Pilih Laman

Apa Saja Syarat Untuk Boleh Menggadaikan Harta Pusako Tinggi

Apa Saja Syarat Untuk Boleh Menggadaikan Harta Pusako Tinggi | Seorang mamak yang jadi penghulu hanya bisa menggadaikan harta pusaka tinggi, memperdalam gadai, dan memindahkan gadai tapi tidak pernah menebus gadai akan membuat sengsara anak kemenakan dan kaumnya. Karena harta pusaka tinggi itu haruslah dikembang biakan atau sawah ladang ditambah dengan memegang sawah yang baru, meneruko sawah yang baru, mengembangbiakkan ternak dan usaha-usaha lainnya.

apa saja syarat untuk boleh menggadaikan harta pusako tinggi

Apa Saja Syarat Untuk Boleh Menggadaikan Harta Pusako Tinggi?

  1. Rumah Gadang ketirisan
  2. Gadis Gadang tidak bersuami
  3. Mayat terbujur ditengah rumah
  4. Menegakkan penghulu

Bila salah satu dari empat perkara itu terjadi, terlebih dahulu harus diatasi dari hasil harta pusaka tersebut dan bila tidak memungkinkan juga barulah boleh menggadaikan harta pusaka. Penghulupun tidak mempunyai hak untuk menggadai harta tanpa bermufakat dengan dengan anak kemenakan. Pepatah Minangkabau menyebutkan “bulat boleh digolongkan, picak boleh dilayangkan”, setelah ada kesepatakan bersama barulah harta pusaka boleh digadaikan.

Baca juga: Balai nan Saruang

Sebelum menggadai atau menjual harta pusaka terlebih dahulu harus dicari jalan keluar yang lain karena sedapat mungkin harta pusaka jangan sampai tergadai. Hal ini sesuai dengan pepatah adat yang berbunyi: “Tak kayu janjang dikeping, tak air talang dipancung, tak emas bungkal diasah”. Demikian kokoh dan tertibnya penjagaan harta pusaka oleh ninik mamak dan seharusnya dipatuhi bersama-sama ketentuan adat tersebut.

Pusaka Ditolong di Minangkabau

Pusaka ditolong dalam Tambo Minangkabau maksudnya adalah pusaka itu dibesarkan secara turun temurun. Pusaka itu terdiri dari: pusaka tidak berupa yaitu kata pusaka atau gelaran penghulu dan pusaka yang berupa seperti sawah ladang dan lainnya.

Pusaka ditolong

Gelaran Penghulu

Sejak awalnya gelaran penghulu ini tidak kunjung pupus tapi berlanjut sampai turun temurun, jawat berjawat, sambut bersambut. Walaupun yang memakai gelaran tersebut meninggal dunia tetap dilanjutkan. Sesuai dengan ranji atau silsilah keturunan yang berhak memakai gelaran itu. Jika keturunan menurut garis ibu pupus atau kemenakannya tidak ada maka dicarikan kemenakan yang lain menurut garis keibuan itu. Seandainya tidak ada sama sekali kemenakan yang akan melanjutkan maka pusaka itu tidak dipergunakan lagi atau dinamakan dengan “pusaka terlipat”.

Baca juga: Batagak penghulu di Minangkabau

Pusaka terlipat

Pusaka terlipat itu suatu masa dapat pula dikembangkan lagi ini karena sewaktu mamaknya meninggal dunia kemungkinan kemenakan tersebut masih kecil sehingga gelaran tersebut dipahatkan di tiang panjang. Sesudah kemenakan tersebut besar maka gelaran itu dikembangkan lagi dan diresmikan secara tradisi adat. Bila ada kemenakan jauh yang merasa berhak pula memangku gelaran tersebut maka diselesaikan di kerapatan adat dalam nagari. Permasalahat tersebut akan diselesaikan secara adil dan amanah berdasarkan data-data dan fakta yang ada terutama berpedoman kepada ranji atau silsilah yang nyata.

Kedua jenis harta pusaka itu baik harta pusaka berupa maupun pusaka yang tidak berupa wajib dibesarkan oleh anak kemenakannya, gelarannya dijunjung dan dihormati serta harta pusakanya diperbesar dan diperkembangkan. Akan sangat memalukan bila kemenakan menodakan gelaran pusakanya yang demikian mentereng itu.

Demikianlah maksud dari pusaka ditolong dalam Tambo Minangkabau

Sistem Pewarisan di Minangkabau

Sistem Pewarisan di Minangkabau

Sistem Pewarisan di Minangkabau | Waris merupakan suatu barang yang ditinggalkan oleh seorang yang telah meninggal dunia kepada ahli warisnya. Warisan tersebut baik berupa harta pusaka tinggi, harta pusaka rendah maupun gelaran adat.

Menjawat Waris

Seseorang yang menerima kata-kata atau amanah dari orang lain atau mamaknya sendiri belum tentu “menjawat waris”. Namanya menjawat tutur atau menjawat kata, karena menjawat waris itu betul-betul waris penghulu yang dijawat. Orang yang menjawat waris ini “sako” atau turunan namanya. Dalam sistem pewarisan di Minangkabau yang menjawat waris ini adalah keturunan dari ibu karena Minangkabau berbentuk matriarchaat. Jadi anak dari garis ibu yang menjadi ahli waris atau kemenakan di Minangkabau.

Jenis Harta Pusaka

Jika seorang penghulu meninggal dunia maka kemenakannya yang akan menjawat gelarannya dan menguasai harta pusaka dalam kaumnya. Kemenakan tersebut adalah anak laki-laki dari saudara perempuannya yang tertua. Namun bukan berarti dia leluasa berbuat dengan harta pusaka itu sebab ada ketentuan-ketentuannya. Menurut adat Minangkabau harta itu ada pula jenis-jenisnya: harta pusaka tinggi, harta pusaka rendah, harta pencaharian, harta surang, dan harta serikat.

Sistem Pewarisan di Minangkabau

Menurut adat di Minangkabau seorang anak yang ayahnya seorang penghulu tidak pula berhampa tangan dari pusaka ayahnya yang jadi penghulu itu. Anak tersebut boleh menerima harta pusaka dengan syarat-syarat tertentu yang bernama hibah.

Watak Penghulu Adat di Minangkabau

Penghulu Adat Minangkabau

Watak Penghulu Adat di Minangkabau | Kampung demi kampung sudah berdiri, koto demi koto dibangun terus, ninik mamak yang bertiga tersebut bermufakat memohonkan kebesaran dan kemuliaan dalam negeri. Cupak dikukur, gantang dibilai, lembaga dituang, pakaian dikenakan, dan setiap negeri-negeri dibangun penghulu-penghulu yang akan menjadi pemimpin dan wakil Yang Dipertuan. Ada mereka yang berempat sekoto, berlima, bertujuh, delapan dan sebagainya sesuai dengan banyak mereka. Penghulu-penghuli tersebut dibangun dengan kesepakatan penduduk dalam negeri baik laki-laki dan perempuan.

Mendirikan penghulu

Didirikan lembaga dalam negeri dan barang siapa yang di khalifah atau penghulu haruslah dia mengisi baik laki-laki maupun perempuan. Dan menjadi umumlah dalam kata pepatah adat: kuah dikacau, daging dilapah. Artinya penghulu yang didirikan itu harus menjamu seisi negeri dengan menyembelih kerbau. Dan tentu banyak pula syarat dan rukunnya menjadi penghulu itu sebab dia akan menjadi pemimpin. Pedoman yang digunakan adalah kalimah dalam kitab suci: “Ikutlah oleh kamu Allah dan Rasul dan orang yang mempunyai pekerjaan dari pada kamu”.

Baca juga: Larangan seorang penghulu di Minangkabau

Demikian pula raja-raja dan segala penghulu yang berwibawa mempunyai syarat-syarat tertentu untuk memenuhi undang-undang sembilan pucuk sebagai undang-undang dasarnya. Kemudian bertambah luas daerah kediaman yang kemudian dinamakan “Alam Minangkabau”.

Watak Penghulu

Maka penghulu-penghulu yang akan memegang pimpinan dalam negeri itu dengan watak dan sepak terjangnya dibagi kepada empat jenis:

  1. Penghulu
  2. Pengalah
  3. Pengaluh
  4. Pengalar

Penghulu yang sebenarnya sudah jelas adalah yang memerintah dan memimpin kaumnya untuk kesejahteraan didunia dan akhirat. Tingkah lakunya seperti seorang nabi, kasih sayang kepada kaumnya dan adil dalam menetapkan hukum. Pengalah adalah penghulu yang jika benar sekalipun disalahkan juga. Pengaluh adalah penghulu yang mengikuti kata orang saja. Pengalar yaitu penghulu yang tidak takut menyalahi janji sesama kaum Islam.

Jadi watak penghulu yang sebenarnya adalah kuat memegang hadis dan dalil, yang menyuruh orang berbuat baik, dan melarang brbuat jahat. Wajib bagi penghulu menguatkan ketentuan ini dan membuat sukatan yang betul tahil yang bersamaan dalam negeri tempat kediamannya.

Baca juga: Batagak pangulu di Minangkabau