Select Page
Sistem Pemerintahan Minangkabau

Sistem Pemerintahan Minangkabau

Sistem Pemerintahan Minangkabau

Sistem Pemerintahan Minangkabau yang Pertama Sekali dijalankan oleh Datuk Maharadjo Diradjo dengan kekuasaan yang dipegangnya secara mutlak. Kekuasaan penuh dan berdasarkan pertimbangan Maharadjo Diradjo, di dalam tambo Alam Minangkabau disebut dalam pepatah: “undang-undang simumbang jatuah”, maksudnya, undang-undang yang mutlak dipatuhi, karena tak boleh dibanding/diprotes dan tak ada kata ampun, wajib harus dituruti.

Undang-undang tersebut berlaku kepada keturunan Datuk Maharadjo Diradjo. Akibatnya, banyak rakyat yang harus menerima hukuman karena perbuatan yang belum tentu salah sama sekali. Hak asasi manusia tidak berlaku sepenuhnya di zaman ini (aturan pertama).

Sistem pemerintahan Minangkabau dibidang ekonomi

Di bidang ekonomi (aturan kedua atau undang-undang si gamak-gamak), segala lapangan pekerjaan untuk penghidupan dikuasai oleh kecerdasan dan kepandaian serta kemampuan masing-masing. Dimasa ini orang hidup sendiri-sendiri, tak menghiraukan kehidupan orang lain.

Sistem pemerintahan Minangkabau dibidang sosial

Dalam kehidupan sosial (aturan kedua atau si lamo-lamo), penghargaan pada perbuatan baik tidak akan mendapat ungkapan terima kasih, sebab orang yang memiliki sikap yang baik dan terpuji tidak akan berani menghadapi orang yang dianggap terpandang, karena yang menyandang status terpandang akan dianggap sebagai orang yang berani, sedangkan orang yang tidak terpandang di tengah masyarakat akan merasa jadi penakut.

Sistem pemerintahan Minangkabau setelah wafatnya Maharadjo Diradjo

Setelah wafatnya Maharadjo Diradjo, pemerintahan dilanjutkan oleh keturunannya yaitu Suri Diradjo. Beliau melakukan perubahan aturan, sesuai dengan ungkapan pepatah; “sakali gadang balega, sakali adat barubah”. Maksudnya, setelah cukup umur dan patut, maka diangkat atau diresmikan, kemudian sekalian dengan adanya perubahan adat atau aturan.

Undang-undang Tarik Balas

Setelah kekuasaan dipegang oleh Datuak Suridiradjo, undang-undang yang diterapkan adalah undang-undang Tarik Balas yang bertujuan agar sesuatu kejahatan atau kesalahan seseorang akan mendapat balasan setara atau setimpal dengan apa yang telah diperbuatnya. Jika seseorang membunuh, maka hukuman yang pantas diterimanya adalah dibunuh juga. Dalam urusan utang piutang, apa yang dipinjam harus sesuai bentuk pengembalian sama seperti barang atau materi yang dipinjam, tidak boleh diganti dengan bentuk lain. Sesuai dengan pepatah: “utang ameh baia jo ameh, utang nyao baia jo nyao, utang padi baia jo padi, utang kato baia jo kato” atau utang emas bayar dengan emas, utang nyawa bayar dengan nyawa, utang padi bayar dengan padi, utang kata bayar dengan kata. Perubahan undang-undang ini membawa perubahan dalam masyarakat. Sebelumnya, undang-undang yang dipakai tidak kenal kata ampun dan kasihan.

Undang-undang Tarik Balas diterima dengan baik oleh masyarakat pada waktu itu. Undang-undang terus dilanjutkan oleh keturunan Datuk Suridiradjo yaitu oleh Datuk Seri Mahardjo nan Banego-nego, kemudian oleh anaknya Datuk Maharadjo Basa. Undang-undang tersebut berjalan lancar karena masyarakat boleh mempertahankan kebenaran sebagai hak asasinya sebagai manusia.

===============================================

Sebagian isi dari tulisan ini dikutip dari buku Tambo dan Silsilah Adat Alam Minangkabau yang ditulis oleh B. Datuak Nagari Basa (1962) beserta kutipan dari tulisan-tulisan dan cerita para orang tua

Batagak Pangulu di Alam Minangkabau Candi di Minangkabau
Batagak Pangulu di Alam Minangkabau

Batagak Pangulu di Alam Minangkabau

Batagak Penghulu di Alam Minangkabau | Batagak pangulu atau mendirikan penghulu secara adat yaitu dengan memperhelatkan atau menjamu anak negeri dengan menyembelih kerbau dengan persediaan beras seratus gantang. Sebagaimana dalam kata adat: Kuah dikacau, daging dilapah. Menyembelih kerbau tersebut tidak boleh diganti dengan yang lain seperti diganti dengan sapi atau kambing. Upacara batagak pangulu dimeriahkan dengan alat upacaranya seperti bunyi-bunyiannya, gendang dan talempongnya, tabuh dan nobat, tertegak panji dan merawal, serta diiringi letusan bedil dan setinggar.

 

Batagak pangulu secara bersama-sama

Demi meringankan biaya dan lebih memeriahkan perhelatan batagak pangulu maka dilakukan secara bersama-sama yaitu menegakan beberapa penghulu sekaligus. Batagak pangulu haruslah hasil dari kesepakatan para ninik mamak dalam selingkungan dinding, selingkungan batu, kemudian selingkungan aur, yang biasanya akan menghasilkan menjinjing yang ringan dan memikul yang berat.

Setiap negeri di Minangkabau didiami oleh beberapa kaum yang keturunannya berasal dari seorang ibu atau sebuah perut namanya. Kepala dari tiap-tiap buah perut itulah yang bernama penghulu andika dan bergelar datuk.

 

Batagak pangulu atau batagak gala datuak secara bergiliran

Pada sebagian negeri ada yang mengadakan batagak pangulu atau batagak gala datuak dilakukan secara bergiliran dari sebuah rumah kerumah lain karena sama-sama berhak, sama-sama sebuah perut. Namun ada juga yang menyimpang atau dalam istilah adatnya: menggunting siba lengan baju, maksudnya batagak pangulu baru karena anak buah yang semakin banyak. Dalam adat minangkabau dinamakan: ayam gadang seekor selesung, berpayung sekaki seorang, bertombak sebatang seorang.

Memakai gelaran penghulu

Memakai gelaran penghulu adapula aturan adatnya, bila penghulu yang lama bergelar Datuk Bagindo maka penghulu penggantinya memakai gelar misalkan, Datuk Bagindo nan Panjang. Bila gelaran penghulu tersebut akan berkembang lagi maka diberi gelaran seperti: Datuk Bagindo nan Kuniang, Datuk Bagindo nan Hitam. Gelaran penghulu yang seperti itu dipakai bila mereka sama-sama berasal dari sebuah perut. Demikianlah mengapa kita sering mendengar gelaran penghulu ini disuatu negeri, karena dahulunya mereka berasal dari satu kaum, sama-sama sebuah perut.

Kebesaran Gelaran Penghulu di Minangkabau Sistem Pemerintahan Minangkabau
Kebesaran Gelaran Penghulu di Minangkabau

Kebesaran Gelaran Penghulu di Minangkabau

Kebesaran Penghulu atau Gelaran Penghulu

Sebagai lazimnya bahwa kebesaran penghulu itu tingginya dianjung, gedangnya dilambuk, yang mempunyai banyak sekali syarat-syarat untuk menjadi seorang penghulu dan tidak ringan. Penghulu itu dapat diibaratkan dengan “kayu gadang di tengah padang”, tempat berteduh ketika kehujanan, tempat berlindung dari kepanasan, batangnya tempat bersandar, uratnya tempat bersela.

Penghulu itu haruslah mempunyai sifat sabar, lurus dan benar, pengasih dan penyayang, serta mempunyai ilmu seperti tukang yang ahli dan cukup sempurna kepintarannya. Penghulu tersebut harus ber-alam lebar, berpadang lapang, jauh dari perangai buruk, iri dan dengki, jauh dari pada dendam kesumat, serta menjauhkan larangan adat: memerahkan muka ditengah rapat, menyingsingkan lengan baju, menghardik menghantam tanah, berlari dan menjunjung yang berat-berat, serta mengail ditebat panjang atau sungai.

Waktu membangun gelaran penghulu

Gelaran penghulu yang turun temurun tersebut mempunyai waktu untuk membangunnya, diantaranya:

  1. Gelaran penghulu itu dibangun sewaktu tanah tersirah, maksudnya bila meninggal penghulu yang lama sudah ada yang akan menggantikannya atau istilahnya “patah tumbuh, hilang berganti”. Jadi sewaktu jenazah penghulu yang lama akan dikuburkan lalu diumumkan penggantinya, dan peresmian kebesaran penghulu menyusul dikemudian hari.
  2. Mati bertongkat budi, yaitu menyerahkan gelaran penghulu kepada calon yang sudah ditentukan karena penghulu yang lama sudah tua dan tidak sanggup lagi melaksanakan tugasnya dengan baik.
  3. Hidup berkerelaan, atau gelaran penghulu berganti di masa masih hidup. Gelaran penghulu diserahkan karena sudah uzur atau sedang menunaikan tugas kenegeri yang jauh dan belum jelas kapan selesai dan kembali kekampungnya. Ada juga terjadi gelaran penghulu itu tidak berkerelaan tapi dibawanya sampai mati keliang lahat, takut harta pusakanya akan dihabiskan.
  4. Membangkit atau membangun sako yang sudah terlipat atau dalam istilah adatnya: membangkit batang terandam. Mungkin saja sewaktu penghulu tersebut meninggal dunia, yang akan melanjutkan gelaran penghulu nya belum cukup umur atau masih kurang kecakapannya. Bila calonnya sudah siap untuk melanjutkan gelaran penghulu tersebut maka pusaka yang terlipat tadi dikembangkan kembali. Tentu saja mengembangkan pusaka yang terlipat atau membangun kembali kebesaran penghulu itu harus sesuai dengan tatacara dan upacara adat yang berlaku di alam Minangkabau.
Pantangan Seorang Penghulu di Minangkabau Batagak Pangulu di Alam Minangkabau
Pantangan Seorang Penghulu di Minangkabau

Pantangan Seorang Penghulu di Minangkabau

Penghulu sebagai seorang pemimpin bagi kaum dalam nagarinya atau wakil raja dalam suatu koto tentulah mempunyai pantangan dan larangan yang tidak boleh dilanggar. Larangan dan pantangan seorang penghulu di Minangkabau tersebut untuk menjaga martabat seorang penghulu dan menjamin keamanan nagari yang dipimpinnya.

Larangan Seorang Penghulu

Menurut Tambo Alam Minangkabau, larangan seorang penghulu adalah merusak keamanan dan kenyamanan kampung. Penghulu dilarang melonjak hilir dan mudik dengan maksud mengacau keamanan dan kesejahteraan dalam kampung. Terlarang juga bagi seorang penghulu yang suka memecah belah dan mengungkit-ungkit masalah yang sudah berlalu. Dalam adat minangkabau sifat penghulu yang seperti itu ibaratnya kambing kena ulat, runding bak sarasah terjun, sifat takabur dalam hati.

Selain larangan seorang penghulu, ada beberapa sifat yang kurang patut dan harus dihindari oleh seorang penghulu, diantaranya:

  • tidak mengenal diri
  • pencupak asam garam orang
  • pembongkar najis dalam lubang
  • penggantang belacan
  • menjunjung diatas kepalanya barang yang sudah berulat dan berbau tengik
  • udang yang tidak tau di bungkuknya, tak ingat tahi dijunjung diatas kepala
  • bak mengemping padi hampa, jangankan padi yang akan didapat abu saja tidak bersua

Itulah sifat yang kurang patut dan harus dihindari oleh seorang penghulu menurut tambo yang tentu saja dengan menggunakan kata-kata kiasan.

Pantangan Seorang Penghulu

Seorang penghulu harus meninggalkan semua sifat-sifat yang menjadi larangan seperti yang sudah diterangkan diatas serta harus menanamkan pada dirinya sifat sidiq dan tabliq. Pantangan seorang penghulu menurut tambo adalah:

  • mengubah lahir dengan batin
  • kata-katanya lalu lalang saja bak membakar rumpun betung
  • suka menepuk dada, dll

Pantangan seorang penghulu menurut tambo tersebut tentu dengan bahasa kias, yang tujuannya untuk menjaga martabat seorang penghulu.

Demikianlah larangan dan pantangan seorang penghulu di Minangkabau menurut tambo.

Martabat Seorang Penghulu di Minangkabau Kebesaran Gelaran Penghulu di Minangkabau
Martabat Seorang Penghulu di Minangkabau

Martabat Seorang Penghulu di Minangkabau

Martabat Penghulu Minangkabau

Penghulu Minangkabau dibangun disetiap koto sebagai wakil raja yang akan menegakkan hukum, memegang adat dan peraturan yang sebenar-benarnya dalam alam minangkabau. Penghulu haruslah mengajak orang kepada jalan kebaikan dan melarang kepada jalan yang salah. Penghulu yang benar-benar menjalankan fungsi dan tugasnya akan menyelamatkan negeri dan membuat keamanan dalam negeri.

 Penghulu tersebut sepanjang adat Minangkabau bergelar seorang “datuk” karena dia tinggi dianjung, gadang di-amba dan terjadi karena kata mufakat.

Martabat seorang penghulu minangkabau terdiri dari 6 perkara:

  1. Berakal
  2. Berilmu
  3. Kaya (maksudnya murah berkata-kata yang menuju kebaikan)
  4. Murah dari pihak hartanya
  5. Jaga dan ingat
  6. Sabar hatinya kepada anak dan kemenakan

Sedangkan sifat yang patut dan wajib bagi seorang penghulu minangkabau ada 6 perkara pula:

  1. Kuat pendirian atas kebenaran
  2. Kuat barang pekerjaan atas kebaikan
  3. Suka memperbaiki pagar nagari
  4. Kuat dalam produksi dalam negeri
  5. Tahu akan yang salah dan benar
  6. Tahu menyelesaikan yang kusut dalam negeri dan kaumnya
Balai nan Panjang dan Balai nan Saruang Pantangan Seorang Penghulu di Minangkabau
Datuak Parpatiah nan Sabatang Legenda Minangkabau

Datuak Parpatiah nan Sabatang Legenda Minangkabau

Datuak Parpatiah nan Sabatang

Datuak Parpatiah nan Sabatang merupakan gelar seorang tokoh legenda yang meletakan dasar sistem pemerintahan di Minangkabau yang berfaham demokrasi (kerakyatan). Dasar peraturan yang disusun oleh Datuk Perpatih nan Sabatang adalah “Berurat tunggang membersut dari bumi dengan tata caranya berjenjang naik”. Faham yang bersifat demokrasi atau kerakyatan ini sebab datuak parpatiah dibesarkan ditengah-tengah rakyat dan sering pergi merantau.

Datuak Parpatiah nan Sabatang saudara se-ibu dengan Datuk Ketemenggungan atau anak Puti Indah Jalito dari dan ayahnya Cati Bilang Pandai. Sedangkan Datuk Ketemenggungan anak dari Puti Indah Jalito yang ayahnya adalah Yang Dipertuan Mahadirajo.

Daerah pemerintahan Datuak Parpatiah nan Sabatang dinamakan “Bodi Caniago” atau berasal dari kata “Budi yang Berharga” dan ingat pula kediaman beliau dibawah pohon BODI. Datuak Parpatiah nan Sabatang menginginkan masyarakat diatur dalam semangat yang demokratis, atau dalam tatanannya dengan falsafah, “Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi”.

Nama kecil Datuak Parpatiah nan Sabatang

Menurut sebagian pendapat nama kecil dari sang datuk adalah “Balun” atau Sutan Balun namun ada pula yang mengatakan nama kecilnya adalah Jatang atau Cumatang. Datuak Katumanggungan juga punya nama kecil. Nama kecil Datuak Ketumanggungan yaitu Sutan Rumandung atau Sutan Rumanduang, atau kalau diterjemahkan menjadi Pangeran Matahari.

Baca juga: Negeri tertua di Minangkabau

Dalam sebuah pelayaran Datuak Parpatiah nan Sabatang menemui sebuah peti di dekat laut Langkapura. Dalam peti itu terdapat alat-alat pertukangan selengkapnya: pahat, beliung, kapak, dan alat-alat besi. Datuk kemudian kembali ke Pariangan Padangpanjang, kemudian bergelar Datuak Parpatiah nan Sabatang karena beliau mendapat peti dan sebatang pohon.

Batu Batikam

Suatu kali terjadi pertengkaran atau pertikaian faham antara Datuk Ketemenggungan dan Datuak Parpatiah nan Sabatang sehingga sampai menyentakan keris. Tetapi keris itu tidak sampai ditikamkan kepada lawannya melainkan kepada sebuah batu sebagai melepaskan kemarahan hati sehingga batu itu tembus kena tikam. Itulah “Batu Batikam” yang terdapat di Lima Kaum dipinggir jalan ke Batusangkar.

4 Sebab Harta Pusaka boleh Digadai Dalam Adat Minangkabau Balai nan Panjang dan Balai nan Saruang