Pilih Laman

Kemenakan di Minangkabau adalah anak dari saudara yang perempuan. Misalnya Datuk Bagindo seorang penghulu dalam kaumnya memiliki saudara Ana dan Ani. Anak-anak dari Ana dan Ani itulah kemenakan Datuk Bagindo. Karena Ana saudara perempuan Datuk Bagindo yang paling tua maka anak laki-laki Ana akan menjadi calon penganti Datuk Bagindo dalam memimpin kaumnya kelak.

Kemenakan di Minangkabau

Kemenakan di Minangkabau

Selain anak dari saudara perempuan, adapula macam kemenakan lainnya yang berlaku sepanjang adat Minangkabau, seperti:

  1. Kemenakan bertali darah, adalah kemenakan-kemenakan yang mempunyai garis keturunan dengan sang mamak. Contohnya seperti Datuak Bagindo yang telah diterangkan diatas. Kemenakan bertali darah mempunyai hak untuk mewarisi gelar pusaka mamaknya dan menggarap harta pusaka untuk kepentingan kaum. Ada kalanya terjadi perebutan sesama kemenakan dalam hal harta pusaka karena semua kemenakan merasa sama-sama mempunyai hak.
  2. Kemenakan bertali akar, dalam istilah adatnya adalah “yang terbang menumpu, hinggap mencekam”. Kemenakan ini adalah dari garis yang sudah jauh atau dari belahan kaum itu yang sudah menetap dikampung lain. Bila penghulu tempat dia menumpu itu sudah punah bolehlah kemenakan ini menggantikan dengan kesepakatan ninik mamak dan keluarga dalam sepayung. Demikian pula kalau ada harta pusaka yang tergadai boleh pula kemenakan ini untuk menebusinya. Namun masalah akan muncul kalau masih ada tunas baru yang merupakan kemenakan bertali darah dari mamak tersebut.
  3. Kemenakan bertali emas, kemenakan golongan ini tak berhak menerima warisan gelar pusaka tetapi mungkin dapat menerima harta warisan jika diwasiatkan kepadanya karena memandang jasa-jasanya atau disebabkan hartanya.
  4. Kemenakan bartali budi, masyarakat minangkabau tidak mengenal istilah “anak angkat” tetapi mereka mengenal kemenakan angkat dengan istilah lain. Pada suatu kali datang satu keluarga dan mengaku mamak kepada seorang penghulu dalam kampung itu dan dia diterima. Dan mereka melakukan tugas seperti kemenakan biasanya. Lazimnya di Minangkabau kepada mereka yang seperti itu diberikan setumpak tanah untuk berkebun, sepiring sawah, sebuah tabek ikan dan beberapa pohon kelapa.
Baca Juga:  Prasasti Pagaruyung Pada Masa Raja Adityawarman