Select Page

Tujuan Gerakan Padri di Minangkabau

Tujuan Gerakan Padri di Minangkabau | Perang Padri terjadi di Sumatera Barat pada tahun 1803 – 1833 antara kaum adat dengan kelompok ulama. Perang ini pada awalnya merupakan pertentangan dalam masalah agama yang kemudian akhirnya berubah menjadi peperangan melawan penjajahan.

Tujuan gerakan Padri adalah untuk memperbaiki syariat Islam yang belum sempurna dijalankan oleh masyarakat Minangkabau. Gerakan Padri dimulai dengan munculnya pertentangan sekelompok ulama yang dijuluki sebagai Kaum Padri terhadap kebiasaan-kebiasaan yang marak dilakukan oleh kalangan masyarakat yang disebut Kaum Adat di kawasan Kerajaan Pagaruyung dan sekitarnya. Kebiasaan yang dimaksud seperti perjudian, penyabungan ayam, penggunaan madat, minuman keras, tembakau, sirih, dan juga aspek hukum adat matriarkat mengenai warisan, serta longgarnya pelaksanaan kewajiban ritual formal agama Islam. Tidak adanya kesepakatan dari Kaum Adat yang padahal telah memeluk Islam untuk meninggalkan kebiasaan tersebut memicu kemarahan Kaum Padri, sehingga pecahlah peperangan pada tahun 1803.

Kepulangan tiga orang Haji dari Mekkah sekitar tahun 1803, yaitu Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang menjadi latar belakang terjadinya gerakan padri. Mengetahui hal tersebut, Tuanku Nan Renceh sangat tertarik lalu ikut mendukung keinginan ketiga orang Haji tersebut bersama dengan ulama lain di Minangkabau yang tergabung dalam Harimau Nan Salapan.

kaum Padri suatu hari meminta Tuanku Lintau untuk mengajak Yang Dipertuan Pagaruyung Sultan Arifin Muningsyah beserta Kaum Adat untuk meninggalkan beberapa kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. Dalam beberapa perundingan tidak ada kata sepakat antara Kaum Padri dengan Kaum Adat. Seiring itu beberapa nagari dalam Kerajaan Pagaruyung bergejolak, puncaknya pada tahun 1815, Kaum Padri dibawah pimpinan Tuanku Pasaman menyerang Kerajaan Pagaruyung dan pecahlah peperangan di Koto Tangah. Serangan ini menyebabkan Sultan Arifin Muningsyah terpaksa menyingkir dan melarikan diri dari ibu kota kerajaan.

Karena terdesak dalam peperangan Kaum Adat yang dipimpin oleh Sultan Tangkal Alam Bagagar meminta bantuan kepada Belanda walaupun sebetulnya Sultan Tangkal Alam Bagagar waktu itu dianggap tidak berhak membuat perjanjian dengan mengatasnamakan Kerajaan Pagaruyung. Akibat dari perjanjian ini, Belanda menjadikannya sebagai tanda penyerahan Kerajaan Pagaruyung kepada pemerintah Hindia Belanda, kemudian mengangkat Sultan Tangkal Alam Bagagar sebagai Regent Tanah Datar.

Perlawanan yang dilakukan oleh Kaum Padri cukup tangguh sehingga sangat menyulitkan Belanda untuk menundukkannya. Oleh sebab itu Belanda melalui residennya di Padang mengajak pemimpin Kaum Padri yang waktu itu telah dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol untuk berdamai dengan maklumat “Perjanjian Masang” pada tanggal 15 November 1825. Hal ini dimaklumi karena disaat bersamaan Pemerintah Hindia Belanda juga kehabisan dana dalam menghadapi peperangan lain di Eropa dan Jawa seperti Perang Diponegoro.

Pemimpin perang padri di minangkabau

Setelah Tuanku Nan Renceh meninggal dunia kaum padri dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol yang kemudian mencoba merangkul kembali Kaum Adat. Sehingga akhirnya muncul suatu kompromi yang dikenal dengan nama “Plakat Puncak Pato” di Bukit Marapalam, Kabupaten Tanah Datar yang mewujudkan konsensus bersama Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah yang artinya adat Minangkabau berlandaskan kepada agama Islam, sedangkan agama Islam berlandaskan kepada Al-Qur’an. Menyadari hal itu, kini Belanda bukan hanya menghadapi Kaum Padri saja, tetapi secara keseluruhan masyarakat Minangkabau.

Sistem Kekerabatan di Minangkabau

Sistem Kekerabatan di Minangkabau adalah menurut garis keturunan ibu atau Matrilineal. Minangkabau merupakan satu-satunya suku yang menganut sitem matrilineal di indonesia, sehingga dibandingkan dengan suku-suku lain di Indonesia hal ini bisa dikatakan cukup unik.

Sistem Kekerabatan di Minangkabau menerapkan bahwa seorang anak yang lahir dalam suku Minangkabau memiliki silsilah keluarga dari garis ibu atau merupakan penerus keturunan dalam adat Minangkabau. Anak laki-laki dalam adat Minangkabau mempunyai hak untuk mewarisi gelar penghulu dari mamak atau pamannya. Sedangkan anak perempuan dan keturunannya yang perempuan pula akan menjadi pelanjut garis keturunan.

 

Fungsi Mamak di Minangkabau Tujuan Gerakan Padri di Minangkabau
Fungsi Mamak di Minangkabau

Fungsi Mamak di Minangkabau

Fungsi Mamak di Minangkabau | Mamak atau paman dalam adat minangkabau adalah saudara laki-laki dari ibu baik kakak maupun adik. Kemenakan dan mamak mampunyai hubungan sabagai pemimpin dan orang yang dipimpin seperti falsafah berikut:

Kamanakan barajo ka mamak

Mamak barajo ka pangulu

Pangulu barajo ka mufakat

Mufakat barajo ka nan bana

Bana badiri sandirinyo

Bana manuruik alua jo patuik

Manuruik patuik jo mungkin.

 

Fungsi Mamak di Minangkabau berperan dalam membimbing kemenakan, memelihara dan mangambangkan harta pusaka serta mawakili kaluargo dalam urusan keluar. Membimbing kemenakan adalah kewajiban mamak seperti ungkapan berikut ini:

Kaluak paku kacang balimbiang

Daun bakuang lenggang-lenggangkan

Anak dipangku kamanakan dibimbiang

Urang kampuang dipatenggangkan

Mamak berkewajiban dalam membimbing kemenakan dalam bidang adat, bidang agama, dan bidang perilaku sehari-hari. Kalau kemenakan melakuan kesalahan, mamak akan ikut malu.

Peranan mamak yang lain adalah memelihara dan mangembangkan harta pusaka. Harta pusaka itu dipelihara supaya jangan habis, tidak boleh sampai dijual, atau digadaikan. Mamak hanya memelihara saja, sadangkan pemiliknya adalah ibu ( bundo kanduang ).

Peranan mamak nan katiga adalah mawakili kaluarga dalam urusan keluar. Urusan itu dapat tajadi dalam hal-hal yang baik atau kurang baik. Mamak akan bertindak atas nama keluarga dan mawakili kaluarga dan juga akan bertindak atas nama kaluarga untuk penyelesaian masalah.

Kemenakan laki-laki dan kemenakan perempuan sama-sama dibutuhkan dalam kaluarga Minangkabau. Peranan keduanya di dalam kaluarga berbeda-beda. Kemenakan laki-laki mamiliki paran antara lain kader pamimpin (mamak) dalam kaluarga dan membantu mamak dalam urusan-urusan keluarga. Kemenakan perempuan mamiliki peran antara lain, calon ibu (bundo kanduang , calon panguasa harta pusaka, pelanjut ganerasi, Penghuni rumah gadang.

Pelopor Islam di Minangkabau Sistem Kekerabatan di Minangkabau

Pelopor Islam di Minangkabau

Pelopor Islam di Minangkabau

Pelopor Islam di Minangkabau | Masuknya Islam di Sumatra Barat masih menjadi perdebatan para ahli sejarah namun indikasinya pantai timur Sumatra telah disinggahi saudagar-saudagar Islam sejak abad ke-7. Kronik Tiongkok Xin Tangshu menyebutkan bahwa pada tahun 675, orang-orang Ta-Shih (Arab) telah mempunyai perkampungan di pantai barat Sumatra. Pengelana Venesia Marco Polo (1292) yang singgah di Sumatra menulis bahwa penduduk pedalaman pada umumnya masih belum beragama Islam, sedangkan pengelana Maroko Ibnu Batutah (1345) menemukan bahwa Mazhab Syafi’i telah diamalkan oleh masyarakat Pasai. Pengelana Portugis Tomé Pires (1512-1515) secara khusus menyatakan bahwa hanya satu dari “tiga raja Minangkabau” yang saat itu telah memeluk Islam.

Interaksi Minangkabau yang intens dengan Islam, setidaknya dimulai sejak abad ke-13 yang melahirkan tokoh-tokoh yang terlibat dalam penyebaran Islam di Nusantara. Di Minangkabau, ulama begitu populer karena pengaruh mereka dalam perubahan politik dan sosial-kemasyarakatan. Salah seorang ulama terkemuka pertama Minangkabau ialah Syekh Burhanuddin (1646-1692), yang merupakan pelopor penyebaran Islam di daerah pedalaman Kerajaan Pagaruyung. Syekh Burhanuddin yang menetap di nagari Ulakan, Pariaman merupakan murid dari ulama besar asal Aceh, Syekh Abdurrauf Singkil.

Pelopor Islam di Minangkabau periode berikutnya adalah tiga orang ulama yang kembali dari ibadah haji pada tahun 1803, yaitu Haji Miskin, Haji Piobang, dan Haji Sumanik, menjadi penganjur gerakan puritanisme agama Islam di Sumatra Barat. Mereka menyerang adat dan kebiasaan lama yang mereka anggap tidak sesuai, dan mendesak masyarakat untuk melakukan kewajiban formal agama Islam. Terjadilah perang saudara antara Kaum Padri (kelompok pendukung) dan Kaum Adat (kelompok penentang) gerakan tersebut.

Pelopor Islam di Minangkabau pada awal abad ke-20 dimana ulama Minangkabau memulai usaha membebaskan praktik Islam yang bercampur dengan praktik adat. Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, diikuti oleh murid-muridnya, mengangkat kembali gagasan pemurnian Islam. Mereka, belakangan dijuluki sebagai ulama Kaum Muda, mencetuskan gerakan pembaruan Islam yang ditandai dengan maraknya penerbitan media massa Islam seperti Al-Munir dan pembukaan lembaga pendidikan modern seperti Sumatra Thawalib. Ulama Minangkabau sejak tahun 1900-an cenderung lebih berfokus pada pendidikan dan aktivitas intelektual dari pada perlawanan fisik. Gerakan modernisme Islam di Timur Tengah, yang antara lain digerakkan oleh Syekh Muhammad Abduh dan Syekh Rasyid Ridha, juga berimbas pada alim ulama Minangkabau pada masa itu.

Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi (1860–1916) merupakan seorang ulama kelahiran Koto Gadang, Agam, yang menjadi imam besar non-Arab pertama di Masjidil Haram, Mekkah. Ia merupakan guru bagi ulama-ulama besar Nusantara pada zamannya, dan sangat kritis terhadap adat-istiadat dan praktik tarikat yang dianggapnya bertentangan dengan ajaran agama. Seorang sepupunya, Syekh Tahir Jalaluddin (1869–1956), juga banyak menganjurkan gagasan pembaharuan dan menerbitkan majalah reformisme Islam Al-Imam (1906) di Singapura yang isinya sejalan dengan majalah Al-Manar terbitan Rasyid Ridha di Mesir. Setelah Ahmad Khatib, ulama Minangkabau lainnya yang berkiprah di Masjidil Haram ialah Djanan Thaib. Ia ditunjuk sebagai penghulu (ma’dzun syar’i) bagi orang-orang Nusantara di Mekkah.

Syekh Muhammad Jamil Jambek (1860–1947) adalah salah seorang pelopor ulama reformis di Minangkabau. Ia banyak menganjurkan pembaharuan dan pemurnian Islam melalui ceramah atau dakwah secara lisan, serta menulis buku-buku yang menentang praktik tarikat yang berlebihan. Haji Abdul Karim Amrullah (juga dipanggil Haji Rasul atau Inyiak Doto, 1879–1945) berasal dari Sungai Batang, Maninjau adalah tokoh lainnya yang mendirikan sekolah Islam modern Sumatra Thawalib (1919), dan bersama Haji Abdullah Ahmad (1878–1933) merupakan orang Indonesia terawal yang mendapat gelar doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar, Mesir. Selain itu, Haji Abdullah Ahmad juga menerbitkan majalah Al-Munir (1911) di Padang, yang mengusung ide kesesuaian Islam dengan sains dan rasionalitas modern. Ulama lainnya Syekh Ibrahim Musa (Inyiak Parabek, 1882–1963), berasal dari Parabek, Bukittinggi, turut mendirikan Sumatra Thawalib; di mana Syekh Ibrahim Musa mengelola sekolah cabang di Parabek, Bukittinggi, sedangkan Haji Rasul mengelola cabang di Padangpanjang.

Pelopor Islam di Minangkabau sejak masa pergerakan hingga awal kemerdekaan adalah Menantu dan anak Haji Rasul, yaitu AR Sutan Mansur (1895–1985) dan Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka, 1908–1981), kemudian juga menjadi ulama terkenal. AR Sutan Mansur adalah seorang ulama yang pernah memimpin Muhammadiyah. Sementara itu Hamka selain menjadi pemimpin Muhammadiyah (1953–1971) juga dikenal sebagai ulama internasional serta juga seorang sastrawan. Dia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia atas jasa-jasanya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Candi di Minangkabau

Candi di Minangkabau

Candi di Minangkabau | Seperti halnya kerajaan Hindu dan Buda dimasa lalu, Minangkabau juga memiliki candi walaupun jumlahnya tidaklah begitu banyak. Candi-candi tersebut terdapat pada dua kabupaten yaitu Pasaman dan Dharmasraya merupakan peninggalan cagar budaya yang sangat berharga.  Keduanya adalah daerah hulu sungai Batang Hari dan sungai Kampar yang dahulunya merupakan pusat dari kerajaan Melayu. Perairan hulu Sungai Kampar, yang disebut Minānga di dalam Prasasti Kedukanbukit pada 682, merupakan pula “daerah asal” Kerajaan Śrīwijaya sebelum kepindahannya ke daerah Palembang.

Candi Padangroco

Kompleks Candi Padangroco terletak di daerah aliran Sungai Batanghari (+160 meter dpl). Berada di Jorong Sungai Langsat (Sei Langsek). Sebelum ada pemekaran termasuk Kabupaten Sawahlunto-Sijunjung. Sekarang berada di Desa Nagari Siguntur, Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya, Propinsi Sumatera Barat. Candi Padangroco kali pertama dilaporkan oleh Verkerk Pistorius ketika mengadakan penelitian kepurbakalaan di daerah aliran Sungai Batanghari pada awal 1860-an. Pada 1909 L.C. Westenenk mengadakan survei dan pemetaan di daerah Padangroco. Ia kemudian menemukan kembali sisa-sisa bangunan bata tersebut. Berikutnya peninggalan-peninggalan arkeologi di daerah hulu Batanghari ini dilaporkan kembali oleh F.M. Schnitger dalam bukunya yang berjudul The Archaeology of Hindoo Sumatra (1937).

Candi di Nagari Lansek-Kadok

Di Desa Nagari Lansek-Kadok, Kecamatan Rao Selatan, Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat terdapat dua candi. Kedua candi itu adalah Candi Pancahan dan Candi Patani, yang terbuat dari susunan bata.

Candi Pancahan

Candi Pancahan diketahui keberadaannya pada awal 1990-an oleh tim arkeologi Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Batusangkar mengadakan ekskavasi penyelamatan di situs ini. Mereka menemukan struktur bangunan bata yang merupakan sisa bagian dinding candi, lantai candi dan fondasi, dan sebaran lapisan tanah bercampur batu kerakal. Hasil ekskavasi menyimpulkan terdapat dua candi, yaitu satu candi utama atau candi induk (Candi Pancahan I), dan satu candi pengiring atau candi perwara (Candi Pancahan II), yang terletak di sebelah selatannya, yang menghadap ke utara. Kedua candi itu berhadap-hadapan, dan keduanya dikelilingi oleh satu parit. Candi Pancahan I keadaannya sudah sangat parah, sehingga bentuk dan ukurannya sulit untuk diperkirakan. Namun dari sisa-sisa struktur dinding kakinya yang masih ada, candi ini dapat diperkirakan bentuknya empat persegi dengan ukuran sekitar 6 x 5 m.

Candi Patani

Candi Patani semula merupakan salah satu munggu yang ada di areal perkebunan penduduk di Jorong IV Beringin. Sebenarnya di area perkebunan tersebut ada beberapa munggu yang lain. Candi Patani untuk kali pertama diidentifikasi oleh tim arkeoogi dari Pusat Arkeologi Nasional, yang mengadakan penelitian di daerah Rao, Kabupaten Pasaman pada Mei 2013. Pada kesempatan itu tim mengadakan ekskavasi di Situs Patani. Hasil ekskavasi ini memperlihatkan adanya sisa struktur bangunan bata, yang merupakan sisa bagian kaki candi. Bentuknya persegi empat, dan diperkirakan berukuran sekitar 6 x 6 m. Berdasarkan adanya tangga di sisi timur diperkirakan candi ini menghadap ke arah timur. Namun demikian orientasinya tidak persis utara-selatan atau barat-timur, karena arah orientasi candi ini menyimpang ke arah barat sekitar 10º.