Pilih Laman
Fungsi Mamak di Minangkabau

Fungsi Mamak di Minangkabau

Fungsi Mamak di Minangkabau | Mamak atau paman dalam adat minangkabau adalah saudara laki-laki dari ibu baik kakak maupun adik. Kemenakan dan mamak mampunyai hubungan sabagai pemimpin dan orang yang dipimpin seperti falsafah berikut:

Kamanakan barajo ka mamak
Mamak barajo ka pangulu
Pangulu barajo ka mufakat
Mufakat barajo ka nan bana
Bana badiri sandirinyo
Bana manuruik alua jo patuik
Manuruik patuik jo mungkin

Fungsi Mamak di Minangkabau berperan dalam membimbing kemenakan, memelihara dan mangambangkan harta pusaka serta mawakili kaluargo dalam urusan keluar. Membimbing kemenakan adalah kewajiban mamak seperti ungkapan berikut ini:

Kaluak paku kacang balimbiang
Daun bakuang lenggang-lenggangkan
Anak dipangku kamanakan dibimbiang
Urang kampuang dipatenggangkan

Mamak berkewajiban dalam membimbing kemenakan dalam bidang adat, bidang agama, dan bidang perilaku sehari-hari. Kalau kemenakan melakuan kesalahan, mamak akan ikut malu. Peranan mamak yang lain adalah memelihara dan mangembangkan harta pusaka. Harta pusaka itu dipelihara supaya jangan habis, tidak boleh sampai dijual, atau digadaikan. Mamak hanya memelihara saja, sadangkan pemiliknya adalah ibu ( bundo kanduang ).

Peranan mamak nan katiga adalah mawakili kaluarga dalam urusan keluar. Urusan itu dapat tajadi dalam hal-hal yang baik atau kurang baik. Mamak akan bertindak atas nama keluarga dan mawakili kaluarga dan juga akan bertindak atas nama kaluarga untuk penyelesaian masalah.

Fungsi Mamak di Minangkabau

Kemenakan laki-laki dan kemenakan perempuan sama-sama dibutuhkan dalam kaluarga Minangkabau. Peranan keduanya di dalam kaluarga berbeda-beda. Kemenakan laki-laki mamiliki paran antara lain kader pamimpin (mamak) dalam kaluarga dan membantu mamak dalam urusan-urusan keluarga. Kemenakan perempuan mamiliki peran antara lain, calon ibu (bundo kanduang , calon panguasa harta pusaka, pelanjut ganerasi, Penghuni rumah gadang.

Sistem Pemerintahan Minangkabau

Sistem Pemerintahan Minangkabau

Sistem Pemerintahan Minangkabau yang Pertama Sekali dijalankan oleh Datuk Maharadjo Diradjo dengan kekuasaan yang dipegangnya secara mutlak. Kekuasaan penuh dan berdasarkan pertimbangan Maharadjo Diradjo, di dalam tambo Alam Minangkabau disebut dalam pepatah: “undang-undang simumbang jatuah”, maksudnya, undang-undang yang mutlak dipatuhi, karena tak boleh dibanding/diprotes dan tak ada kata ampun, wajib harus dituruti. Undang-undang tersebut berlaku kepada keturunan Datuk Maharadjo Diradjo. Akibatnya, banyak rakyat yang harus menerima hukuman karena perbuatan yang belum tentu salah sama sekali. Hak asasi manusia tidak berlaku sepenuhnya di zaman ini (aturan pertama).

Sistem Pemerintahan Minangkabau

Undang-undang si gamak-gamak dan si lamo-lamo

Di bidang ekonomi (aturan kedua atau undang-undang si gamak-gamak), segala lapangan pekerjaan untuk penghidupan dikuasai oleh kecerdasan dan kepandaian serta kemampuan masing-masing. Dimasa ini orang hidup sendiri-sendiri, tak menghiraukan kehidupan orang lain.

Dalam kehidupan sosial (aturan kedua atau si lamo-lamo), penghargaan pada perbuatan baik tidak akan mendapat ungkapan terima kasih, sebab orang yang memiliki sikap yang baik dan terpuji tidak akan berani menghadapi orang yang dianggap terpandang, karena yang menyandang status terpandang akan dianggap sebagai orang yang berani, sedangkan orang yang tidak terpandang di tengah masyarakat akan merasa jadi penakut.

Setelah wafatnya Maharadjo Diradjo, pemerintahan dilanjutkan oleh keturunannya yaitu Suri Diradjo. Beliau melakukan perubahan aturan, sesuai dengan ungkapan pepatah; “sakali gadang balega, sakali adat barubah”. Maksudnya, setelah cukup umur dan patut, maka diangkat atau diresmikan, kemudian sekalian dengan adanya perubahan adat atau aturan.

Undang-undang Tarik Balas

Setelah kekuasaan dipegang oleh Datuak Suridiradjo, undang-undang yang diterapkan adalah undang-undang Tarik Balas yang bertujuan agar sesuatu kejahatan atau kesalahan seseorang akan mendapat balasan setara atau setimpal dengan apa yang telah diperbuatnya. Jika seseorang membunuh, maka hukuman yang pantas diterimanya adalah dibunuh juga. Dalam urusan utang piutang, apa yang dipinjam harus sesuai bentuk pengembalian sama seperti barang atau materi yang dipinjam, tidak boleh diganti dengan bentuk lain. Sesuai dengan pepatah: “utang ameh baia jo ameh, utang nyao baia jo nyao, utang padi baia jo padi, utang kato baia jo kato” atau utang emas bayar dengan emas, utang nyawa bayar dengan nyawa, utang padi bayar dengan padi, utang kata bayar dengan kata. Perubahan undang-undang ini membawa perubahan dalam masyarakat. Sebelumnya, undang-undang yang dipakai tidak kenal kata ampun dan kasihan. Undang-undang Tarik Balas diterima dengan baik oleh masyarakat pada waktu itu. Undang-undang terus dilanjutkan oleh keturunan Datuk Suridiradjo yaitu oleh Datuk Seri Mahardjo nan Banego-nego, kemudian oleh anaknya Datuk Maharadjo Basa. Undang-undang tersebut berjalan lancar karena masyarakat boleh mempertahankan kebenaran sebagai hak asasinya sebagai manusia.

===============================================

Sebagian isi dari tulisan ini dikutip dari buku Tambo dan Silsilah Adat Alam Minangkabau yang ditulis oleh B. Datuak Nagari Basa (1962) beserta kutipan dari tulisan-tulisan dan cerita para orang tua

Upacara Batagak Penghulu di Minangkabau

Upacara Batagak Penghulu di Minangkabau

Upacara batagak penghulu di Minangkabau atau mendirikan penghulu secara adat yaitu dengan memperhelatkan atau menjamu anak negeri. Upacara ini diadakan dengan menyembelih kerbau dengan persediaan beras seratus gantang. Sebagaimana dalam kata adat: Kuah dikacau, daging dilapah. Menyembelih kerbau tersebut tidak boleh diganti dengan yang lain seperti diganti dengan sapi atau kambing. Upacara batagak penghulu di Minangkabau dimeriahkan dengan alat upacaranya seperti bunyi-bunyiannya. Gendang dan talempongnya, tabuh dan nobat, tertegak panji dan merawal, serta diiringi letusan bedil dan setinggar.

Upacara batagak penghulu di Minangkabau

Batagak pangulu secara bersama-sama

Demi meringankan biaya dan lebih memeriahkan perhelatan batagak pangulu maka dilakukan secara bersama-sama yaitu menegakan beberapa penghulu sekaligus. Batagak pangulu haruslah hasil dari kesepakatan para ninik mamak dalam selingkungan dinding, batu, dan aur. Kesepakatan ini biasanya akan menghasilkan menjinjing yang ringan dan memikul yang berat. Setiap negeri di Minangkabau didiami oleh beberapa kaum yang keturunannya berasal dari seorang ibu atau sebuah perut namanya. Kepala dari tiap-tiap buah perut itulah yang bernama penghulu andika dan bergelar datuk.

Batagak pangulu atau batagak gala datuak secara bergiliran

Pada sebagian negeri ada yang mengadakan batagak pangulu atau batagak gala datuak dilakukan secara bergiliran. Dari sebuah rumah kerumah lain karena sama-sama berhak, sama-sama sebuah perut. Namun ada juga yang menyimpang atau dalam istilah adatnya: menggunting siba lengan baju, maksudnya batagak pangulu baru karena anak buah yang semakin banyak. Dalam adat minangkabau dinamakan: ayam gadang seekor selesung, berpayung sekaki seorang, bertombak sebatang seorang.

Memakai gelaran penghulu

Memakai gelaran penghulu adapula aturan adatnya, bila penghulu yang lama bergelar Datuk Bagindo maka penghulu penggantinya memakai gelar misalkan, Datuk Bagindo nan Panjang. Bila gelaran penghulu tersebut akan berkembang lagi maka diberi gelaran seperti: Datuk Bagindo nan Kuniang, Datuk Bagindo nan Hitam. Gelaran penghulu yang seperti itu dipakai bila mereka sama-sama berasal dari sebuah perut. Demikianlah mengapa kita sering mendengar gelaran penghulu ini disuatu negeri, karena dahulunya mereka berasal dari satu kaum, sama-sama sebuah perut.

Larangan Seorang Penghulu di Minangkabau

Larangan Seorang Penghulu di Minangkabau

Larangan Seorang Penghulu di Minangkabau adalah merusak keamanan dan kenyamanan kampung. Penghulu dilarang melonjak hilir dan mudik dengan maksud mengacau keamanan dan kesejahteraan dalam kampung. Terlarang juga bagi seorang penghulu yang suka memecah belah dan mengungkit-ungkit masalah yang sudah berlalu. Dalam adat minangkabau sifat penghulu yang seperti itu ibaratnya kambing kena ulat, runding bak sarasah terjun, sifat takabur dalam hati.

Larangan Seorang Penghulu di Minangkabau
Selain larangan seorang penghulu, ada beberapa sifat yang kurang patut dan harus dihindari oleh seorang penghulu, diantaranya:

  • tidak mengenal diri
  • pencupak asam garam orang
  • pembongkar najis dalam lubang
  • penggantang belacan
  • menjunjung diatas kepalanya barang yang sudah berulat dan berbau tengik
  • udang yang tidak tau di bungkuknya, tak ingat tahi dijunjung diatas kepala
  • bak mengemping padi hampa, jangankan padi yang akan didapat abu saja tidak bersua

Itulah sifat yang kurang patut dan harus dihindari oleh seorang penghulu menurut tambo yang tentu saja dengan menggunakan kata-kata kiasan.

Pantangan Seorang Penghulu

Seorang penghulu harus meninggalkan semua sifat-sifat yang menjadi larangan seperti yang sudah diterangkan diatas serta harus menanamkan pada dirinya sifat sidiq dan tabliq. Pantangan seorang penghulu menurut tambo adalah:

  • mengubah lahir dengan batin
  • kata-katanya lalu lalang saja bak membakar rumpun betung
  • suka menepuk dada, dll

Pantangan seorang penghulu menurut tambo tersebut tentu dengan bahasa kias, yang tujuannya untuk menjaga martabat seorang penghulu.

Demikianlah larangan dan pantangan seorang penghulu di Minangkabau menurut tambo.

Balai nan Panjang dan Balai nan Saruang

Balai Nan Panjang terletak atau dibangun di Nagari Tabek Pariangan Tanah Datar, berbentuk seperti rumah gadang dengan tiang sangat banyak. Balai ini terdiri dari 17 ruangan dikenal dengan nama Balai Ruang Sari yang saat ini dijadikan sebagai Situs Kepurbakalaan.

 Balai Nan Panjang

Sebelum Balai ini dibangun, telah ada Balai nan Saruang yang merupakan balai balai tertua di Minangkabau. Kedua balai ini digunakan tempat untuk membuat undang-undang. Di balai ini pemuka adat dan pemuka masyarakat melakukan musyawarah untuk menetapkan ketentuan adat. Tempat memutuskan perkara adat sehingga balai berfungsi sebagai lembaga peradilan adat bagi masyarakat Minangkabau dalam suatu nagari.

Balai Nan Panjang digunakan oleh aliran Bodi Caniago saja. Sedangkan Balai Saruang digunakan oleh kedua aliran, yaitu aliran Bodi Caniago dan aliran Koto Piliang.

Ciri-ciri Balai Nan Panjang

Ciri-cirinya: memiliki lantai datar yang menunjukkan penghulunya tidak bertingkat-tingkat. Falsafahnya “duduak samo randah tagak samo tinggi” (duduk sama rendah berdiri sama tinggi). Aliran Bodi Caniago menggunakan adat Datuak Parpatiah nan Sabatang dengan aturannya “mambasuik dari bumi” (membesut dari bumi) yang artinya keputusan itu timbul dari bawah. Bodi Caniago berarti “budi nan baharago” (budi yang berharga) sehingga setiap keputusan diambil dengan cara musyawarah untuk mencari kata mufakat.

Balai Saruang digunakan untuk merundingkan masalah semasak-masaknya yang dihadiri oleh orang yang benar-benar dipandang sangat penting. Setelah segala sesuatunya diperhitungkan di Balai Saruang maka hasil keputusan itu kemudian dibawa ke Balai Nan Panjang. Balai ini merupakan tempat untuk rapat umum berkumpulnya seluruh unsur masyarakat. Segala sesuatu yang telah diputuskan di Balai Saruang akan disahkan oleh rapat umum di Balai Nan Panjang.

balai na saruang

Ciri-ciri Balai nan Saruang

Balai Saruang memiliki lantai yang berbeda, dimana lantainya bertingkat ujung ke ujung, putus di tengah-tengah yang dinamakan “labuah gajah” yang mencerminkan kepemimpinan Datuak Katumangguangan dengan penghulu lain tidak setingkat. Kedudukan penghulu yang lebih tinggi tingkatannya duduk di atas anjungan, sedangkan penghulu yang lebih rendah tingkatannya duduk menempati lantai yang di tengah-tengah. Aturan aliran Koto Piliang dikenal dengan “titiak dari ateh” (titik dari atas), artinya keputusan terletak di tangan penghulu pucuk.

Datuak Parpatiah nan Sabatang

Datuak Parpatiah nan Sabatang

Datuak Parpatiah nan Sabatang merupakan gelar seorang tokoh legenda yang meletakan dasar sistem pemerintahan di Minangkabau yang berfaham demokrasi (kerakyatan). Dasar peraturan yang disusun oleh Datuk ini adalah “Berurat tunggang membersut dari bumi dengan tata caranya berjenjang naik”. Faham yang bersifat demokrasi atau kerakyatan ini sebab datuak parpatiah dibesarkan ditengah-tengah rakyat dan sering pergi merantau.

Datuak Parpatiah nan Sabatang

Sang datuak saudara se-ibu dengan Datuk Ketemenggungan atau anak Puti Indah Jalito dari dan ayahnya Cati Bilang Pandai. Sedangkan Datuk Ketemenggungan anak dari Puti Indah Jalito yang ayahnya adalah Yang Dipertuan Mahadirajo.

Daerah pemerintahan Datuak Parpatiah nan Sabatang dinamakan “Bodi Caniago” atau berasal dari kata “Budi yang Berharga” dan ingat pula kediaman beliau dibawah pohon BODI. Datuak Parpatiah nan Sabatang menginginkan masyarakat diatur dalam semangat yang demokratis, atau dalam tatanannya dengan falsafah, “Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi”.

Nama kecil Datuak Parpatiah

Menurut sebagian pendapat nama kecil dari sang datuk adalah “Balun” atau Sutan Balun namun ada pula yang mengatakan nama kecilnya adalah Jatang atau Cumatang. Datuak Katumanggungan juga punya nama kecil. Nama kecil Datuak Ketumanggungan yaitu Sutan Rumandung atau Sutan Rumanduang, atau kalau diterjemahkan menjadi Pangeran Matahari.

Dalam sebuah pelayaran Datuak menemui sebuah peti di dekat laut Langkapura. Dalam peti itu terdapat alat-alat pertukangan selengkapnya: pahat, beliung, kapak, dan alat-alat besi. Datuk kemudian kembali ke Pariangan Padangpanjang, kemudian bergelar Datuak Parpatiah nan Sabatang karena beliau mendapat peti dan sebatang pohon.

Batu Batikam

Suatu kali terjadi pertengkaran atau pertikaian faham antara datuak yang berdua sehingga sampai menyentakan keris. Tetapi keris itu tidak sampai ditikamkan kepada lawannya melainkan kepada sebuah batu sebagai melepaskan kemarahan hati sehingga batu itu tembus kena tikam. Itulah “Batu Batikam” yang terdapat di Lima Kaum dipinggir jalan ke Batusangkar.