Select Page

Kelarasan di Minangkabau | Datuk Ketemenggungan dan Datuk Perpatih nan Sebatang mulailah menyusun pembagian daerah atau kelarasan di minangkabau dan adat-adat yang layak dalam negeri. Mulailah mereka membagi dan mengatur pemerintahan. Daerah yang luas itu mereka bagi menjadi dua kelarasan karena yang menjadi ketua dari pemerintahan itu adalah Datuk Ketemenggungan sebab beliau adalah putera tertua dan berasal dari keturunan raja.

Datuk Perpatih nan Sebatang kedudukannya dapat dianggap sebagai mangkubumi atau perdana menteri dan beliaulah yang mengatur pemerintahan dan tugas-tugas dalam negeri, sistem kelarasan di minangkabau. Amat sempurnalah cara pemerintahan dan aturan-aturan yang diperbuatnya sehingga negeri Periangan Padangpanjang menjadi luas pemerintahannya dan daerah taklukannya.

Batas-batas daerah dalam kata-kata adat

Batas-batas daerah itu dikenal dalam kata-kata adat: “Sampai ke durian yang ditakuk raja, sehingga Sialang berlantak besi, sampai ke Sipisak pisau hanyut sampai keombak yang berdebur”. Datuk Perpatih nan Sebatang menjadi orang kuat dalam negeri malahan menjadi negarawan yang menyusun tata negara dengan campin-nya. Sehingga timbullah pikiran Datuk Ketemenggungan akan membalas jasa-jasa beliau dengan sesuatu yang layak.

Baca Juga:  Sebab Harta Turun kepada Kemanakan

Bermufakatlah Datuk Suri Diraja, Datuk Ketemenggungan, dan Datuk Perpatih nan Sebatang dengan segala menteri (mantri) hulubalang, dan segala majelis kerapatan negeri. Tak adalah balas jasa yang sesuai dan layak bagi Datuk Perpatih nan Sebatang adalah menyerahkan sebagian daerah di bawah kekuasaan beliau.

Koto Piliang dan Bodi Caniago

Sesudah Datuk Ketemenggungan mengeluarkan pendapatnya adalam majelis besar itu, sepakatlah segala yang hadir mengatakan bahwa kata tuanku itu adalah kata yang benar dan pilihan semuanya. Sebab itulah daerah kekuasaan Datuk Ketemenggungan dinamakan “Koto Piliang” yang berasal dari kata pilihan atau kata yang tak dapat dipaling lagi. Sedangkan daerah kekuasaan Datuk Perpatih nan Sebatang dinamakan “Bodi Caniago” atau berasal dari “Budi yang berharga” dan ingat pula dengan kediaman beliau dibawah batang bodi.

Adapun daerah laras Koto Piliang adalah sehingga laut nan berdebur sehingga gunung Merapi hilir, itulah tanda kebesaran Koto Piliang. Adapun daerah Bodi Caniago adalah sehingga Muara Mudik Padang Tarab, sehingga kehilir Simabur. Semuanya dinamakan Laras nan Dua.

Baca Juga:  Fungsi Mamak di Minangkabau

Demikianlah sistem kelarasan di minangkabau