Select Page

Candi di Minangkabau | Seperti halnya kerajaan Hindu dan Buda dimasa lalu, Minangkabau juga memiliki candi walaupun jumlahnya tidaklah begitu banyak. Candi-candi tersebut terdapat pada dua kabupaten yaitu Pasaman dan Dharmasraya merupakan peninggalan cagar budaya yang sangat berharga.  Keduanya adalah daerah hulu sungai Batang Hari dan sungai Kampar yang dahulunya merupakan pusat dari kerajaan Melayu. Perairan hulu Sungai Kampar, yang disebut Minānga di dalam Prasasti Kedukanbukit pada 682, merupakan pula “daerah asal” Kerajaan Śrīwijaya sebelum kepindahannya ke daerah Palembang.

Candi Padangroco

Kompleks Candi Padangroco terletak di daerah aliran Sungai Batanghari (+160 meter dpl). Berada di Jorong Sungai Langsat (Sei Langsek). Sebelum ada pemekaran termasuk Kabupaten Sawahlunto-Sijunjung. Sekarang berada di Desa Nagari Siguntur, Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya, Propinsi Sumatera Barat. Candi Padangroco kali pertama dilaporkan oleh Verkerk Pistorius ketika mengadakan penelitian kepurbakalaan di daerah aliran Sungai Batanghari pada awal 1860-an. Pada 1909 L.C. Westenenk mengadakan survei dan pemetaan di daerah Padangroco. Ia kemudian menemukan kembali sisa-sisa bangunan bata tersebut. Berikutnya peninggalan-peninggalan arkeologi di daerah hulu Batanghari ini dilaporkan kembali oleh F.M. Schnitger dalam bukunya yang berjudul The Archaeology of Hindoo Sumatra (1937).

Candi di Nagari Lansek-Kadok

Di Desa Nagari Lansek-Kadok, Kecamatan Rao Selatan, Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat terdapat dua candi. Kedua candi itu adalah Candi Pancahan dan Candi Patani, yang terbuat dari susunan bata.

Candi Pancahan

Candi Pancahan diketahui keberadaannya pada awal 1990-an oleh tim arkeologi Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Batusangkar mengadakan ekskavasi penyelamatan di situs ini. Mereka menemukan struktur bangunan bata yang merupakan sisa bagian dinding candi, lantai candi dan fondasi, dan sebaran lapisan tanah bercampur batu kerakal. Hasil ekskavasi menyimpulkan terdapat dua candi, yaitu satu candi utama atau candi induk (Candi Pancahan I), dan satu candi pengiring atau candi perwara (Candi Pancahan II), yang terletak di sebelah selatannya, yang menghadap ke utara. Kedua candi itu berhadap-hadapan, dan keduanya dikelilingi oleh satu parit. Candi Pancahan I keadaannya sudah sangat parah, sehingga bentuk dan ukurannya sulit untuk diperkirakan. Namun dari sisa-sisa struktur dinding kakinya yang masih ada, candi ini dapat diperkirakan bentuknya empat persegi dengan ukuran sekitar 6 x 5 m.

Baca Juga:  Bahasa Minangkabau

Candi Patani

Candi Patani semula merupakan salah satu munggu yang ada di areal perkebunan penduduk di Jorong IV Beringin. Sebenarnya di area perkebunan tersebut ada beberapa munggu yang lain. Candi Patani untuk kali pertama diidentifikasi oleh tim arkeoogi dari Pusat Arkeologi Nasional, yang mengadakan penelitian di daerah Rao, Kabupaten Pasaman pada Mei 2013. Pada kesempatan itu tim mengadakan ekskavasi di Situs Patani. Hasil ekskavasi ini memperlihatkan adanya sisa struktur bangunan bata, yang merupakan sisa bagian kaki candi. Bentuknya persegi empat, dan diperkirakan berukuran sekitar 6 x 6 m. Berdasarkan adanya tangga di sisi timur diperkirakan candi ini menghadap ke arah timur. Namun demikian orientasinya tidak persis utara-selatan atau barat-timur, karena arah orientasi candi ini menyimpang ke arah barat sekitar 10º.