Pilih Laman

Negeri-negeri Tertua di Minangkabau

Negeri-negeri Tertua di Minangkabau | Masih bertentangan pendapat para ahli tambo tentang yang mana negeri tertua di Minangkabau. Tetapi sebagian pendapat mengatakan di sekitar Periangan Padangpanjang itulah terdapat negeri-negeri tertua di Minangkabau. Menurut pendapatnya disinilah Datuk Suri Dirajo mendapat putera dari istrinya Puti Indah Jelita yaitu Datuk Ketemenggungan.

Nagari Periangan Padangpanjang yang berjarak hanya sekitar 24 km dari pusat kerajaan Minangkabau, Pagaruyung. Nagari Periangan Padangpanjang kerap disebut di dalam Tambo Minangkabau. Kitab masyarakat Minangkabau ini tidak hanya bertutur tentang sejarah, namun juga falsafah hidup masyarakat Minangkabau sejak dulu kala, dan masih dipegang teguh hingga hari ini. Pariangan disebut sebagai cikal bakal peradaban Minangkabau.

Negeri-negeri Tertua di Minangkabau

Sungai Jambu

Pendapat yang lain mengatakan Sungai Jambu merupakan negeri tertua di Minangkabau. Pendapat ini karena banyak sekali bekas-bekas peninggalan dari zaman ninik moyang yang mula pertama datang seperti:

  • Galundi nan Baselo serta bekas perumahan Datuk Ketemenggungan dan Datuk Perpatih nan Sebatang.
  • Sawah Gadang Satampang Baniah dan Batu Sajamba Makan.
  • Bukit Siguntang-guntang.
  • Balai Seruang (balai tertua).
  • Tempat yang bernama Luhak dan Tanah Datar.
  • Menjadi pusat kampung Koto Piliang.

Baca juga: Tambo Alam Minangkabau

Namun bukanlah masalah yang terlalu penting mempertentangkan mana paling tua dari dua negeri tersebut karena kemungkinan juga kedua negeri tersebut sama-sama didiami oleh nenek moyang orang Minangkabau.

Nama Keris Datuak Parpatiah nan Sabatang

Nama Keris Datuak Parpatiah nan Sabatang | Datuk Perpatih nan Sebatang merupakan seorang yang memiliki kelebihan pada kekuatan fisiknya. Bahkan ada yang menceritakan bahwa datuk ini adalah seorang yang sakti.

Suatu masa dalam pengembaraannya, Datuk Perpatih nan Sebatang pernah sampai di tanah Jawa. Datuk Perpatih nan Sebatang menuju suatu kerajaan dan menjadi prajurit disana. Berkat ketangkasan ilmu beladirinya datuk diangkat menjadi pimpinan prajurit. Datuk Perpatih nan Sebatang akhirnya diangkat menjadi mahapatih di kerajaan tersebut.

Sekembali dari perantauan, Datuk Perpatih nan Sebatang mengenalkan aliran bodi caniago kepada masyarakat minangkabau. Aliran bodi caniago ini menganut sistem demokrasi atau kerakyatan. Setiap keputusan diambil berdasarkan musyawarah dan mufakat. Aliran bodi caniago ini menjadi populer dikalangan masyarakat Minangkabau.

Sebagai seorang yang memiliki ilmu beladiri, Datuk Perpatih nan Sebatang memiliki sebilah keris. Seorang datuk di Minangkabau memang menyisip keris di bagian depan tubuhnya.

Suatu kali terjadi pertengkaran atau pertikaian faham antara Datuk Ketemenggungan dan Datuk Perpatih nan Sebatang sehingga sampai menyentakan keris. Tetapi keris itu tidak sampai ditikamkan kepada lawannya melainkan kepada sebuah batu sebagai melepaskan kemarahan hati sehingga batu itu tembus kena tikam. Itulah “Batu Batikam” yang terdapat di Lima Kaum dipinggir jalan ke Batusangkar.

Nama Keris Datuak Parpatiah nan Sabatang

Baca juga: Balai nan Panjang

Nama Keris Datuak Parpatiah nan Sabatang yang ditikamkan kebatu tersebut  adalah “Balempo”. Saat ini Batu Batikam menjadi bukti sejarah tentang Minangkabau dimasa lampau. Batu Batikam juga menjadi obyek wisata yang menarik untuk dikunjungi.

Asal Nama Luhak Agam Menurut Tambo Minangkabau

Luhak Agam

Asal nama

Asal nama luhak Agam | Ada seorang shekh di Batipuh Padangpanjang yang bergelar Tuanku Betung. Beliau ini murid dari shekh Burhanuddin di Ulakan. Pada suatu masa datang beberapa orang murid dari daerah Kubung Tigo Baleh. Setelah murid-murid yang berasal dari Bukittinggi melihat murid-murid dari Kubung itu membawa buku-buku agama berkatalah mereka “Sudah luak agama kita”. Sebab itulah dinamakan Luak Agam.

Baca juga: Pantangan seorang penghulu