Pilih Laman

Keris Pusaka Minangkabau | Keris merupakan senjata kehormatan bagi suku bangsa jawa, melayu, dan minangkabau. Pada bangsa minangkabau hanya para penghulu yang boleh menyisipkan keris dipinggangnya itupun pada waktu-waktu tertentu pula.

Menurut etimologinya sebab dinamakan keris adalah artinya yang berasal dari “kekerasan” dan kekuatan atas 3 perkara yaitu: kekuatan adat, kekuatan syara’ dan kekuatan undang-undang. Kekuatan tersebut tergambar pada bentuk keris yang mempunyai 3 buah alur.

keris pusaka minangkabau

Mata keris pusaka Minangkabau itu tajam pada kedua sisinya yang maksudnya seorang pemimpin itu haruslah memutus secara adil tidak berat kekiri atau kekanan, bukan seperti kata pepatah:

Tiba dimata dipicingkan

Tiba diperut dikempiskan

Janganlah mementingkan kaum keluarga sendiri saja, atau sahabat karib asal bersalah kena hukum, kalau berhutang harus dibayar.

Simbol kebesaran bagi penghulu

Keris merupakan simbol kebesaran bagi penghulu di Minangkabau dan mengandung arti yang mendalam. Pemakaiannya diwaktu tertentu dengan kelengkapan pakaiannya. Letaknya condong ke kiri dan bukan ke kanan supaya terasa susah untuk mencabutnya. Letak keris ini tersirat makna seorang penghulu harus berfikir terlebih dahulu dan jangan cepat marah dalam menghadapi sesuatu persoalan, apalagi main kekerasan. Gambo atau tumpuan punting keris; artinya penghulu adalah tempat bersitumpu bagi anak kemenakan untuk mengadukan sakit senang. Kokoh keris bukan karena embalau, dengan pengertian bahwa yang memberi kewibawaan bagi penghulu, adalah hasil perbuatannya sendiri.

Baca Juga:  Sistem Pemerintahan Minangkabau

Mata keris yang kelok-kelok, ada yang bengkoknya dua setengah patah; ada yang lebih. Maksudnya adalah penghulu harus mempunyai siasat dalam mejalankan tugasnya. Mata keris balik bertimba dan tidak diasah semenjak dibuat dengan pengertian bahwa kebesaran penghulu dan dibesarkan oleh anak kemenakan dan nagari. Tajamnyo indak malukoi, mamutuih indak diambuihkan (tajam tidak melukai, memutus tidak dihembuskan). Maknanya adalah seorang penghulu itu tidak fanatik, tidak turut-turutan kepada pendapat orang lain, percaya pada diri dan ilmunya. Bahasa lirisnya terhadap keris ini diungkapkan “senjatonyo karih kabasaran sampiang jo cawak nan tampeknyo, sisiknyo tanaman tabu, lataknyo condong ka kida, dikesongkan mako dicabuik.