Pilih Laman

Adityawarman Datang Ke Minangkabau

Adityawarman Datang Ke Minangkabau | Majapahit tentu saja tidak mau dikalahkan dengan hanya bermain teka-teki dan mengadu Kerbau (baca: asal usul nama MInangkabau). Pada suatu masa Majapahit mempersiapkan bala tentara yang terbaik untuk menyerang Minangkabau. Saat itu mereka datang dengan berpuluh-puluh kapal dan beribu-ribu prajurit.

Kedatangan balatentara Majapahit digambarkan dalam kata-kata kiasan adat:

Datanglah Enggang dari laut, hendak makan ke gunung Marapai, ditembak datuk yang berdua, bedil sedetak dua letusnya dan hinggaplah Enggang itu ke rumah Datuk Suri Dirajo. Bedil sedetak dua dentamnya dan terkejutlah binatang dalam rimba, menyalak anjing dalam koto, mendengus bunyi harimau dan jatuhlah telur burung enggang itu di rumah Datuk Suri Dirajo.

Semua kata-kata tersebut tentulah kiasan belaka sebagai adatnya masyarakat Minangkabau. Enggang yang datang mencari makan ke gunung Marapi itu adalah Adityawarman dengan maksud hendak berkuasa di Minangkabau.

Adityawarman sebenarnya memiliki darah Minangkabau tetapi dia dibesarkan di Majapahit. Ia anak dari Sang Sepurba dengan Dara Petak. Sebelum tahun 1347, Adityawarman telah sampai ditepi Batanghari dan mendirikan sebuah kerajaan. Kerajaan itu berpusat di Sungai Lansat, Sungai dareh, Rambahan dan Padang Reco.

adityawarman

Pada tahun 1347 barulah Adityawarman datang ke Pagaruyung dengan pasukannya. Kedatangan Majapahit dengan balatentara yang besar tersebut tidak mungkin dilawan oleh rakyat Minangkabau. Kedatangan mereka malah disambut dengan baik-baik dengan simbol-simbol tanda ketundukan. Datuk Suri Dirajo sendiri yang menyambut kedatangannya dengan membawa barang-barang ketundukan.

Barang ketundukan tersebut berupa lima ekor kuda putih yang disediakan oleh datuk-datuk di Lima Kaum, serta tiga ekor dari Laras Bodi Caniago. Semua kuda tersebut diberi bertali cindai. Jadi pada lahirnya pemberian itu merupakan emas pemberian tetapi dibatinnya adalah emas ketundukan. Kemudian Adityawarman diangkat menjadi raja di Pagaruyung.

Rumah Adat Minangkabau

Rumah Adat Minangkabau

Rumah Adat Minangkabau disebut juga dengan Rumah Gadang atau Rumah Bagonjong. Rumah Gadang merupakan rumah tradisional atau rumah adat yang banyak di jumpai di provinsi Sumatra Barat. Rumah dengan model rumah “Bagonjong” banyak ditemui di propinsi Sumatra Barat dan di daerah perantauan masyarakat minang. Namun tidak semua kawasan di Sumatra Barat boleh didirikan rumah adat ini, hanya pada kawasan dengan status sebagai nagari saja Rumah Gadang ini boleh didirikan.

Rumah Adat Minangkabau

Rumah Adat Minangkabau

Rumah Gadang sebagai tempat tinggal keluarga minang mempunyai ketentuan-ketentuan nya tersendiri. Jumlah kamar bergantung kepada jumlah perempuan yang tinggal di dalamnya. Setiap perempuan dalam kaum tersebut yang telah memiliki suami memperoleh sebuah kamar. Sementara perempuan tua dan anak-anak memperoleh tempat di kamar dekat dapur. Para gadis remaja memperoleh kamar bersama di ujung yang lain.

Rumah adat Minangkanau ini memiliki ruangan yang lepas dan luas dibagian tengahnya kecuali kamar tidur. Pada bagian dalam ruangan terbagi atas lanjar dan ruang yang ditandai oleh tiang. Tiang-tiang tersebut berbanjar dari muka ke belakang dan dari kiri ke kanan. Tiang yang berbanjar dari depan ke belakang menandai lanjar, sedangkan tiang dari kiri ke kanan menandai ruang. Jumlah lanjar ditentukan oleh besar rumah, bisa dua, tiga dan empat. Ruang pada rumah gadang terdiri dari jumlah yang ganjil antara tiga dan sebelas.

Rumah Baanjuan

Rumah adat ini dibangun di atas tanah milik keluarga induk dalam kaum sebagai harta pusaka turun temurun. Rumah adat hanya dimiliki dan diwarisi oleh pihak perempuan pada kaum tersebut. Bagian depan Rumah Gadang biasanya terdapat dua buah bangunan Rangkiang sebagai tempat menyimpan padi. Pada bagian kanan dan kiri Rumah Gadang terdapat ruang anjungan sebagai tempat pengantin bersanding atau tempat penobatan kepala adat. Karena itu rumah Gadang disebut juga dengan rumah Baanjuang. Anjung pada kelarasan Koto-Piliang memakai tiang penyangga, berbeda dengan kelarasan Bodi-Chaniago tidak memakai tiang penyangga di bawahnya. Ini berdasarkan kepada filosofi yang dianut kedua golongan ini yang berbeda. Koto-Piliang menganut prinsip pemerintahan yang hierarki menggunakan anjung yang memiliki tiang penyangga. Bodi-Chaniago yang menganut prinsip demokrasi, anjuang seolah-olah mengapung di udara.

Dalam komplek Rumah Adat Minangkabau ini dibangun sebuah surau kaum yang berfungsi sebagai tempat ibadah. Surau juga digunakan sebagai tempat pendidikan dan juga tempat tinggal lelaki dewasa yang belum menikah.

Asal Usul Nama Minangkabau

Asal Usul Nama Minangkabau

Asal usul nama Minangkabau dalam mitos rakyat Minangkabau yang diterangkan seperti kisah berikut ini:

Pada suatu masa datanglah rombongan prajurit-prajurit yang dilihat dari gelagatnya hendak berkuasa atau ingin berpengaruh di Minangkabau. Mereka bersenjata lengkap dan prajuritnya terlihat gagah berani. Konon mereka adalah prajurit dari kerajaan Majapahit yang datang dengan memudiki Batang Hari dan menetap di Batu Patah, kemudian mereka berkemah di Bukit Gombak. Barangkali mereka adalah rombongan yang pernah kalah bertaruh tempo hari (baca: Kisah Cati Bilang Pandai). Mungkin maksud kedatangan mereka akan menuntut kekalahannya dengan jalan yang lain, kalau perlu adu kekuatan senjata.

Selain bersenjata mereka rupanya membawa seekor kerbau betina yang sangat besar, tanduknya panjang dan runcing. Utusan mereka datang menghadap kepada Datuk Ketemenggungan, Datuk Perpatih nan Sabatang, Manti, Malim, dan Dubalang serta ninik mamak semuanya, utusan tersebut berkata:

Prajurit dari kerajaan Majapahit

“Wahai datuk yang berdua! Kami datang kemari adalah akan menebusi kekalahan kami tempo hari. Jika kita berperang tentu bencana yang akan datang, akan berjatuhan korban dipihak rakyat yang tidak bersalah. Sebab itu lebih baik kita adu kekuatan saja tetapi bukan antara manusia. Kami ada membawa seekor kerbau yang besar, carikanlah lawan dan kita adu kerbau kita. Jika kami kalah oleh datuk ambilah segala perlengkapan kami, tetapi kalau datuk yang kalah maka negeri ini kami duduki.”

Repotlah kedua datuk itu akan menjawab tantangan dari rombongan prajurit yang datang. Lalu datuk yang berdua minta janji tujuh hari untuk menghadapi tantangan tersebut. Setelah sampai tujuh hari seperti janji datuk nan berdua, berhimpunlah orang ramai penuh sesak di gelanggang tempat akan mengadu kerbau itu, yang bakal menentukan nasib negeri masing-masing.

Asal Usul Nama Minangkabau

Prajurit Majapahit lalu menampilkan seekor kerbau yang sebesar gajah yang melihat kekiri dan kekanan dengan mata merah dan mengebas-ngebaskan tanduknya yang ujungnya runcing ibarat mata keris. Dan manakah lawan kerbau besar itu? Semua mata mencari-cari kerbau orang Minangkabau lawan kerbau besar itu.Akhirnya tampilah lawan kerbau besar itu. baru saja melihat semua orang bersorak dengan riuh rendah dan rombongan dari Majapahit melihat bercampur heran dan tak mengerti. Sebab lawan kerbau itu tak lebih tak kurang hanya seekor anak kerbau kurus yang sedang erat menyusu dan sudah dipuasakan selama beberapa hari. Tetapi pada moncongnya dipasangkan cawang besi bercabang sembilan, enam buah pada tiap-tiap puncaknya.

Kerbau besar Majapahit

Kerbau besar Majapahit sudah menguak-nguak ditengah arena minta lawannya, dan anak kerbau mengoek-ngoek mencari induknya. Anak kerbau itu dipegangkan oleh orang-orang dari dua kelarasan. Banyak rakyat yang kecewa karena untuk melawan kerbau besar itu hanya memajukan anak kerbau yang kurus pula. Orang Majapahit tertawa mengejek, mereka mengira bahwa dalam beberapa saat anak kerbau kurus itu tentu akan hancur luluh ditanduki dan diinjak-injak kerbau besar itu. Kerbau besar itu juga terheran-heran karena sejauh itu dia datang akan bertanding hanya akan dihadapkan kepada lawan yang hanya sebesar induk kambing. Sebab itu ketika anak kerbau itu datang berlari-lari kepadanya tidak dihiraukannya sedikit juga.

Anak kerbau itu mengira bahwa kerbau besar itu induknya, ataupun tidak yang penting dia harus menyusu kepada kerbau itu. Dan dengan serta merta menyelunduplah dia kebawah perut kerbau besar itu untuk menyusu. Sebagaimana lazimnya anak kerbau menyusu kepalanya dilonjak-lonjakkannya kuat-kuat ke perut induknya. Tentu saja besi runcing dimoncongnya menembus-nembus perut kerbau besar itu sehingga tumpahlah darah dan luka-luka perut kerbau besar itu. Larilah kerbau besar keluar lapangan, dia lari terus melewati beberapa tempat yang kemudian mendapat nama dari pelariannya, sijangat, sipurut, dan lain-lain.

Panglima yang datang itu untuk kedua kalinya harus menyingkir dengan rasa malu karena mereka sudah dikalahkan ditengah arena hanya dengan akal bulus saja. Tetapi sebenarnya adalah karena kebijaksanaan penduduk laras yang dua.

Asal Usul Nama Minangkabau

Semenjak itu daerah itu mendapat nama “Minangkabau” yang berasal dari “menang kerbau” atau “minang kabau”. Sebab besi runcing dimulut anak kerbau itu “minang” namanya. Negeri tempat mengadu kerbau itu dinamakan Minangkabau yang masih ada sampai sekarang dekat Batusangkar. Dan sesudah itu pula bentuk-bentuk rumah gadang, lumbung dan beberapa bangunan lainnya dibuat berbentuk tanduk kerbau lambang kemenangan beradu kerbau pada masa itu.

Demikianlah asal usul nama Minangkabau berdasarkan mitos dari cerita rakyat Minangkabau.

 

Sistem Kepemimpinan di Minangkabau

Sistem Kepemimpinan di Minangkabau

Sistem kepemimpinan di Minangkabau adalah posisi seorang pemimpin di Minangkabau itu “didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting”. Maknanya tidaklah jauh jarak antara pemimpin dan orang yang dipimpin atau pemimpin itu dekat dengan kaum yang dipimpinnya.

Sistem kepemimpinan di Minangkabau secara struktural dalam adat dikatakan “urang nan ampek jinih”, terdiri dari: penghulu, manti, malin, dan dubalang. Sistem kepemimpinan di Minangkabau menganut dua mekanisme atau sistem yang berbentuk kalarasan. Diminangkabau terdapat dua kelarasan yaitu kelarasan “koto piliang” dan “bodi caniago”. Kelarasan koto piliang sistemnya “bajanjang naik batanggo turun” atau dalam kata adat: “titiak dari ateh” (titik dari atas), artinya keputusan terletak di tangan penghulu pucuk. Kalarasan bodi caniago menganut prinsip dalam kepemimpinannya yaitu “duduk samo randah tagak samo tinggi”. Dengan aturannya “mambasuik dari bumi” (membesut dari bumi) yang artinya keputusan itu timbul dari bawah. Bodi Caniago berarti “budi nan baharago” (budi yang berharga) sehingga setiap keputusan diambil dengan cara musyawarah untuk mencari kata mufakat.

Sistem kepemimpinan di Minangkabau

Penghulu Adat

Penghulu adalah pemimpin dalam kaum sukunya dengan panggilan sehari-hari “Datuak“, merupakan hulu (ketua) yang tugasnya meliputi segala persoalan dan masalah yang berkaiatan dengan anak kemenakan dan kaumnya. Penghulu dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh beberapa perangkat yang disebut dengan pemangku adat, yakni manti, malim dan dubalang. Penghulu memiliki wakil yang disebut panungkek, dapat mewakili penghulu dalam tugas-tugas umum masyarakat adat seperti alek (pesta/kenduri) kaum sukunya, menghadiri ucok/ucapan (undangan) alek di luar paruik, jurai dan atau di luar alek sukunya di nagari. Menghadiri suatu rapat (musyawarah) dan dalam tugas yang prinsipil seperti memimpin rapat “urang nan ampat jinih” atau mengambil keputusan dalam suku atau kaum penghulu tidak boleh diwakili oleh panungkek.

Manti Adat

Manti asal katanya dari menteri yang kedudukannya berada pada pintu susah karena dia banyak menyelesaikan yang kusut dan menjernihkan yang keruh. Dalam alek manti yang mempalegakan kato untuk mencari kata mufakat sebagai pertimbangan pengambilan keputusan adat. “Biang tabuak gantiang putuih” (keputusan) berada di tangan penghulu. pemerintahan adat. Manti juga mempunyai tugas mengawasi kaum sukunya dalam praktek “adat mamakai” baik adat nan sabana adat, adat nan teradat, adat nan diadatkan dan adat istiadat.

Malin Adat

Malin salah seorang pembantu penghulu dalam bidang agama yang tugasnya mulai dari pengajaran mengaji, menunaikan Rukun Islam juga menunjukan dan mengajari kamenakan. Berakhlak atau taat mengamalkan agama Islam serta mengarahkan kapanakan ke jalan yang lurus dan diredhai oleh Allah swt. Tugas malim ini dibantu “urang jinih nan ampek” yakni: (1) imam, (2) katik, (3) bila dan (4) qadhi.

Dubalang Adat

Dubalang merupakan seorang pembantu penghulu dalam bidang ketahanan dan keamanan. Dubalang berasal dari kata hulubalang, yang bertugas menjaga dari hal-hal yang akan mengancam keamanan lingkungan salingka nagari. Karena beratnya tugas dubalang, disebut posisinya tagak di pintu mati.

Fakhrizal – Genius Umar Berpasangan dalam Pilkada  Sumbar 2020

Fakhrizal – Genius Umar Berpasangan dalam Pilkada Sumbar 2020

Fakhrizal – Genius Umar Berpasangan dalam Pilkada Sumbar 2020 lewat jalur independen. Berita ini menjawab teka-teki tentang siapa calon wakil gubernur yang digandeng oleh Irjen Pol Fakhrizal. Setelah beberapa pekan belakang ini balihonya terpampang diberbagai tempat strategis di ranah minang Irjen Pol Fakhrizal menyatakan kesediaannya maju dalam pilkada Sumbar 2020.

Walaupun ada yang menawarkan Irjen Pol Fakhrizal untuk maju lewat parpol namun putera kelahiran Kamang Agam ini lebih memilih independen. “Biarlah tidak usah maju Pilkada Sumbar 2010 kalau harus lewat jalur parpol”, keukeuh orang nomor satu di Polda Sumbar ini seperti dikutip dari mimbarsumbar.id.

Genius Umar tidak pernah menyangka akan mendampingi Fakhrizal dalam Pilkada Sumbar 2020. Walikota Pariaman ini bercerita bahwa pada kegiatan Rakornas beberapa waktu lalu di Sentul, secara spontan Kapolda menyampaikan dirinya dengan Genius Umar akan berpasangan maju dijalur independan 2020 mendatang.