Select Page

Kebesaran Penghulu atau Gelaran Penghulu

Sebagai lazimnya bahwa kebesaran penghulu itu tingginya dianjung, gedangnya dilambuk, yang mempunyai banyak sekali syarat-syarat untuk menjadi seorang penghulu dan tidak ringan. Penghulu itu dapat diibaratkan dengan “kayu gadang di tengah padang”, tempat berteduh ketika kehujanan, tempat berlindung dari kepanasan, batangnya tempat bersandar, uratnya tempat bersela.

Penghulu itu haruslah mempunyai sifat sabar, lurus dan benar, pengasih dan penyayang, serta mempunyai ilmu seperti tukang yang ahli dan cukup sempurna kepintarannya. Penghulu tersebut harus ber-alam lebar, berpadang lapang, jauh dari perangai buruk, iri dan dengki, jauh dari pada dendam kesumat, serta menjauhkan larangan adat: memerahkan muka ditengah rapat, menyingsingkan lengan baju, menghardik menghantam tanah, berlari dan menjunjung yang berat-berat, serta mengail ditebat panjang atau sungai.

Waktu membangun gelaran penghulu

Gelaran penghulu yang turun temurun tersebut mempunyai waktu untuk membangunnya, diantaranya:

  1. Gelaran penghulu itu dibangun sewaktu tanah tersirah, maksudnya bila meninggal penghulu yang lama sudah ada yang akan menggantikannya atau istilahnya “patah tumbuh, hilang berganti”. Jadi sewaktu jenazah penghulu yang lama akan dikuburkan lalu diumumkan penggantinya, dan peresmian kebesaran penghulu menyusul dikemudian hari.
  2. Mati bertongkat budi, yaitu menyerahkan gelaran penghulu kepada calon yang sudah ditentukan karena penghulu yang lama sudah tua dan tidak sanggup lagi melaksanakan tugasnya dengan baik.
  3. Hidup berkerelaan, atau gelaran penghulu berganti di masa masih hidup. Gelaran penghulu diserahkan karena sudah uzur atau sedang menunaikan tugas kenegeri yang jauh dan belum jelas kapan selesai dan kembali kekampungnya. Ada juga terjadi gelaran penghulu itu tidak berkerelaan tapi dibawanya sampai mati keliang lahat, takut harta pusakanya akan dihabiskan.
  4. Membangkit atau membangun sako yang sudah terlipat atau dalam istilah adatnya: membangkit batang terandam. Mungkin saja sewaktu penghulu tersebut meninggal dunia, yang akan melanjutkan gelaran penghulu nya belum cukup umur atau masih kurang kecakapannya. Bila calonnya sudah siap untuk melanjutkan gelaran penghulu tersebut maka pusaka yang terlipat tadi dikembangkan kembali. Tentu saja mengembangkan pusaka yang terlipat atau membangun kembali kebesaran penghulu itu harus sesuai dengan tatacara dan upacara adat yang berlaku di alam Minangkabau.
Pantangan Seorang Penghulu di Minangkabau Batagak Pangulu di Alam Minangkabau
Baca Juga:  Budaya alam Minangkabau