek, Bukittinggi, sedangkan Haji Rasul mengelola cabang di Padangpanjang.

Pelopor Islam di Minangkabau sejak masa pergerakan hingga awal kemerdekaan adalah Menantu dan anak Haji Rasul, yaitu AR Sutan Mansur (1895–1985) dan Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka, 1908–1981), kemudian juga menjadi ulama terkenal. AR Sutan Mansur adalah seorang ulama yang pernah memimpin Muhammadiyah. Sementara itu Hamka selain menjadi pemimpin Muhammadiyah (1953–1971) juga dikenal sebagai ulama internasional serta juga seorang sastrawan. Dia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia atas jasa-jasanya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.