Pilih Laman
Asal Usul Nama Minangkabau

Asal Usul Nama Minangkabau

Asal usul nama Minangkabau dalam mitos rakyat Minangkabau yang diterangkan seperti kisah berikut ini:

Pada suatu masa datanglah rombongan prajurit-prajurit yang dilihat dari gelagatnya hendak berkuasa atau ingin berpengaruh di Minangkabau. Mereka bersenjata lengkap dan prajuritnya terlihat gagah berani. Konon mereka adalah prajurit dari kerajaan Majapahit yang datang dengan memudiki Batang Hari dan menetap di Batu Patah, kemudian mereka berkemah di Bukit Gombak. Barangkali mereka adalah rombongan yang pernah kalah bertaruh tempo hari (baca: Kisah Cati Bilang Pandai). Mungkin maksud kedatangan mereka akan menuntut kekalahannya dengan jalan yang lain, kalau perlu adu kekuatan senjata.

Selain bersenjata mereka rupanya membawa seekor kerbau betina yang sangat besar, tanduknya panjang dan runcing. Utusan mereka datang menghadap kepada Datuk Ketemenggungan, Datuk Perpatih nan Sabatang, Manti, Malim, dan Dubalang serta ninik mamak semuanya, utusan tersebut berkata:

Prajurit dari kerajaan Majapahit

“Wahai datuk yang berdua! Kami datang kemari adalah akan menebusi kekalahan kami tempo hari. Jika kita berperang tentu bencana yang akan datang, akan berjatuhan korban dipihak rakyat yang tidak bersalah. Sebab itu lebih baik kita adu kekuatan saja tetapi bukan antara manusia. Kami ada membawa seekor kerbau yang besar, carikanlah lawan dan kita adu kerbau kita. Jika kami kalah oleh datuk ambilah segala perlengkapan kami, tetapi kalau datuk yang kalah maka negeri ini kami duduki.”

Repotlah kedua datuk itu akan menjawab tantangan dari rombongan prajurit yang datang. Lalu datuk yang berdua minta janji tujuh hari untuk menghadapi tantangan tersebut. Setelah sampai tujuh hari seperti janji datuk nan berdua, berhimpunlah orang ramai penuh sesak di gelanggang tempat akan mengadu kerbau itu, yang bakal menentukan nasib negeri masing-masing.

Asal Usul Nama Minangkabau

Prajurit Majapahit lalu menampilkan seekor kerbau yang sebesar gajah yang melihat kekiri dan kekanan dengan mata merah dan mengebas-ngebaskan tanduknya yang ujungnya runcing ibarat mata keris. Dan manakah lawan kerbau besar itu? Semua mata mencari-cari kerbau orang Minangkabau lawan kerbau besar itu.Akhirnya tampilah lawan kerbau besar itu. baru saja melihat semua orang bersorak dengan riuh rendah dan rombongan dari Majapahit melihat bercampur heran dan tak mengerti. Sebab lawan kerbau itu tak lebih tak kurang hanya seekor anak kerbau kurus yang sedang erat menyusu dan sudah dipuasakan selama beberapa hari. Tetapi pada moncongnya dipasangkan cawang besi bercabang sembilan, enam buah pada tiap-tiap puncaknya.

Kerbau besar Majapahit

Kerbau besar Majapahit sudah menguak-nguak ditengah arena minta lawannya, dan anak kerbau mengoek-ngoek mencari induknya. Anak kerbau itu dipegangkan oleh orang-orang dari dua kelarasan. Banyak rakyat yang kecewa karena untuk melawan kerbau besar itu hanya memajukan anak kerbau yang kurus pula. Orang Majapahit tertawa mengejek, mereka mengira bahwa dalam beberapa saat anak kerbau kurus itu tentu akan hancur luluh ditanduki dan diinjak-injak kerbau besar itu. Kerbau besar itu juga terheran-heran karena sejauh itu dia datang akan bertanding hanya akan dihadapkan kepada lawan yang hanya sebesar induk kambing. Sebab itu ketika anak kerbau itu datang berlari-lari kepadanya tidak dihiraukannya sedikit juga.

Anak kerbau itu mengira bahwa kerbau besar itu induknya, ataupun tidak yang penting dia harus menyusu kepada kerbau itu. Dan dengan serta merta menyelunduplah dia kebawah perut kerbau besar itu untuk menyusu. Sebagaimana lazimnya anak kerbau menyusu kepalanya dilonjak-lonjakkannya kuat-kuat ke perut induknya. Tentu saja besi runcing dimoncongnya menembus-nembus perut kerbau besar itu sehingga tumpahlah darah dan luka-luka perut kerbau besar itu. Larilah kerbau besar keluar lapangan, dia lari terus melewati beberapa tempat yang kemudian mendapat nama dari pelariannya, sijangat, sipurut, dan lain-lain.

Panglima yang datang itu untuk kedua kalinya harus menyingkir dengan rasa malu karena mereka sudah dikalahkan ditengah arena hanya dengan akal bulus saja. Tetapi sebenarnya adalah karena kebijaksanaan penduduk laras yang dua.

Asal Usul Nama Minangkabau

Semenjak itu daerah itu mendapat nama “Minangkabau” yang berasal dari “menang kerbau” atau “minang kabau”. Sebab besi runcing dimulut anak kerbau itu “minang” namanya. Negeri tempat mengadu kerbau itu dinamakan Minangkabau yang masih ada sampai sekarang dekat Batusangkar. Dan sesudah itu pula bentuk-bentuk rumah gadang, lumbung dan beberapa bangunan lainnya dibuat berbentuk tanduk kerbau lambang kemenangan beradu kerbau pada masa itu.

Demikianlah asal usul nama Minangkabau berdasarkan mitos dari cerita rakyat Minangkabau.

 

Kemenakan di Minangkabau

Kemenakan di Minangkabau

Kemenakan di Minangkabau adalah anak dari saudara yang perempuan. Misalnya Datuk Bagindo seorang penghulu dalam kaumnya memiliki saudara Ana dan Ani. Anak-anak dari Ana dan Ani itulah kemenakan Datuk Bagindo. Karena Ana saudara perempuan Datuk Bagindo yang paling tua maka anak laki-laki Ana akan menjadi calon penganti Datuk Bagindo dalam memimpin kaumnya kelak.

Kemenakan di Minangkabau

Kemenakan di Minangkabau

Selain anak dari saudara perempuan, adapula macam kemenakan lainnya yang berlaku sepanjang adat Minangkabau, seperti:

  1. Kemenakan bertali darah, adalah kemenakan-kemenakan yang mempunyai garis keturunan dengan sang mamak. Contohnya seperti Datuak Bagindo yang telah diterangkan diatas. Kemenakan bertali darah mempunyai hak untuk mewarisi gelar pusaka mamaknya dan menggarap harta pusaka untuk kepentingan kaum. Ada kalanya terjadi perebutan sesama kemenakan dalam hal harta pusaka karena semua kemenakan merasa sama-sama mempunyai hak.
  2. Kemenakan bertali akar, dalam istilah adatnya adalah “yang terbang menumpu, hinggap mencekam”. Kemenakan ini adalah dari garis yang sudah jauh atau dari belahan kaum itu yang sudah menetap dikampung lain. Bila penghulu tempat dia menumpu itu sudah punah bolehlah kemenakan ini menggantikan dengan kesepakatan ninik mamak dan keluarga dalam sepayung. Demikian pula kalau ada harta pusaka yang tergadai boleh pula kemenakan ini untuk menebusinya. Namun masalah akan muncul kalau masih ada tunas baru yang merupakan kemenakan bertali darah dari mamak tersebut.
  3. Kemenakan bertali emas, kemenakan golongan ini tak berhak menerima warisan gelar pusaka tetapi mungkin dapat menerima harta warisan jika diwasiatkan kepadanya karena memandang jasa-jasanya atau disebabkan hartanya.
  4. Kemenakan bartali budi, masyarakat minangkabau tidak mengenal istilah “anak angkat” tetapi mereka mengenal kemenakan angkat dengan istilah lain. Pada suatu kali datang satu keluarga dan mengaku mamak kepada seorang penghulu dalam kampung itu dan dia diterima. Dan mereka melakukan tugas seperti kemenakan biasanya. Lazimnya di Minangkabau kepada mereka yang seperti itu diberikan setumpak tanah untuk berkebun, sepiring sawah, sebuah tabek ikan dan beberapa pohon kelapa.
Adat Penghulu di Lintau Buo

Adat Penghulu di Lintau Buo

Adat Penghulu | Lintau termasuk dalam pemerintahan Kabupaten Tanah Datar dan berbatasan dengan Kabupaten Limapuluhkota. Pada zaman penjajahan Belanda dahulu, diperbatasannya terdapat sebuat jembatan yang memiliki atap yang pada kedua sisinya terdapat lukisan. Menghadap ke Limapuluhkota terdapat gambar kambing dan yang menghadap ke Lintau terdapat gambar kucing.

Seperti halnya adat penghulu di Minangkabau, Lintau juga mempunyai “orang yang empat jinih” yaitu: andiko, manti, malin dan dubalang. Gelaran pusaka di Lintau Buo diwarisi oleh rumah-rumah tertentu sehingga terdapat perbedaan dalam bentuk pakaian, kebesaran, bentuk rumah, serta tatacara dalam perhelatan.

Adat penghulu

Bila suatu kaum tidak memiliki keturunan laki-laki yang akan meneruskan gelaran adat maka gelaran tersebut dipahatkan di tiang panjang, atau dinamakan dengan pusaka terlipat. Suatu saat nanti dikembangkan lagi jika sudah ada keturunan laki-laki yang patut memakai gelar adat tersebut. Diadakanlah perhelatan “Batagak Penghulu” dalam kaum tersebut untuk menyatakan bahwa memiliki penghulu yang baru.

Di Lintau Buo panggilan andiko tersebuat adalah datuak, sedangkan panggilan kepada malin adat adalah “angku” atau “tuanku”. Gelar tuanku dipakai ketika terjadi perang padri karena yang memegang tampuk pimpinan adalah orang alim dalam nagari tersebut. Gelaran tuanku itu cukup terhormat dan syarat-syaratnya sama dengan pengangkatan seorang penghulu dengan perhelatan yang cukup besar.

Di Lubuk Jantan yang menjadi kepala atau pucuk adalah Datuk Simarajo dengan gelaran syara’ nya “Tuanku Sutan Ahmad”. Jika ada kerapatan nagari yang memperbincangkan masalah agama maka Tuanku Sutan Ahmad lah yang menjadi ketuanya. Dalam perhelatan ketika diadakan “sambah manyambah” menurut adat tidak dilupakan memanggil kedua gelaran tersebut. Misal: sambah adat kepada “Datuk nan Dua Belas” maka diiringi dengan “Tuanku nan Dua Belas”.

Alat Musik Minangkabau

Alat Musik Minangkabau

Alat Musik Minangkabau | Musik yang berkembang di minangkabau sebagian dipengaruhi oleh musik Melayu berakar dari Qasidah yang berasal sebagai kedatangan dan penyebaran Agama Islam di Nusantara pada tahun 635 – 1600 dari Arab, Gujarat dan Persia. Musik tradisional Minangkabau ditandai dengan gaya atau rentak Minang dan alat musik tradisional minang. Alat musik tradisional minang terdiri dari: Saluang, Aguang, Gondang, Rebana, Serunai, Talempong, Rabab, Bansi.

Alat Musik Minangkabau

Macam-macam Alat Musik Minangkabau

Saluang (Seruling)

Seruling di daerah minangkabau dinamakan “saluang”, merupakan alat musik tiup yang terbuat dari bambu tipis atau talang. Orang Minangkabau percaya bahwa bahan yang paling bagus untuk dibuat saluang berasal dari talang untuk jemuran kain atau talang yang ditemukan hanyut di sungai. Saluang termasuk dalam golongan alat musik suling, namun hanya ada empat lubang. Panjang saluang kira-kira 40-60 cm, dengan diameter 3-4 cm. Alat musik minangkabau ini menghasilkan nada dengan cara ditiup pada sudut tepi atau rongga bagian atasnya. Sehingga sesuai dengan prinsip fisika akustik, tiupan yang keluar dari mulut akan menggetarkan dinding bagian dalam saluang sedemikian rupa menghasilkan bunyi. Saluang distel dengan diberi beberapa lubang biasanya ada 4 lubang. Dengan begitu saluang dapat menghasilkan frekuensi nada-nada diatonis. Ini juga salah satu ciri khas alat musik tradisional minangkabau ini. Pemain saluang legendaris bernama Idris Sutan Sati dengan penyanyinya Syamsimar.

Bansi (Suling Minang)

Bansi merupakan alat musik tradisional minangkabau seperti suling dengan 7 lubang (seperti rekorder), berbentuk pendek, dan dapat memainkan lagu-lagu tradisional maupun modern karena memiliki nada standar (diatonik). Ukuran Bansi adalah sekitar 33,5 – 36 cm dengan garis tengah antara 2,5—3 cm. Bansi juga terbuat dari talang (bambu tipis) atau sariak (sejenis bambu kecil yang tipis). Alat musik minangkabau ini agak sulit memainkan, selain panjang yang susah terjangkau jari, juga cara meniupnya susah.

Pupuik Batang Padi

Alat musik tradisional ini dibuat dari batang padi. Pada ujung ruas batang dibuat lidah, jika ditiup akan menghasilkan celah, sehingga menimbulkan bunyi. Sedangkan pada ujungnya dililit dengan daun kelapa yang menyerupai terompet. Bunyinya melengking dan nada dihasilkan melalui permainan jari pada lilitan daun kelapa. Sekarang pada menjelang tahun baru ada terompet tahun baru yang mirip dengan alat musik ini, bedanya sekarang memakai plastik dan corong memakai karton, dan diberi warna warni emas.

Sarunai (Klarinet Minang)

Serunai, berasal dari kata Shehnai yaitu alat musik di lembah Kashmir India, terdiri dari dua potong bambu yang tidak sama besarnya; sepotong yang kecil dapat masuk ke potongan yang lebih besar; dengan fungsi sebagai penghasil nada. Alat musik ini memiliki empat lubang nada, yang akan menghasilkan bunyi melodius. Alat ini sudah jarang yang menggunakan, di samping juga sulit membuatnya, nada yang dihasilkan juga tidak banyak terpakai.

Pupuik Tanduak

Alat musik tradisional minangkabau ini dibuat dari tanduk kerbau (hoorn), dan bagian ujung dipotong datar untuk meniup. Bentuknya mengkilat dan hitam bersih. Tidak berfungsi sebagai alat pengiring nyanyi atau tari, jadi sebagai peluit, tanpa lubang, sehingga hanya nada tunggal. Dahulu digunakan untuk aba-aba pada masyarakat misalnya pemberitahuan saat subuh dan magrib atau ada pengumuman dari pemuka kampung. Dahulu tanduk dipakai oleh kapal layar besar sebagai tanda atau komando kepada awak kapal, sedangkan orang Arab pakai bedug dan orang Eropa pakai lonceng maupun tanduk, dan dulu kereta api uap pakai lonceng kalau lewat keramaian.

Talempong (Bonang Minang)

Di Jawa disebut Bonang yaitu berbentuk gong kecil yang diletakkan datar, dan terbuat dari kuningan, namun juga ada yang terbuat dari kayu dan batu. membunyikannya dengan pukulan kayu. Biasanya alat musik minang ini dipakai mengiringi Tari Piring, di mana penari membunyikan piring dengan cicin, dan saling bersautan. Usunan nada adalah dimulai dengan Do dan diakhiri dengan Si. Cara memainkan seperti marimba atau kempul dengan nada ganda (tangan kiri dan kanan).

Rabab (Rebab Minang)

Rabab berasal dari Arab sebagai Rebab, juga terdapat wilayah lain seperti Deli, Sunda, Jawa, dll. Rabab Minang sangat unik, selain digesek juga adanya membran suara di bawah bridge, sehingga mempunyai efek lain (suara serak). Sifat unik ini menyebabkan cara menggesek juga sulit. badan Rabab ini terbuat dari batok kelapa (Cocos nucifera)

Aguang (Gong Minang)
Istilah gong dalam bahasa Minang adalah aguang, bentuknya sama dengan yang ada di daerah lain, seperti di Melayu, Sunda, Jawa, dll. Gong biasanya bersifat pukulan ke satu, ke tiga, atau penutup, sedangkan gong kecil pada pukulan ke dua dan ke empat. Kemudian juga ada variasi sesuai dengan rentaknya.

Gandang (Gendang Minang)
Istilah gendang dalam bahasa Minang adalah gandang (dalam bahasa Karo Batak gondang), bentuknya sama dengan yang ada di daerah lain, seperti di Melayu, Batak, Sunda, Jawa, dll. Cara memainkan adalah sama juga, yaitu sisi lingkaran kecil di sebelah kiri dan yang lebih besar ada di sebelah kanan. Namun cara memukul antara masing-masing daerah sangat berbeda, yaitu di Minang tergantung dari jenis rentak lagu. Gandang Tasa adalah kesenian tradisional permainan gendang yang populer di Kabupaten Padang Pariaman.

Biola (Biola Minang)
Alat musik biola kemudian juga menjadi alat musik tradisional minangkabau dengan beberapa modifikasi sesuai dengan tradisional minang: rabala dan rabab darek. Rabab Pesisir Selatan (Rabab Pasisia) adalah salah satu permainan rabab yang terkenal di Sumatra Barat dengan pemain rababnya yang terkenal adalah Hasan Basri.

Bahasa Minangkabau

Bahasa Minangkabau

Bahasa Minangkabau yang digunakan masyarakat minangkabau dan daerah yang banyak terdapat penduduk etnis minang termasuk salah satu anak cabang rumpun bahasa Austronesia. Walaupun terdapat perbedaan pendapat, sebagian ahli berpendapat yang dituturkan etnis ini sebagai berasal dari dialek Melayu. Ini karena adanya kesamaan kosakata dan bentuk tuturan di dalamnya. Sementara yang lain justru beranggapan berbeda dengan Melayu serta merupakan Proto-Melayu. Selain itu dalam masyarakat penuturnya sendiri juga sudah terdapat berbagai macam dialek dan langgam bergantung kepada daerahnya masing-masing.

Pengaruh bahasa lain

Pengaruh lain yang diserap ke dalam bahasa ini umumnya dari Sanskerta, Arab, Tamil, dan Persia. Kemudian kosakata Sanskerta dan Tamil yang dijumpai pada beberapa prasasti di Minangkabau. Prasasti ditulis menggunakan bermacam aksara di antaranya Dewanagari, Pallawa, dan Kawi. Menguatnya Islam yang diterima secara luas juga mendorong masyarakatnya menggunakan Abjad Jawi dalam penulisan sebelum berganti dengan Alfabet Latin.

bahasa minangkabau

Meskipun memiliki bahasa sendiri, orang Minang juga menggunakan bahasa Melayu dan kemudian bahasa Indonesia secara meluas. Historiografi tradisional orang Minang, Tambo Minangkabau, ditulis dalam bahasa Melayu dan merupakan bagian sastra Melayu atau sastra Indonesia lama. Suku Minangkabau menolak penggunaan bahasa daerahnya untuk keperluan pengajaran di sekolah-sekolah. Bahasa Melayu yang dipengaruhi baik secara tata bahasa maupun kosakata oleh bahasa Arab telah digunakan untuk pengajaran agama Islam. Pidato di sekolah agama juga menggunakan bahasa Melayu. Pada awal abad ke-20 sekolah Melayu yang didirikan pemerintah Hindia Belanda di wilayah Minangkabau mengajarkan ragam bahasa Melayu Riau. Bahasa ini dianggap sebagai standar dan juga digunakan di wilayah Johor, Malaysia. Namun kenyataannya yang digunakan oleh sekolah-sekolah Belanda ini adalah ragam yang terpengaruh oleh bahasa Minang.

Guru-guru dan penulis Sumatera Barat berperan penting dalam pembinaan bahasa Melayu Tinggi. Banyak guru-guru bahasa Melayu berasal dari Minangkabau, dan sekolah di Bukittinggi merupakan salah satu pusat pembentukan bahasa Melayu formal. Dalam masa diterimanya bahasa Melayu Balai Pustaka, orang-orang Minang menjadi percaya bahwa mereka adalah penjaga kemurnian bahasa melayu yang kemudian menjadi bahasa Indonesia itu.

Pakaian Adat Penghulu Minangkabau

Pakaian Adat Penghulu Minangkabau

Pakaian Adat Penghulu Minangkabau | Sebagai orang yang memiliki kedudukan didalam adat, datuk memiliki pakaian kebesaran. Terdapat perbedaan dan ciri khas masing-masing negeri di minangkabau dalam hal pakaian adat penghulu maupun pakaian bundo kanduang. Namun dalam segi warna tetaplah serba hitam. Pakaian kaum syara’ serba putih, manti perpakaian ungu dan dubalang serba merah. Warna-warna tersebut mempunyai lambang dan arti sepanjang adat.

Pakaian Adat Penghulu di Minangkabau

Pakaian penghulu atau datuk di minangkabau serba hitam, baju hitam, celana hitam, saluk atau destar hitam. Baju penghulu berwarna hitam sebagai lambang kepemimpinan. Hitam tahan tapo, putiah tahan sasah (hitam tahan tempa, putih tahan cuci). Dengan arti kata umpat dan puji hal yang harus diterima oleh seorang pemimpin. Dengan bahasa kiasan mengenai baju ini dikatakan “baju hitam gadang langan, langan tasenseng bukan dek bangih, pangipeh angek nak nyo dingin, pahampeh gabuek nak nyo habih (baju hitam besar lengan, lengan tersinsing bukan karena marah, pengipas hangat supaya dingin, pengipas debu supaya habis).

Penghulu mempunyai peci khusus yaitu kopiah beludru hitam yang dililit dengan kain berkerut hitam yang tidak boleh sembarang orang memakainya.Pakaian penghulu di minangkabau memiliki arti dan terdapat ukiran yang terbuat dari benang emas.

Saluk yang berkeluk-keluk itu sampai pada bagiannya yang terkecil mempunyai artinya tersendiri yang mencakup gelaran kepenghuluan. Selain itu seorang penghulu memakai keris dan tongkat yang semuanya juga mempunyai kiasan yang dalam menurut undang-undang adat. Keris seorang penghulu Minangkabau disisipkan pada dibagian depan. Berbeda dengan suku jawa yang menyisipkan keris pada bagian belakang.