Select Page
Sistem Kepemimpinan di Minangkabau

Sistem Kepemimpinan di Minangkabau

Sistem kepemimpinan dari pandangan adat Minangkabau adalah posisi seorang pemimpin di Minangkabau itu “didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting”. Maknanya tidaklah jauh jarak antara pemimpin dan orang yang dipimpin atau pemimpin di Minangkabau itu dekat dengan kaum (masyarakat) yang dipimpinnya.

Sistem kepemimpinan di Minangkabau secara struktural dalam adat dikatakan “urang nan ampek jinih”, terdiri dari: penghulu, manti, malin, dan dubalang. Sistem kepemimpinan di Minangkabau menganut dua mekanisme atau sistem yang berbentuk kalarasan, yaitu kelarasan “koto piliang” dan “bodi caniago”. Kelarasan koto piliang sistemnya “bajanjang naik batanggo turun” atau dalam kata adat: “titiak dari ateh” (titik dari atas), artinya keputusan terletak di tangan penghulu pucuk. Kalarasan bodi caniago menganut prinsip dalam kepemimpinannya yaitu “duduk samo randah tagak samo tinggi”, dengan aturannya “mambasuik dari bumi” (membesut dari bumi) yang artinya keputusan itu timbul dari bawah. Bodi Caniago berarti “budi nan baharago” (budi yang berharga) sehingga setiap keputusan diambil dengan cara musyawarah untuk mencari kata mufakat.

Penghulu Adat

Penghulu adalah pemimpin dalam kaum sukunya dengan panggilan sehari-hari “Datuak“, merupakan hulu (ketua) yang tugasnya meliputi segala persoalan dan masalah yang berkaiatan dengan anak kemenakan dan kaumnya. Penghulu dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh beberapa perangkat yang disebut dengan pemangku adat, yakni manti, malim dan dubalang. Penghulu memiliki wakil yang disebut panungkek, dapat mewakili penghulu dalam tugas-tugas umum masyarakat adat seperti alek (pesta/kenduri) kaum sukunya, menghadiri ucok/ucapan (undangan) alek di luar paruik, jurai dan atau di luar alek sukunya di nagari. Menghadiri suatu rapat (musyawarah) dan dalam tugas yang prinsipil seperti memimpin rapat “urang nan ampat jinih” atau mengambil keputusan dalam suku atau kaum penghulu tidak boleh diwakili oleh panungkek.

Manti Adat

Manti asal katanya dari menteri yang kedudukannya berada pada pintu susah karena dia banyak menyelesaikan yang kusut dan menjernihkan yang keruh. Dalam alek manti yang mempalegakan kato untuk mencari kata mufakat sebagai pertimbangan pengambilan keputusan adat. “Biang tabuak gantiang putuih” (keputusan) berada di tangan penghulu. pemerintahan adat. Manti juga mempunyai tugas mengawasi kaum sukunya dalam praktek “adat mamakai” baik adat nan sabana adat, adat nan teradat, adat nan diadatkan dan adat istiadat.

Malin Adat

Malin salah seorang pembantu penghulu dalam bidang agama yang tugasnya mulai dari pengajaran mengaji, menunaikan Rukun Islam juga menunjukan dan mengajari kapanakan (masyarakat) berakhlak atau taat mengamalkan agama Islam serta mengarahkan kapanakan ke jalan yang lurus dan diredhai oleh Allah swt. Tugas malim ini dibantu “urang jinih nan ampek” yakni: (1) imam, (2) katik, (3) bila dan (4) qadhi.

Dubalang Adat

Dubalang merupakan seorang pembantu penghulu dalam bidang ketahanan dan keamanan. Dubalang berasal dari kata hulubalang, yang bertugas menjaga dari hal-hal yang akan mengancam ketahanan dan kemanan baik dalam lingkungan kaum sukunya maupun salingka nagari. Karena beratnya tugas dubalang, disebut posisinya tagak di pintu mati.

Akhirnya… Fakhrizal – Genius Umar Berpasangan dalam Pilkada  Sumbar 2020

Akhirnya… Fakhrizal – Genius Umar Berpasangan dalam Pilkada Sumbar 2020

Fakhrizal – Genius Umar Berpasangan dalam Pilkada Sumbar 2020 lewat jalur independen. Berita ini menjawab teka-teki tentang siapa calon wakil gubernur yang digandeng oleh Irjen Pol Fakhrizal. Setelah beberapa pekan belakang ini balihonya terpampang diberbagai tempat strategis di ranah minang Irjen Pol Fakhrizal menyatakan kesediaannya maju dalam pilkada Sumbar 2020.

Walaupun ada yang menawarkan Irjen Pol Fakhrizal untuk maju lewat parpol namun putera kelahiran Kamang Agam ini lebih memilih independen. “Biarlah tidak usah maju Pilkada Sumbar 2010 kalau harus lewat jalur parpol”, keukeuh orang nomor satu di Polda Sumbar ini seperti dikutip dari mimbarsumbar.id.

Genius Umar tidak pernah menyangka akan mendampingi Fakhrizal dalam Pilkada Sumbar 2020. Walikota Pariaman ini bercerita bahwa pada kegiatan Rakornas beberapa waktu lalu di Sentul, secara spontan Kapolda menyampaikan dirinya dengan Genius Umar akan berpasangan maju dijalur independan 2020 mendatang.

Baju adat perempuan Minangkabau

Baju adat perempuan Minangkabau

Baju adat perempuan Minangkabau mempunyai nama “Limpapeh Rumah nan Gadang” yang mempunyai kelengkapan seperti:

Baju Batabue (Baju Bertabur), maksudnya adalah baju yang ditaburi dengan benang emas. Tabur emas ini maksudnya kekayaan alam Minangkabau. Pakaian bertabur dengan benang emas bermacam-macam ragam mempunyai makna bercorak ragamannya masyarakat Minangkabau namun masih tetap dalam wadah adat Minangkabau.

Minsie, adalah bis tepi pada baju yang diberi benang emas. Pengertian minsie ini untuk menunjukkan bahwa demokrasi Minangkabau luas sekali, namun berada dalam batas-batas tertentu di lingkungan alur dan patut.

Tingkuluak, merupakan hiasan kepala perempuan yang berbentuk runcing dan bercabang. Pengertiannya adalah Limpapeh Rumah Nan Gadang di Minangkabau tidak boleh menjunjung beban atau beban yang berat.

Lambak atau Sarung, sarung wanitapun bermacam ragam, ada yang lajur ada yang bersongket dan ada yang berikat. Sarung untuk menutup bagian tertentu sehingga sopan dan tertib dipandang mata. Tentang susunannya sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi suatu daerah. Oleh karena itu ada yang berbelah di belakang, ada yang dimuka dan ada yang disusun di belakang.

Salempang, makna yang terkandung pada salempang ini adalah untuk menunjukkan tanggung jawab seorang Limpapeh Rumah Nan Gadang terhadap anak cucunya dan waspada terhadap segala sesuatu, baik sekarang maupun untuk masa yang akan datang.

Dukuah, kalung yang dipakai oleh Limpapeh Rumah Nan Gadang tiap nagari dan Luhak di Minangkabau bermacam-macam. Ada yang disebut kalung perada, daraham, cekik leher, kaban, manik pualam dan dukuh panyiaram. Dukuh melambangkan bahwa seorang Limpapeh selalu dalam lingkaran kebenaran, seperti dukuh yang melingkar di leher. Dukuh juga melambangkan suatu pendirian yang kokoh dan sulit untuk berubah atas kebenaran. Hal ini dikemukakan “dikisabak dukuah dilihia, dipaliang bak cincin di jari”.

Galang (Gelang), makna dari gelang ini dikiaskan “Nak cincin galanglah buliah”(ingin cincin gelang yang dapat)”. Maksudnya rezeki yang diperoleh lebih dari yang diingini. Gelang adalah perhiasan yang melingkari tangan dan tangan dipergunakan untuk menjangkau dan mengerjakan sesuatu. Terhadap gelang ini diibaratkan bahwa semuanya itu ada batasnya. Terlampau jangkau tersangkut oleh gelang. Maksudnya dalam mengerjakan sesuatu harus disesuaikan dengan batas kemampuan. Menurut ragamnya gelang ini ada yang disebut “galang bapahek, galang ula, kunci maiek, galang rago-rago, galang basa”.

Baju Adat Minangkabau

Baju Adat Minangkabau

Baju adat minangkabau merupakan baju tradisional yang dikenakan pada waktu-waktu tertentu, seperti: acara perhelatan pernikahan, batagak penghulu, acara kerapatan adat, kegiatan anak nagari dan lainnya. Baju adat minangkabau untuk perhelatan pernikahan mempunyai ciri khas dimasing-masing daerah, baju adat kota Padang sedikit berbeda dengan baju adat kota Bukittinggi.

Baju adat minangkabau untuk perempuan dan laki mempunyai nama, arti, dan kelengkapannya masing-masing.

Baju adat perempuan Minangkabau
Baju adat perempuan Minangkabau atau lambang kebesaran wanita Minangkabau disebut “Limpapeh Rumah nan gadang”, yang artinya tiang tengah pada sebuah bangunan dan tempat memusatkan segala kekuatan tiang-tiang lainnya. Apabila tiang tengah ini ambruk maka tiang-tiang lainnya ikut jatuh berantakan. Dengan kata lain perempuan di Minangkabau merupakan tiang kokoh dalam rumah tangga. Pakaian Limpapeh Rumah Nan Gadang tidak sama ditiap-tiap nagari, seperti dikatakan “Lain lubuk lain ikannyo, lain padang lain bilalangnyo”, namun pakaian Limpapeh Rumah Nan Gadang mempunyai sifat umum.

Minangkabau Bukan Melayu

Minangkabau Bukan Melayu

Minangkabau Bukan Melayu | Melayu merupakan suatu etnik atau suku yang identik dengan agama islam yang penyebarannya di sekitar pulau Sumatera, semenanjung malaka dan di pulau Kalimantan bagian utara dan barat. Di pulau sumatera yang terdiri dari 10 provinsi untuk saat ini bisa dikatakan dikatakan tempat yang paling banyak didiami oleh masyarakat melayu. Provinsi Riau, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Jambi, Palembang, dan Bengkulu memang cukup antusias mengangkat kebudayaan melayu sebagai identitas provinsinya.

Etnik lainnya yang cukup banyak mendiami pulau Sumatera dan daerah lainnya di nusantara adalah suku bangsa Minangkabau. Dari segi adat dan kebiasaan, Melayu dan Minangkabau memiliki beberapa persamaan. Sebagian orang beranggapan bahwa Minangkabau itu merupakan bagian dari Suku Melayu. Namun jangan cepat-cepat mengatakan melayu itu sama dengan Minangkabau. Karena tidak semua hal yang ada di kebudayaan Minangkabau itu bisa dtemukan di kebudayaan Melayu begitupun sebaliknya. Kedua suku yang ber-jiran ini sejatinya memanglah berbeda walaupun banyak kemiripan.

Beberapa ahli berpendapat Minangkabau itu merupakan Melayu tua, dari kebudayaan minangkabau maka muncullah melayu muda. Masyarakat Minangkabau yang suka merantau pada dahulu kala dan menyebar ke daerah di sekitarnya bahkan sampai ke semenanjung malaka atau yang kita kenal dengan Malaysia sekarang. Akibatnya budaya minang membaur dalam kehidupan masyarakat di beberapa provinsi lain. Di daerah itu masyarakatnya memakai system kekerabatan dan system adat yang ada pada budaya minang. Budaya minanglah yang dipakai oleh masyarakatnya dalam kehidupan keseharian. Namun karena sudah masuk ke wilayah provinsi dengan identitas melayu maka budaya minang yang ada tersebut dianggap saja sebagai budaya melayu. Itulah sebabnya banyak budaya melayu yang mirip dengan budaya minang.