Pilih Laman

Pemerintahan Adityawarman di Minangkabau

Kedatangan Adityawarman di Minangkabau sebenarnya berhubungan dengan keadaan politik di Majapahit sehingga beliau bermaksud memisahkan diri. Adityawarman sendiri memiliki hubungan pertalian darah dengan Minangkabau.

Dari segi politik, Adityawarman memiliki 2 alasan datang ke Minangkabau.

  1. Sebagai seorang yang mengenal keadaan tanah melayu, Adityawarman ingin meluaskan kekuasaan Majapahit di pedalaman pulau Sumatera. Selain itu Adityawarman ingin mengembangkan agama Budha Tentrayana serta menguasai daerah-daerah penghasil lada.
  2. Minangkabau yang terletak dipedalaman pulau Sumatera sehingga dia dapat lepas dari jangkauan armada Majapahit sehingga lama kelamaan memiliki kekuasaan sendiri.

Raja Adityawarman kurang menyukai sistem demokrasi yang sudah berjalan di Minangkabau. Beliau berpendapat sistem mufakat tersebut lamban dan tidak cepat membawa kemajuan bagi negeri. Adityawarman menggantinya dengan sistem yang bersifat Autokrasi dan Desantralisasi. Sistem lama yang berbentuk federasi, berpematang sawah, berbintalak bagi kebun kurang disukai oleh Adityawarman.

Sistem pemerintahan yang digunakan Adityawarman tidak mudah masuk kedalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Kebijakan baru tersebut menjadi kurang populer di Luhak Nan Tiga, namun dapat diterima di daerah rantau. Walaupun Adityawarman sudah berkuasa, kekuasaan executif, legislatif, dan yudikatif masih dipegang oleh para penghulu adat sehingga praktisnya Adityawarman tidak memiliki kuku lagi.

Adityawarman sebagai seorang raja dibantu oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang yang diangkat seperti Patih Gajah Mada di Majapahit. Dalam angkatan perang beliau dibantu oleh Datuk Ketemenggungan yang diangkat seperti seorang senopati di tanah Jawa.

Adityawarman dikawinkan dengan Puteri Jamilan yang merupakan anak dari Puti Indah Jalito dari suaminya Cati Bilang Pandai. Sebagaimana diceritakan sebelumnya, Puti Indah Jalito sempat memiliki dua kali pernikahan. Pernikahan pertama dengan Maharaja Diraja, puti memiliki seorang anak yaitu Datuk Ketemenggungan. Pernikahan kedua dengan Cati Bilang Pandai, Puti Indah Jalito memiliki seorang anak laki-laki dan empat anak perempuan. Anak laki-laki dari pernikahan kedua ini adalah Datuk Perpatih Nan Sabatang dan anak perempuannya yaitu: Puteri Reno Gadis, Puteri Reno Judah, Puteri Ambun Suri, dan Puteri Jamilan.

Adik bungsu dari Datuk Perpatih Nan Sabatang itulah yang dinikahkan dengan Adityawarman sehingga dia merupakan “Orang Sumando” di Minangkabau. Pernikahan ini terjadi tidak lama setelah Adityawarman berada di Minangkabau. Dengan diangkatnya Adityawarman sebagai raja serta pernikahan tersebut maka raja yang lama pindah ke Bunga Setangkai beserta para pengikutnya. Itulah dalam Tambo Minangkabau disebut: “Jatuhlah telur Enggang itu ke rumah Datuk Suri Dirajo”.

Setelah menikah, Puteri Jamilan hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika bayi itu akan dibawa turun mandi, dipagarlah tepiannya dengan ruyung sebab kuatir dengan ada buaya disungai itu. Itulah mulanya tempat itu bernama Pagarruyung dan menjadi pusat pemerintahan Minangkabau.

Adityawarman memerintahkan supaya masyarakat Minangkabau dibagi atas kasta-kasta yaitu empat kasta sebagaimana dalam ajaran Budha. Tetapi masyarakat Minangkabau dengan wataknya yang cerdik hanya membagi pemimpin menjadi “orang yang empat jinih”. Kekuasaan dibagi menjadi “Basa Empat Balai” yang menjadikan tambah kokohnya pemerintahan demokratis di Minangkabau. Namun Datuk Ketemenggungan yang yang berpaham feodal sejalan dengan autokrasi, Adityawarman tidak menyadari sistem demokrasi jugalah yang berkembang dengan baik di Minangkabau.

Dalam pembagian pemerintahan kemudian disebutkan: “Payung panji di Saruaso, Suluh Bendang di Padang Ganting, Cermin Terus di Batusangkar, Cemeti di Tanjung Balit, Harimau di Pauh Tinggi, Alim di Pariangan Padangpanjang, dan Raja Besar di Bukit Batu Patah”. Adityawarman jarang disebut-sebut sebab dia hanya orang sumando bak abu diatas tunggul, datang angin keras terbanglah ia.

Selama berkuasa di Minangkabau, Adityawarman berjasa dalam mengkonsolidasi angkatan perang di Minangkabau untuk memperluas daerah kekuasaan. Angkatan perang tersebut mampu melindungi Minangkabau dari serangan kerajaan lain.

Ketika Adityawarman sudah tenang-tenang di Minangkabau, kerajaan Majapahit mengirimkan pasukannya pada tahun 1409. Pasukan Majapahit tersebut tidak lagi dilawan dengan akal bulus tapi dihadapi dengan angkatan bersenjata yang sudah cukup kuat. Pecahlah peperangan yang terjadi di Padang Sibusuk pada tahun 1409 yang dimenangkan oleh angkatan perang Minangkabau.

Perbatasan Kerajaan Minangkabau “Durian Ditakuk Rajo”

Dalam salah satu mytos Minangkabau terdapat kisah tentang kepergian Datuk Ketemenggungan. Begini kisahnya:

Rupanya kehadiran Adityawarman ditengah masyarakat Minangkabau kurang mendapat persetujuan dari Datuk Ketemenggungan. Walaupun sang datuk diberi kedudukan yang penting dibawah raja Adiytawarman. Beberapa waktu setelah Datuk Suri Dirajo mengisi ketundukan, Datuk Ketemenggung beserta keluarga dan pengikutnya meninggalkan Minangkabau. Datuk dan semua pengikutnya keluar pada malam hari sehingga tidak diketahui oleh orang lain. Rombongan tersebut berjalan menuju kearah selatan.

Setelah beberapa lama berjalan, datuk dan pengikutnya sampai diperbatasan antara Minangkabau dengan daerah Jambi. Berhentilah rombongan tersebut disebuah batang pohon besar yang ternyata batang durian yang besar dan tinggi. Mereka menginap malam itu dibawah batang pohon durian tersebut. Pada pagi harinya berkatalah Datuk Ketemenggungan kepada pengikutnya:

“Wahai pengikutku, sekarang kembalilah kalian masuk kedalam negeri kembali, Kami dua suami isteri dan anak-anak akan meneruskan perjalanan ke Palembang. Kalian masih muda-muda oleh sebab itu kembalilah, dan biarkan kami meneruskan perjalanan”.

Datuk Ketemenggungan kemudian memberi tanda pada batang durian besar itu. Tanda tersebut menjadi batas daerah Minangkabau disebelah selatan yang berbatasan dengan daerah Jambi. Itulah yang dinamakan dalam kata-kata adat “Durian Ditakuk Rajo”.

Tidak semua pengikut datuk kembali ke Minangkabau, sebagian lagi bersama-sama dengan sang datuk melanjutkan perjalanan. Beberapa hari kemudian sampailah mereka ditepi sebuah sungai. Dengan takdir Allah, isteri datuk jatuh sakit dan menginggal dunia, beliau dimakamkan disebuah tempat yang bernama “Muara Rupit”.

Muara Rupit ini merupakan sebuah negeri yang masuk dalam propinsi Sumatera Selatan. Daerah ini menjadi tempat perhentian kendaraan yang datang dari arah Kota Padang menuju ke Tanjung Karang, dan begitu sebaliknya. Disana banyak bermukim orang minang dan membuka usaha Rumah Makan.

Kemudian datuk dan rombongannya meneruskan perjalanan dan sampai disebuah bukit yang bernama Bukit Siguntang. Bukit ini mempunyai kisah yang terkenal pula dalam sejarah Melayu. Setelah beberapa lama menetap di bukit itu wafat pula sang datuk dan dimakamkan ditempat itu. Sampai sekarang makam itu masih tetap diziarahi orang dan dinamakan “Keramat Siguntang”. Konon kabarnya panjang makam tersebut sampai lima meter, demikian pula makam isterinya. Apakah Datuk Ketemenggungan memang setinggi itu badannya, atau makamnya saja yang dibuat demikian panjang. Wallahu A’lam.

Semua pengikut datuk kembali ke Minangkabau. Sesampai di Durian Ditakuk Raja mereka berhenti dan bermufakat. Sebagian dari mereka kambali ke Minangkabau dan sebagian lagi kembali ke Muara Rupit dan menetap disana. Namun ada beberapa orang tidak pergi kemana-mana. Mereka masuk ke hutan rimba dan hidup sebagai pengembara dalam rimba itu. Diantara mereka ada yang bersuku Piliang dan Caniago. Mereka hidup berpindah-pindah di dalam hutan di daerah Jambi itu.  Tetapi sukunya tetap tidak mereka buang serta adat-adat Minangkabau masih mereka pergunakan. Rupanya mereka masih tetap menggunakan kata-kata adat: “Nagari tak dapat dialih, suku tak dapat di-anjak”.

Asal Usul Nama Minangkabau

Asal Usul Nama Minangkabau

Asal usul nama Minangkabau dalam mitos rakyat Minangkabau yang diterangkan seperti kisah berikut ini:

Pada suatu masa datanglah rombongan prajurit-prajurit yang dilihat dari gelagatnya hendak berkuasa atau ingin berpengaruh di Minangkabau. Mereka bersenjata lengkap dan prajuritnya terlihat gagah berani. Konon mereka adalah prajurit dari kerajaan Majapahit yang datang dengan memudiki Batang Hari dan menetap di Batu Patah, kemudian mereka berkemah di Bukit Gombak. Barangkali mereka adalah rombongan yang pernah kalah bertaruh tempo hari (baca: Kisah Cati Bilang Pandai). Mungkin maksud kedatangan mereka akan menuntut kekalahannya dengan jalan yang lain, kalau perlu adu kekuatan senjata.

Selain bersenjata mereka rupanya membawa seekor kerbau betina yang sangat besar, tanduknya panjang dan runcing. Utusan mereka datang menghadap kepada Datuk Ketemenggungan, Datuk Perpatih nan Sabatang, Manti, Malim, dan Dubalang serta ninik mamak semuanya, utusan tersebut berkata:

Prajurit dari kerajaan Majapahit

“Wahai datuk yang berdua! Kami datang kemari adalah akan menebusi kekalahan kami tempo hari. Jika kita berperang tentu bencana yang akan datang, akan berjatuhan korban dipihak rakyat yang tidak bersalah. Sebab itu lebih baik kita adu kekuatan saja tetapi bukan antara manusia. Kami ada membawa seekor kerbau yang besar, carikanlah lawan dan kita adu kerbau kita. Jika kami kalah oleh datuk ambilah segala perlengkapan kami, tetapi kalau datuk yang kalah maka negeri ini kami duduki.”

Repotlah kedua datuk itu akan menjawab tantangan dari rombongan prajurit yang datang. Lalu datuk yang berdua minta janji tujuh hari untuk menghadapi tantangan tersebut. Setelah sampai tujuh hari seperti janji datuk nan berdua, berhimpunlah orang ramai penuh sesak di gelanggang tempat akan mengadu kerbau itu, yang bakal menentukan nasib negeri masing-masing.

Asal Usul Nama Minangkabau

Prajurit Majapahit lalu menampilkan seekor kerbau yang sebesar gajah yang melihat kekiri dan kekanan dengan mata merah dan mengebas-ngebaskan tanduknya yang ujungnya runcing ibarat mata keris. Dan manakah lawan kerbau besar itu? Semua mata mencari-cari kerbau orang Minangkabau lawan kerbau besar itu.Akhirnya tampilah lawan kerbau besar itu. baru saja melihat semua orang bersorak dengan riuh rendah dan rombongan dari Majapahit melihat bercampur heran dan tak mengerti. Sebab lawan kerbau itu tak lebih tak kurang hanya seekor anak kerbau kurus yang sedang erat menyusu dan sudah dipuasakan selama beberapa hari. Tetapi pada moncongnya dipasangkan cawang besi bercabang sembilan, enam buah pada tiap-tiap puncaknya.

Kerbau besar Majapahit

Kerbau besar Majapahit sudah menguak-nguak ditengah arena minta lawannya, dan anak kerbau mengoek-ngoek mencari induknya. Anak kerbau itu dipegangkan oleh orang-orang dari dua kelarasan. Banyak rakyat yang kecewa karena untuk melawan kerbau besar itu hanya memajukan anak kerbau yang kurus pula. Orang Majapahit tertawa mengejek, mereka mengira bahwa dalam beberapa saat anak kerbau kurus itu tentu akan hancur luluh ditanduki dan diinjak-injak kerbau besar itu. Kerbau besar itu juga terheran-heran karena sejauh itu dia datang akan bertanding hanya akan dihadapkan kepada lawan yang hanya sebesar induk kambing. Sebab itu ketika anak kerbau itu datang berlari-lari kepadanya tidak dihiraukannya sedikit juga.

Anak kerbau itu mengira bahwa kerbau besar itu induknya, ataupun tidak yang penting dia harus menyusu kepada kerbau itu. Dan dengan serta merta menyelunduplah dia kebawah perut kerbau besar itu untuk menyusu. Sebagaimana lazimnya anak kerbau menyusu kepalanya dilonjak-lonjakkannya kuat-kuat ke perut induknya. Tentu saja besi runcing dimoncongnya menembus-nembus perut kerbau besar itu sehingga tumpahlah darah dan luka-luka perut kerbau besar itu. Larilah kerbau besar keluar lapangan, dia lari terus melewati beberapa tempat yang kemudian mendapat nama dari pelariannya, sijangat, sipurut, dan lain-lain.

Panglima yang datang itu untuk kedua kalinya harus menyingkir dengan rasa malu karena mereka sudah dikalahkan ditengah arena hanya dengan akal bulus saja. Tetapi sebenarnya adalah karena kebijaksanaan penduduk laras yang dua.

Asal Usul Nama Minangkabau

Semenjak itu daerah itu mendapat nama “Minangkabau” yang berasal dari “menang kerbau” atau “minang kabau”. Sebab besi runcing dimulut anak kerbau itu “minang” namanya. Negeri tempat mengadu kerbau itu dinamakan Minangkabau yang masih ada sampai sekarang dekat Batusangkar. Dan sesudah itu pula bentuk-bentuk rumah gadang, lumbung dan beberapa bangunan lainnya dibuat berbentuk tanduk kerbau lambang kemenangan beradu kerbau pada masa itu.

Demikianlah asal usul nama Minangkabau berdasarkan mitos dari cerita rakyat Minangkabau.

 

Nama Kecil Datuak Katumanggungan

Nama Kecil Datuak Katumanggungan adalah Sutan Rumandung atau Sutan Rumanduang, atau kalau diterjemahkan menjadi Pangeran Matahari. Datuak Katumanggungan merupakan salah satu tokoh dalam alam Minangkabau saudara se-ibu dengan Datuk Parpatih nan Sabatang. Datuak Katumanggungan adalah anak dari Sri Maharaja Diraja dengan Puti Indo Jelita. Sedangkan Datuk Parpatih nan Sabatang adalah anak dari Puti Indo Jelita dengan suaminya Cati Bilang Pandai.

Datuak Katumanggungan

Datuak Katumanggungan seorang yang berpaham feodal karena ayahnya adalah seorang raja. Sistem pemerintahannya “bajanjang naik batanggo turun” atau dalam kata adat: “titiak dari ateh” (titik dari atas), artinya keputusan terletak di tangan penghulu pucuk. Datuak Katumanggungan merupakan pemimpin pada kelarasan “Koto Piliang” atau maksudnya kota pilihan.

Menurut Tambo Minangkabau, Sutan Rumanduang mendapatkan gelar Datuk Kutemenggungan seperti kisah berikut ini:

Suatu ketika Sutan Rumanduang ikut membantu memadamkan pemberontakan yang terjadi pada kerajaan di tanah jawa. Sutan Rumanduang dapat berbaur didalam kerajaan tersebut karena pada dasarnya dia juga adalah seorang anak raja. Berkat jasanya tersebut Sutan Rumanduang diangkat menjadi seorang Tumenggung.

Setelah lama merantau ditanah jawa akhirnya Sutan Rumanduang pulang ke kampungnya ranah Minangkabau. Sesampai di Minagkabau ternyata keadaan sudah jauh berubah. Agama Islam mulai berkembang di Minangkabau dan di kaki gunung Marapi lebih kental lagi. Sutan Rumanduang mencoba mempelajari Islam untuk mengetahui kelemahannya. Tetapi hidayah Allah masuk ke dada Sutan Rumanduang sehingga dia memeluk agama islam.

Sutan Rumanduang menjadi seorang muslim dan penganjur agama Islam yang taat. Sutan Rumanduang akhirnya didaulat menjadi datuk dengan gelar Datuk Ketumenggungan karena pernah menjadi Tumenggung di tanah Jawa.

Demikianlah Nama Kecil Datuak Katumanggungan berdasarkan kepada Tambo Minangkabau

Cati Bilang Pandai Tokoh Legenda Minangkabau yang Bijaksana

Cati Bilang Pandai Tokoh Legenda Minangkabau yang Bijaksana | Suatu masa datanglah segerombolan orang asing yang menaiki perahu melalui sungai Batang Hari lewat Padang Ganting dan sampai di Lima Kaum Dua Belas Koto. Maksud kedatangan mereka adalah ingin menguasai daerah yang dilalui. Mengetahui hal itu rakyat Laras nan Dua sudah bersiap-siap akan bertempur untuk mempertahankan kampung mereka. Mengetahui hal ini, rombongan orang asing yang datang mengurungkan niatnya untuk melakukan kekerasan.

Akhirnya diadakanlah petermuan besar di sebuah dusun yang bernama Dusun Tua. Pertemuan ini lengkap dihadiri oleh Datuk Ketemenggungan, Datuk Perpatih nan Sabatang, Datuk Suri Dirajo dan Cati Bilang Pandai. Turut hadir pula Reno Sadah, Manti, Dubalang, Ninik Mamak, dan masyarakat kampung.

Cati Bilang Pandai

Bertanyalah Cati Bilang Pandai yang bertindak sebagai juru bicara kepada rombongan orang asing. “Apakah maksud kedatangan tuan nahkoda kenegeri kami ini?”

Nahkoda perahu rombongan tersebut menjawab: “Kami sudah menjelajahi seluruh daerah di pulau Perca ini, dan kami mendengar bahwa disini banyak berdiam orang cerdik pandai, cendikiawan dan ahli lainnya, laut budi, ilmu segala pembicaraan. Maka kami ingin mengadakann sayembara dengan tuan-tuan disini”.

Maklumlah rakyat apa tujuan kedatangan rombongan asing tersebut. Cati akhirnya bertanya: “Apakah taruhan sayembara tuan-tuan itu?”

Sang nahkoda pun menjawab: “Kalau tuan-tuan menang ambillah kapal kami beserta isinya, tapi kalau tidak maka kampung tuan-tuan dengan isinya dapat pula oleh kami”.

“Baiklah”, jawab Cati Bilang Pandai.

Sayembarapun dimulai dan sang nahkoda mengeluarkan sepotong kayu yang sama bentuk ujung dan pangkalnya, dia pun berkata: “Inilah kayu Tataran Naga namanya, cobalah tuan-tuan tentukan mana ujung dan pangkalnya kayu ini”.

Cati Bilang Pandai

Para ninik mamak pun bermufakat sebentar, kemudian Cati Bilang Pandai mengambil potongan kayu Tataran Naga itu. Kayu tersebut berbentuk bulat panjang dan licin, kalau dilihat atau ditimang dengan tangan maka tidak akan dapat menentukan mana ujung dan pangkalnya. Cati mengukur kayu itu sama panjang, pada pertengahannya diikatkan seutas tali. Kemudian kayu yang sudah diikat dengan tali tersebut diangkat oleh Cati  dan yang sebelah pangkal menunduklah kebawah, maka ujung lainnya yang naik keatas adalah bagian ujungnya. Orang ramai pun bersorak. Kemudian dikemukakanlah dua atau tiga persoalan lagi tetapi dengan mudah Cati Bilang Pandai dapat menjawabnya.

Sangat malulah nahkoda rombongan asing itu dan buru-buru menyingkir dari sana dan kembali ke daerah asalnya. Tetapi perahu dan isinya telah disita oleh orang-orang dari Laras nan Dua. Harta kemenangan itu dibawa ke Pariangan Padangpanjang. Harta taruhan itu dibagi dua, setengah tinggal di pariangan Padangpanjang dan setengah lagi dibagi tiga. Sepertiga tinggal di Lima kaum, sepertiga lainnya dibawa ke sungai Tarab, dan sisanya untuk Tanjung Sungayang.

Balai nan Panjang dan Balai nan Saruang

Balai Nan Panjang terletak atau dibangun di Nagari Tabek Pariangan Tanah Datar, berbentuk seperti rumah gadang dengan tiang sangat banyak. Balai ini terdiri dari 17 ruangan dikenal dengan nama Balai Ruang Sari yang saat ini dijadikan sebagai Situs Kepurbakalaan.

 Balai Nan Panjang

Sebelum Balai ini dibangun, telah ada Balai nan Saruang yang merupakan balai balai tertua di Minangkabau. Kedua balai ini digunakan tempat untuk membuat undang-undang. Di balai ini pemuka adat dan pemuka masyarakat melakukan musyawarah untuk menetapkan ketentuan adat. Tempat memutuskan perkara adat sehingga balai berfungsi sebagai lembaga peradilan adat bagi masyarakat Minangkabau dalam suatu nagari.

Balai Nan Panjang digunakan oleh aliran Bodi Caniago saja. Sedangkan Balai Saruang digunakan oleh kedua aliran, yaitu aliran Bodi Caniago dan aliran Koto Piliang.

Ciri-ciri Balai Nan Panjang

Ciri-cirinya: memiliki lantai datar yang menunjukkan penghulunya tidak bertingkat-tingkat. Falsafahnya “duduak samo randah tagak samo tinggi” (duduk sama rendah berdiri sama tinggi). Aliran Bodi Caniago menggunakan adat Datuak Parpatiah nan Sabatang dengan aturannya “mambasuik dari bumi” (membesut dari bumi) yang artinya keputusan itu timbul dari bawah. Bodi Caniago berarti “budi nan baharago” (budi yang berharga) sehingga setiap keputusan diambil dengan cara musyawarah untuk mencari kata mufakat.

Balai Saruang digunakan untuk merundingkan masalah semasak-masaknya yang dihadiri oleh orang yang benar-benar dipandang sangat penting. Setelah segala sesuatunya diperhitungkan di Balai Saruang maka hasil keputusan itu kemudian dibawa ke Balai Nan Panjang. Balai ini merupakan tempat untuk rapat umum berkumpulnya seluruh unsur masyarakat. Segala sesuatu yang telah diputuskan di Balai Saruang akan disahkan oleh rapat umum di Balai Nan Panjang.

balai na saruang

Ciri-ciri Balai nan Saruang

Balai Saruang memiliki lantai yang berbeda, dimana lantainya bertingkat ujung ke ujung, putus di tengah-tengah yang dinamakan “labuah gajah” yang mencerminkan kepemimpinan Datuak Katumangguangan dengan penghulu lain tidak setingkat. Kedudukan penghulu yang lebih tinggi tingkatannya duduk di atas anjungan, sedangkan penghulu yang lebih rendah tingkatannya duduk menempati lantai yang di tengah-tengah. Aturan aliran Koto Piliang dikenal dengan “titiak dari ateh” (titik dari atas), artinya keputusan terletak di tangan penghulu pucuk.