Select Page
Balai nan Panjang dan Balai nan Saruang

Balai nan Panjang dan Balai nan Saruang

Balai nan Panjang dan Balai nan Saruang

Balai Nan Panjang terletak atau dibangun di Nagari Tabek Pariangan Tanah Datar, berbentuk seperti rumah gadang dengan tiang sangat banyak. Balai Nan Panjang terdiri dari 17 ruangan dikenal dengan nama Balai Ruang Sari yang saat ini dijadikan sebagai Situs Kepurbakalaan.

Sebelum Balai Nan Panjang dibangun telah ada Balai nan Saruang yang merupakan balai balai tertua di Minangkabau. Balai Saruang dan Balai Nan Panjang adalah tempat untuk membuat undang-undang, di balai ini pemuka adat dan pemuka masyarakat melakukan musyawarah untuk menetapkan ketentuan adat. Tempat memutuskan perkara adat sehingga balai berfungsi sebagai lembaga peradilan adat bagi masyarakat Minangkabau dalam suatu nagari.

Balai Nan Panjang digunakan oleh aliran Bodi Caniago saja, sedangkan Balai Saruang digunakan oleh kedua aliran, yaitu aliran Bodi Caniago dan aliran Koto Piliang.

Ciri-ciri Balai nan Saruang

Balai Saruang memiliki lantai yang berbeda dengan Balai Nan Panjang dimana lantainya bertingkat ujung ke ujung, putus di tengah-tengah yang dinamakan “labuah gajah” yang mencerminkan kepemimpinan Datuak Katumangguangan dengan penghulu lain tidak setingkat. Kedudukan penghulu yang lebih tinggi tingkatannya duduk di atas anjungan, sedangkan penghulu yang lebih rendah tingkatannya duduk menempati lantai yang di tengah-tengah. Aturan aliran Koto Piliang dikenal dengan “titiak dari ateh” (titik dari atas), artinya keputusan terletak di tangan penghulu pucuk.

Ciri-ciri Balai Nan Panjang

Balai Nan Panjang memiliki lantai datar yang menunjukkan penghulunya tidak bertingkat-tingkat, falsafahnya “duduak samo randah tagak samo tinggi” (duduk sama rendah berdiri sama tinggi). Aliran Bodi Caniago menggunakan adat Datuak Parpatiah nan Sabatang dengan aturannya “mambasuik dari bumi” (membesut dari bumi) yang artinya keputusan itu timbul dari bawah. Bodi Caniago berarti “budi nan baharago” (budi yang berharga) sehingga setiap keputusan diambil dengan cara musyawarah untuk mencari kata mufakat.

Baca juga: Datuak Parpatiah nan Sabatang

Balai Saruang digunakan untuk merundingkan masalah semasak-masaknya yang dihadiri oleh orang yang benar-benar dipandang sangat penting. Setelah segala sesuatunya diperhitungkan di Balai Saruang maka hasil keputusan itu kemudian dibawa ke Balai Nan Panjang yang merupakan tempat untuk rapat umum berkumpulnya seluruh unsur masyarakat. Segala sesuatu yang telah diputuskan di Balai Saruang akan disahkan oleh rapat umum di Balai Nan Panjang.

Datuak Parpatiah nan Sabatang Legenda Minangkabau Martabat Seorang Penghulu di Minangkabau
Datuak Parpatiah nan Sabatang Legenda Minangkabau

Datuak Parpatiah nan Sabatang Legenda Minangkabau

Datuak Parpatiah nan Sabatang

Datuak Parpatiah nan Sabatang merupakan gelar seorang tokoh legenda yang meletakan dasar sistem pemerintahan di Minangkabau yang berfaham demokrasi (kerakyatan). Dasar peraturan yang disusun oleh Datuk Perpatih nan Sabatang adalah “Berurat tunggang membersut dari bumi dengan tata caranya berjenjang naik”. Faham yang bersifat demokrasi atau kerakyatan ini sebab datuak parpatiah dibesarkan ditengah-tengah rakyat dan sering pergi merantau.

Datuak Parpatiah nan Sabatang saudara se-ibu dengan Datuk Ketemenggungan atau anak Puti Indah Jalito dari dan ayahnya Cati Bilang Pandai. Sedangkan Datuk Ketemenggungan anak dari Puti Indah Jalito yang ayahnya adalah Yang Dipertuan Mahadirajo.

Daerah pemerintahan Datuak Parpatiah nan Sabatang dinamakan “Bodi Caniago” atau berasal dari kata “Budi yang Berharga” dan ingat pula kediaman beliau dibawah pohon BODI. Datuak Parpatiah nan Sabatang menginginkan masyarakat diatur dalam semangat yang demokratis, atau dalam tatanannya dengan falsafah, “Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi”.

Nama kecil Datuak Parpatiah nan Sabatang

Menurut sebagian pendapat nama kecil dari sang datuk adalah “Balun” atau Sutan Balun namun ada pula yang mengatakan nama kecilnya adalah Jatang atau Cumatang. Datuak Katumanggungan juga punya nama kecil. Nama kecil Datuak Ketumanggungan yaitu Sutan Rumandung atau Sutan Rumanduang, atau kalau diterjemahkan menjadi Pangeran Matahari.

Baca juga: Negeri tertua di Minangkabau

Dalam sebuah pelayaran Datuak Parpatiah nan Sabatang menemui sebuah peti di dekat laut Langkapura. Dalam peti itu terdapat alat-alat pertukangan selengkapnya: pahat, beliung, kapak, dan alat-alat besi. Datuk kemudian kembali ke Pariangan Padangpanjang, kemudian bergelar Datuak Parpatiah nan Sabatang karena beliau mendapat peti dan sebatang pohon.

Batu Batikam

Suatu kali terjadi pertengkaran atau pertikaian faham antara Datuk Ketemenggungan dan Datuak Parpatiah nan Sabatang sehingga sampai menyentakan keris. Tetapi keris itu tidak sampai ditikamkan kepada lawannya melainkan kepada sebuah batu sebagai melepaskan kemarahan hati sehingga batu itu tembus kena tikam. Itulah “Batu Batikam” yang terdapat di Lima Kaum dipinggir jalan ke Batusangkar.

4 Sebab Harta Pusaka boleh Digadai Dalam Adat Minangkabau Balai nan Panjang dan Balai nan Saruang
4 Sebab Harta Pusaka boleh Digadai Dalam Adat Minangkabau

4 Sebab Harta Pusaka boleh Digadai Dalam Adat Minangkabau

Apa saja syarat untuk boleh menggadaikan harta pusako tinggi | Seorang mamak yang jadi penghulu hanya bisa menggadaikan harta pusaka tinggi, memperdalam gadai, dan memindahkan gadai tapi tidak pernah menebus gadai akan membuat sengsara anak kemenakan dan kaumnya. Karena harta pusaka tinggi itu haruslah dikembang biakan atau sawah ladang ditambah dengan memegang sawah yang baru, meneruko sawah yang baru, mengembangbiakkan ternak dan usaha-usaha lainnya.

Meskipun demikian adapula masanya harta pusaka boleh digadai untuk kondisi tertentu, diantaranya:

  1. Rumah Gadang ketirisan
  2. Gadis Gadang tidak bersuami
  3. Mayat terbujur ditengah rumah
  4. Menegakkan penghulu

Bila salah satu dari empat perkara itu terjadi, terlebih dahulu harus diatasi dari hasil harta pusaka tersebut dan bila tidak memungkinkan juga barulah boleh menggadaikan harta pusaka. Penghulupun tidak mempunyai hak untuk menggadai harta tanpa bermufakat dengan dengan anak kemenakan. Pepatah Minangkabau menyebutkan “bulat boleh digolongkan, picak boleh dilayangkan”, setelah ada kesepatakan bersama barulah harta pusaka boleh digadaikan.

Baca juga: Balai nan Saruang

Sebelum menggadai atau menjual harta pusaka terlebih dahulu harus dicari jalan keluar yang lain karena sedapat mungkin harta pusaka jangan sampai tergadai. Hal ini sesuai dengan pepatah adat yang berbunyi: “Tak kayu janjang dikeping, tak air talang dipancung, tak emas bungkal diasah”. Demikian kokoh dan tertibnya penjagaan harta pusaka oleh ninik mamak dan seharusnya dipatuhi bersama-sama ketentuan adat tersebut.

Pusaka Ditolong Menurut Tambo Minangkabau

Pusaka Ditolong Menurut Tambo Minangkabau

Pusaka Ditolong

Maksud dari pusaka ditolong dalam Tambo Minangkabau adalah pusaka itu dibesarkan secara turun temurun. Pusaka itu terdiri dari: pusaka tidak berupa yaitu kata pusaka atau gelaran penghulu dan pusaka yang berupa seperti sawah ladang dan lainnya.

Gelaran Penghulu

Sejak awalnya gelaran penghulu ini tidak kunjung pupus tapi berlanjut sampai turun temurun, jawat berjawat, sambut bersambut, walaupun yang memakai gelaran tersebut meninggal dunia tetap dilanjutkan sesuai dengan ranji atau silsilah keturunan yang berhak memakai gelaran itu. Jika keturunan menurut garis ibu pupus atau kemenakannya tidak ada maka dicarikan kemenakan yang lain menurut garis keibuan itu. Seandainya tidak ada sama sekali kemenakan yang akan melanjutkan maka pusaka itu tidak dipergunakan lagi atau dinamakan dengan “pusaka terlipat”.

 

Pusaka terlipat

Pusaka terlipat itu suatu masa dapat pula dikembangkan lagi ini karena sewaktu mamaknya meninggal dunia kemungkinan kemenakan tersebut masih kecil sehingga gelaran tersebut dipahatkan di tiang panjang. Sesudah kemenakan tersebut besar maka gelaran itu dikembangkan lagi dan diresmikan secara tradisi adat. Bila ada kemenakan jauh yang merasa berhak pula memangku gelaran tersebut maka diselesaikan di kerapatan adat dalam nagari. Permasalahat tersebut akan diselesaikan secara adil dan amanah berdasarkan data-data dan fakta yang ada terutama berpedoman kepada ranji atau silsilah yang nyata.

Kedua jenis harta pusaka itu baik harta pusaka berupa maupun pusaka yang tidak berupa wajib dibesarkan oleh anak kemenakannya, gelarannya dijunjung dan dihormati serta harta pusakanya diperbesar dan diperkembangkan. Akan sangat memalukan bila kemenakan menodakan gelaran pusakanya yang demikian mentereng itu.

Demikianlah maksud dari pusaka ditolong dalam Tambo Minangkabau

Sistem Pewarisan di Minangkabau 4 Sebab Harta Pusaka boleh Digadai Dalam Adat Minangkabau
Luhak Agam

Luhak Agam

Luhak Agam

Luhak Agam memakai  adat Koto Piliang yang dahulu pemimpinannya adalah Datuk Bandaro Panjang, berkedudukan di Biaro dan adat Bodi Caniago yang dahulunya dipimpin oleh Datuk Bandaro Kuning tempatnya di Tabek Panjang Baso.

Yang masuk adat Datuk Ketemenggungan adalah 16 Koto yang daerahnya dinamakan juga Ampat Angkat atau empat mereka sama-sama berangkat, didaerah ini tidak ada penghulu yang bergelar pucuk.

Baca juga: Pembagian Alam Minangkabau

Selain dari 16 koto itu semuanya beradat Bodi Caniago atau adat Datuk Perpatih nan Sebatang yang terdiri dari: Kurai, Banuhampu, Lasi, Bukit Batabuh, Kubang Putih, Koto Gadang Ujung-Guguk, Candung, Koto Lawas, Tabek Panjang, Sungai Janih, Cingkaring, Padang Luar, dll. Semua kebesaran dinegeri ini memakai pucuk.

Batas Luhak Agam

Adapun batas Luhak Agam adalah: dari Lada Sula (Kota Baru) sampai ke hilirnya Tinggal (Titi Padang Tarab) tempat aliran air proyek PLTA Batang Agam.

Sebab Harta Turun kepada Kemanakan

Sebab Harta Turun kepada Kemanakan

Sebab Harta Turun kepada Kemanakan

Bermufakatlah Datuk Ketemenggungan dan Datuk Perpatih nan Sebatang untuk mencari daerah-daerah baru karena penduduk semakin ramai. Berangkatlah Datuk Ketemenggungan dengan pengiringnya menuju ke sungai Solok yang bernama “Batang Teranjur”. Disana beliau kawin dengan seorang perempuan dan memiliki dua orang anak, seorang laki-laki dan seorang perempuan. Keturunan anak-anaknya itulah yang kemudian akan menjadi nenek dari Anggun nan Tongga Magek Jabang yang terkenal itu.

Kemenakan saja yang mau berkorban tenaga

Setelah masing-masing mengembara dalam daerah taklukannya kembalilah mereka ke Pariangan Padangpanjang. Tetapi beberapa lama kemudian teringat pula oleh mereka akan merantau lebih jauh yaitu menyewang samudera mulai dari Pariaman sampai ke tanah Aceh. Sekali waktu pelayaran itu kapal mereka kandas disebuah karang karena pasang sedang surut. Dalam kesulitan tersebut hanya kemenakan saja yang mau berkorban tenaga untuk memperbaiki kapal sedang anak-anak mereka hanya berpangku tangan saja.

Berkatalah salah seorang cerdik pandai dalam rombongan tersebut bahwa “Janganlah kita berikan harta pusaka kepada anak-anak melainkan serahkan saja kepada kemenakan”. Ninik mamak yang lain menyetujui usul tersebut sehingga harta pusaka kaum adat turun kepada kemenakan bukan kepada anak.

Demikianlah sebab harta turun kepada kemanakan

Negeri-negeri Tertua di Minangkabau Pembagian Alam Minangkabau