Pilih Laman

Cati Bilang Pandai Tokoh Legenda Minangkabau yang Bijaksana

Cati Bilang Pandai Tokoh Legenda Minangkabau yang Bijaksana | Suatu masa datanglah segerombolan orang asing yang menaiki perahu melalui sungai Batang Hari lewat Padang Ganting dan sampai di Lima Kaum Dua Belas Koto. Maksud kedatangan mereka adalah ingin menguasai daerah yang dilalui. Mengetahui hal itu rakyat Laras nan Dua sudah bersiap-siap akan bertempur untuk mempertahankan kampung mereka. Mengetahui hal ini, rombongan orang asing yang datang mengurungkan niatnya untuk melakukan kekerasan.

Akhirnya diadakanlah petermuan besar di sebuah dusun yang bernama Dusun Tua. Pertemuan ini lengkap dihadiri oleh Datuk Ketemenggungan, Datuk Perpatih nan Sabatang, Datuk Suri Dirajo dan Cati Bilang Pandai. Turut hadir pula Reno Sadah, Manti, Dubalang, Ninik Mamak, dan masyarakat kampung.

Cati Bilang Pandai

Bertanyalah Cati Bilang Pandai yang bertindak sebagai juru bicara kepada rombongan orang asing. “Apakah maksud kedatangan tuan nahkoda kenegeri kami ini?”

Nahkoda perahu rombongan tersebut menjawab: “Kami sudah menjelajahi seluruh daerah di pulau Perca ini, dan kami mendengar bahwa disini banyak berdiam orang cerdik pandai, cendikiawan dan ahli lainnya, laut budi, ilmu segala pembicaraan. Maka kami ingin mengadakann sayembara dengan tuan-tuan disini”.

Maklumlah rakyat apa tujuan kedatangan rombongan asing tersebut. Cati akhirnya bertanya: “Apakah taruhan sayembara tuan-tuan itu?”

Sang nahkoda pun menjawab: “Kalau tuan-tuan menang ambillah kapal kami beserta isinya, tapi kalau tidak maka kampung tuan-tuan dengan isinya dapat pula oleh kami”.

“Baiklah”, jawab Cati Bilang Pandai.

Sayembarapun dimulai dan sang nahkoda mengeluarkan sepotong kayu yang sama bentuk ujung dan pangkalnya, dia pun berkata: “Inilah kayu Tataran Naga namanya, cobalah tuan-tuan tentukan mana ujung dan pangkalnya kayu ini”.

Cati Bilang Pandai

Para ninik mamak pun bermufakat sebentar, kemudian Cati Bilang Pandai mengambil potongan kayu Tataran Naga itu. Kayu tersebut berbentuk bulat panjang dan licin, kalau dilihat atau ditimang dengan tangan maka tidak akan dapat menentukan mana ujung dan pangkalnya. Cati mengukur kayu itu sama panjang, pada pertengahannya diikatkan seutas tali. Kemudian kayu yang sudah diikat dengan tali tersebut diangkat oleh Cati  dan yang sebelah pangkal menunduklah kebawah, maka ujung lainnya yang naik keatas adalah bagian ujungnya. Orang ramai pun bersorak. Kemudian dikemukakanlah dua atau tiga persoalan lagi tetapi dengan mudah Cati Bilang Pandai dapat menjawabnya.

Sangat malulah nahkoda rombongan asing itu dan buru-buru menyingkir dari sana dan kembali ke daerah asalnya. Tetapi perahu dan isinya telah disita oleh orang-orang dari Laras nan Dua. Harta kemenangan itu dibawa ke Pariangan Padangpanjang. Harta taruhan itu dibagi dua, setengah tinggal di pariangan Padangpanjang dan setengah lagi dibagi tiga. Sepertiga tinggal di Lima kaum, sepertiga lainnya dibawa ke sungai Tarab, dan sisanya untuk Tanjung Sungayang.

Adat Penghulu di Lintau Buo

Adat Penghulu di Lintau Buo

Adat Penghulu | Lintau termasuk dalam pemerintahan Kabupaten Tanah Datar dan berbatasan dengan Kabupaten Limapuluhkota. Pada zaman penjajahan Belanda dahulu, diperbatasannya terdapat sebuat jembatan yang memiliki atap yang pada kedua sisinya terdapat lukisan. Menghadap ke Limapuluhkota terdapat gambar kambing dan yang menghadap ke Lintau terdapat gambar kucing.

Seperti halnya adat penghulu di Minangkabau, Lintau juga mempunyai “orang yang empat jinih” yaitu: andiko, manti, malin dan dubalang. Gelaran pusaka di Lintau Buo diwarisi oleh rumah-rumah tertentu sehingga terdapat perbedaan dalam bentuk pakaian, kebesaran, bentuk rumah, serta tatacara dalam perhelatan.

Adat penghulu

Bila suatu kaum tidak memiliki keturunan laki-laki yang akan meneruskan gelaran adat maka gelaran tersebut dipahatkan di tiang panjang, atau dinamakan dengan pusaka terlipat. Suatu saat nanti dikembangkan lagi jika sudah ada keturunan laki-laki yang patut memakai gelar adat tersebut. Diadakanlah perhelatan “Batagak Penghulu” dalam kaum tersebut untuk menyatakan bahwa memiliki penghulu yang baru.

Di Lintau Buo panggilan andiko tersebuat adalah datuak, sedangkan panggilan kepada malin adat adalah “angku” atau “tuanku”. Gelar tuanku dipakai ketika terjadi perang padri karena yang memegang tampuk pimpinan adalah orang alim dalam nagari tersebut. Gelaran tuanku itu cukup terhormat dan syarat-syaratnya sama dengan pengangkatan seorang penghulu dengan perhelatan yang cukup besar.

Di Lubuk Jantan yang menjadi kepala atau pucuk adalah Datuk Simarajo dengan gelaran syara’ nya “Tuanku Sutan Ahmad”. Jika ada kerapatan nagari yang memperbincangkan masalah agama maka Tuanku Sutan Ahmad lah yang menjadi ketuanya. Dalam perhelatan ketika diadakan “sambah manyambah” menurut adat tidak dilupakan memanggil kedua gelaran tersebut. Misal: sambah adat kepada “Datuk nan Dua Belas” maka diiringi dengan “Tuanku nan Dua Belas”.

Sejarah Suku Minangkabau

Sejarah Suku Minangkabau

Sejarah Suku Minangkabau | Entah bagaimana hubungannya dengan Minangkabau tetapi Iskandar Zulkarnain atau Alexander de Grote memang ada, yaitu Raja dari Masedonia yang hidup antara tahun 356 dan 323 sebelum masehi.

Satu ketika sang raja tertarik melihat kecantikan seorang puteri penguasa dinegeri Ruhum yang bernama Hatta. Dan dilamarnya kepada ayahnya sehingga kawinlah baginda dengan puteri itu. Iskandar bertahta dalam kerajaan itu dihormati dan dimuliakan rakyat menurut patutnya.

Tiga orang putera Iskandar Zulkarnain

Dengan puteri itu Iskandar mendapat tiga orang putera. Seorang dinamakan: Sultan Maharaja Alif, seorang bernama Sultan Maharaja Depang, dan seorang lagi bernama Sultan Maharaja Diraja. Kepada maharaja Depang ditunjuk arah kenegeri Cina. Dan kepada putera yang bungsu yakni Maharaja Diraja arah kepulauan didaerah Khatulistiwa disebelah selatan.

Menurut mitos suku Minangkabau bahwa setelah Raja Iskandar wafat masing-masing putera itu berangkat menuju daerah yang sudah ditunjukkan oleh almarhum ayahnya. Maharaja Diraja membawa mahkota yang bernama “mahkota sanggahana” itu. Sultan Maharaja Depang membawa semacam senjata yang bernama “jurpa tujuh menggangkanai sumbing seratus tiga puluh namanya”. Dan Sultan Maharaja Alif membawa senjata keris bernama “keris sempama ganja iris” dan lela yang tiga pucuk, sepucuk jatuh kebumi dan sepucuk kembali kepada asalnya jadi mestika dan geliga dan sebuah pedang yang bernama Sabilullah.

Maka berlayarlah bahtera yang membawa ketiga orang putera itu menuju ke timur, menuju pulau Lankapuri. Dan setiba ditengah lautan baharullah dekat pulau Sailan timbulah niat buruk dihati anak raja yang berdua.

Duplikat dari mahkota yang hilang

Menurut tambo minangkabau, karena takut Maharaja Diraja menyerahkan mahkota itu kepada kedua abangnya. Tetapi sial ketika menerima mahkota itu terjatuhlah mahkota itu kedalam laut, dan jatuh keatas setumpak karang dalam laut itu. Maka bangkitlah seorang pengiring Sultan Maharaja Diraja bernama “Cateri Bilang pandai” maka dibangunkannya Sultan Maharaja Diraja. Dengan isyarat diberitahukannya kepada raja itu bahwa raja tak usah merasa kecewa dengan kehilangan mahkotaitu sebab dia akan menciptakan duplikat dari mahkota yang hilang itu.

Dengan sebuah teropong, cermin polongan kaca dilihatnya mahkota yang sudah berada dalam laut itu. Adapun mahkota itu terselip dibatu karang dan cahayanya mencar-mancar juga. Dan itulah keahlian bertukang emas dan perak. Baginda sangat heran melihatnya tetapi sangat bersuka cita. Sekalipun mahkota itu hanya tiruan dari yang asli. Dan ketiga putera itu berpisahlah disana. Maharaja Depang terus kenegeri cina dan Maharaja Alif kembali kenegeri Rum. Dia mempunyai kesaktian yang bernama “emas tukal tapawi”.

Sejarah suku minangkabau

Menurut sejarah suku minangkabau, adapun Maharaja Diraja terus pula berlayar menuju ketenggara menuju sebuah pulau yang bernama Jawa Alkibri. Beberapa lamanya berlayar kelihatanlah sebuah puncak gunung yaitu puncak gunung Merapi. Ketika itu daratan belum luas sebahagian masih diliputi oleh lautan. Maka ditujukan bahtera kesana dan mendarat didekat puncak gunung itu.

Sejarah Suku Minangkabau

Dalam pada itu laut sudah menyentak surut juga. Dibawah kaki gunung Merapi sudah terbentang sebuah dataran yang amat luas. Dengan kekuasaan Tuhan datanglah awan putih empai jurai yang bertiup ke daerah-daerah yang sudah luas itu. Sejurai merunduk ke luhak Agam, sejurai ke luhak Tanah Datar, sejurai ke luhak Lima Puluh Kota dan yang sejurai lagi ke Candung Lasi.

Baca juga: Sebab harta pusaka boleh digadai di Minangkabau

Daulat yang pertama-tama ialah daulat kepada Lakandibida namanya. Itulah kemudian hari yang ditempati oleh ninik mamak yang berdua Ketemenggungan dan Perpatih nan Sebatang. Mereka semua bersumpah sakti, berjanji erat akan bekerja sama dalam pembangunan negeri-negeri.

Karya: H. Datoek Toeah, penghulu kaum Koto Nan Gadang Payakumbuh. ( …. – 22 September 1965)

Penerbit: Pustaka Indonesia Bukittinggi (cet; XII – 1985)