Pilih Laman

Perbatasan Kerajaan Minangkabau “Durian Ditakuk Rajo”

Dalam salah satu mytos Minangkabau terdapat kisah tentang kepergian Datuk Ketemenggungan. Begini kisahnya:

Rupanya kehadiran Adityawarman ditengah masyarakat Minangkabau kurang mendapat persetujuan dari Datuk Ketemenggungan. Walaupun sang datuk diberi kedudukan yang penting dibawah raja Adiytawarman. Beberapa waktu setelah Datuk Suri Dirajo mengisi ketundukan, Datuk Ketemenggung beserta keluarga dan pengikutnya meninggalkan Minangkabau. Datuk dan semua pengikutnya keluar pada malam hari sehingga tidak diketahui oleh orang lain. Rombongan tersebut berjalan menuju kearah selatan.

Setelah beberapa lama berjalan, datuk dan pengikutnya sampai diperbatasan antara Minangkabau dengan daerah Jambi. Berhentilah rombongan tersebut disebuah batang pohon besar yang ternyata batang durian yang besar dan tinggi. Mereka menginap malam itu dibawah batang pohon durian tersebut. Pada pagi harinya berkatalah Datuk Ketemenggungan kepada pengikutnya:

“Wahai pengikutku, sekarang kembalilah kalian masuk kedalam negeri kembali, Kami dua suami isteri dan anak-anak akan meneruskan perjalanan ke Palembang. Kalian masih muda-muda oleh sebab itu kembalilah, dan biarkan kami meneruskan perjalanan”.

Datuk Ketemenggungan kemudian memberi tanda pada batang durian besar itu. Tanda tersebut menjadi batas daerah Minangkabau disebelah selatan yang berbatasan dengan daerah Jambi. Itulah yang dinamakan dalam kata-kata adat “Durian Ditakuk Rajo”.

Tidak semua pengikut datuk kembali ke Minangkabau, sebagian lagi bersama-sama dengan sang datuk melanjutkan perjalanan. Beberapa hari kemudian sampailah mereka ditepi sebuah sungai. Dengan takdir Allah, isteri datuk jatuh sakit dan menginggal dunia, beliau dimakamkan disebuah tempat yang bernama “Muara Rupit”.

Muara Rupit ini merupakan sebuah negeri yang masuk dalam propinsi Sumatera Selatan. Daerah ini menjadi tempat perhentian kendaraan yang datang dari arah Kota Padang menuju ke Tanjung Karang, dan begitu sebaliknya. Disana banyak bermukim orang minang dan membuka usaha Rumah Makan.

Kemudian datuk dan rombongannya meneruskan perjalanan dan sampai disebuah bukit yang bernama Bukit Siguntang. Bukit ini mempunyai kisah yang terkenal pula dalam sejarah Melayu. Setelah beberapa lama menetap di bukit itu wafat pula sang datuk dan dimakamkan ditempat itu. Sampai sekarang makam itu masih tetap diziarahi orang dan dinamakan “Keramat Siguntang”. Konon kabarnya panjang makam tersebut sampai lima meter, demikian pula makam isterinya. Apakah Datuk Ketemenggungan memang setinggi itu badannya, atau makamnya saja yang dibuat demikian panjang. Wallahu A’lam.

Semua pengikut datuk kembali ke Minangkabau. Sesampai di Durian Ditakuk Raja mereka berhenti dan bermufakat. Sebagian dari mereka kambali ke Minangkabau dan sebagian lagi kembali ke Muara Rupit dan menetap disana. Namun ada beberapa orang tidak pergi kemana-mana. Mereka masuk ke hutan rimba dan hidup sebagai pengembara dalam rimba itu. Diantara mereka ada yang bersuku Piliang dan Caniago. Mereka hidup berpindah-pindah di dalam hutan di daerah Jambi itu.  Tetapi sukunya tetap tidak mereka buang serta adat-adat Minangkabau masih mereka pergunakan. Rupanya mereka masih tetap menggunakan kata-kata adat: “Nagari tak dapat dialih, suku tak dapat di-anjak”.

Prasasti Pagaruyung Pada Masa Raja Adityawarman

Prasasti Pagaruyung Pada Masa Raja Adityawarman

Prasasti Pagaruyung merupakan situs peninggalan di Minangkabau pada masa pemerintahan Raja Adityawarman. Raja ini berkuasa di kerajaan Pagaruyung pada sekitar abad ke XIV M. Prasasti ditemukan di daerah Tanah Datar sekitar 22 buah. Ditemukan tersebar di Kecamatan Pariangan, Rambatan, Tanjung Emas, dan Lima Kaum. Beberapa buah prasasti yang ditemukan di sekitar Bukit Gombak, kecamatan Tanjung Emas. Prasasti dikumpulkan dalam suatu tempat yang kemudian disebut dengan Kompleks Prasasti Adityawarman.

Kompleks prasasti Adityawarman berada dipinggir jalan raya Pagaruyung – Batusangkar, Kecamatan Tanah Emas, Kabupaten Tanah Datar. Prasasti Pagaruyung terdiri dari delapan buah prasasti. Sayang sekali, lokasi asal temuan prasasti – prasasti tersebut tidak dapat diketahui dengan pasti, demikian pula tentang riwayat penemuannya.

Prasasti Pagaruyung

Pagaruyung I

Prasasti Pagaruyung I (1356 M). Isi dari prasasti ini adalah pujian pada keagungan dan kebijaksanaan Adityawarman. Dia dipuji sebagai raja yang banyak menguasai pengetahuan, khususnya di bidang keagamaan. Raja Adityawarman juga dianggap sebagai cikal bakal keluarga Dharmaraja. Adityawarman sendiri menggunakan nama rajakula ini di dalam salah satu gelarnya, yaitu Rajendra Maulimaniwarmmadewa. Penulis dari prasasti atau biasa disebut Citralekha, adalah Mpungku Dharmma Dwaja bergelar Karuna Bajra. Prasasti ini menyebutkan Swarnnabhumi sebagai nama wilayah Adityawarman. Swarnnabhumi mempunyai arti tanah emas, yang memberikan petunjuk bahwa daerah tersebut mempunyai tambang emas.

Pagaruyung II

Prasasti ini memiliki tulisan yang indah dan rapi serta goresan yang cukup dalam. Huruf dari prasasti ini adalah jawa Kuno dengan bahasa Sansekerta. Isi dari prasasti ini belum dapat dijelaskan secara lengkap, karena terjemahan yang dihasilkan masih meloncat-loncat. Prasasti ini diperkirakan berangka pada tahun 1295 Saka atau 1373.

Pagaruyung III

Prasasti ke- III memiliki pertanggalan prasasti berupa Candra Sengkala, yaitu dware rasa bhuje rupa atau gapura, maksud, lengan, rupa. Dware bernilai 9, rasa = 6, bhuje = 2, dan rupe = 1. Jika dibaca dari belakang menjadi 1269 saka atau 1347 M. Penulisan Prasati ke- III dimaksudkan untuk memperingati berdirinya suatu bangunan atau tempat suci keagamaan. Sayangnya bangunan yang dimaksud tidak diketahui lagi keberadaannya saat ini.

Pagaruyung IV

Prasasti ke- IV ini menyebutkan kata Sarawasa pada baris ke 9. Kata yang sama dapat ditemui pada Prasasti Saruaso I, yaitu Surawasan, yang kemudian berubah menjadi Saruaso. Saruaso merupakan nama sebuah nagari di Kabupaten Tanah Datar, sekitar 7 Km dari Kota Batusangkar. Apabila pembacaan ini benar, maka sarawasa atau Surawasa merupakan sebuah tempat atau daerah yang penting pada masa Adityawarman

Pagaruyung V

Dibandingkan dengan prasasti lainnya, Prasasti ke- V memiliki isi yang unik karena berisi tentang masalah taman dan di luar kelaziman prasasti – prasasti dari Adityawarman.

Pagaruyung VI

Prasasti ke- VI memiliki isi: Om Pagunnira tumanggung kudawira yang berarti bahagia atas hasil kerja Tumanggung Kudawira. Prasasti ini merupakan stempel atau cap pembuatan bagi Tumanggung Kudawira. Jabatan tumanggung merupakan jabatan yang lazim dipakai dalam pemerintahan Singasari dan Majapahit. Nama Kudawira merupakan nama seseorang, yang berarti kuda yang gagah perwira. Dari catatan sejarah tentang ekspedisi Pamalayu yang dijalankan Kertanegara dari Singasari, dapat diperkirakan bahwa Kudawira ini merupakan tumanggung dari kerajaan Singasari yang ikut dalam ekspedisi tersebut.

Pagaruyung VII

Prasasti ini tidak diketahui angka tahunnya. Isi dari prasasti ini adalah suatu sumpah atau kutukan yang ditujukan kepada orang yang mengganggu atau tidak mengindahkan maklumat raja di dalam prasasti tersebut.

Pagaruyung VIII

Prasasti ke- VIII merupakan sebuah teks yang dipahatkan pada sebuah artefak lesung batu berbentuk empat persegi dengan sebuah lubang di tengahnya. Teks dari prasasti tersebut digoreskan pada ketiga sisinya, terletak dibagian atas. Teks dimulai pada sisi yang berbaris dua lalu dilanjutkan pada kedua sisi lainnya dan diakhiri sisi pertama. Prasasti ini berangka tahun 1291 Saka atau 1369 M.

Prasasti ini berisikan: “Om tithiwarsatitha ratu ganato hadadi jestamasa dwidasa drta dana satata lagu nrpo kanaka jana amara wasita wasa”. Teks tersebut memiliki arti bahagia. Pada tahun Saka 1291 bulan Jyesta tanggal 12, seorang raja yang selalu ringan dalam berdana emas dan menjadi contoh bagaikan dewa yang harum selain itu ada juga perintah untuk “Sukhasthita” yang artinya tertib dan selalu gembira.

Prasasti Raja Adityawarman

Prasasti Raja Adityawarman

Prasasti Raja Adityawarman | Sebagai seorang yang pernah berkuasa di tanah Minangkabau, Adityawarman banyak memiliki prasasti peninggalan. Prasasti tersebut menerangkan tentang kedatangan dan pengangkatan Adityawarman sebagai raja Pagaruyung. Berikut ini ulasan tentang beberapa Prasasti Raja Adityawarman:

Prasasti Kubu Rajo (1349)

Prasasti Kubu Rajo ditemukan di daerah Tanah Datar pada tahun 1877. Prasati ini didaftarakan oleh N.J. Krom dalam “Inventaris der Oudheden in de Padangsche Bovenlanden” (OV 1912:41). Prasasti ini ditulis dalam bahasa Sanskerta, yang terdiri atas 16 baris tulisan. Kubu Rajo itu dalam dugaan orang adalah benteng Adityawarman. Pada prasasti itu Adityawarman disebutkan sebagai “Kanakamedinindra” yang artinya raja negara emas Suwarnadwipa.

Prasasti Pagaruyung (1357)

Dalam Prasasti Pagaruyung Adityawarman disebutkan sebagai Maharajo Dirajo. Diapun bergelar “Dharmaraja Kulatilaka” yang berarti permata dari kerajaan Suwarnadwipa.

Prasasti Saruaso I

Pada mulanya prasasti ini tak dapat dibaca tetapi kemudian dapat juga ditafsirkan. Isi dari prasasti ini adalah tentang petansbihan Adityawarman sebagai Bhairawa. Patung tersebut sekarang berada dalam Museum Pusat di jakarta.

Prasasti Bandar Bapahat

Dalam prasasti ini terdapat berjenis-jenis tulisan. Ada tulisan sansekerta dengan Sumatera kuno yang mirip dengan huruf jawa kuno. Terdapat juga tulisan Granta yang sering dipergunakan oleh bangsa Tamil di India Selatan. Para ahli berpendapat bahwa pada zaman itu terdapat penduduk yang berasal dari India Selatan. Mereka menetap disana karena tertarik dengan perdagangan Lada.

Dengan perubahan situasi kenegaraan itu lahirlah sebuah pantun adat yang berbunyi:

Jika berbuah di Koto Alam

Buahnya tindih bertindih

Jika bertuah dalam alam

Tuah itu silih berganti

Kemenakan di Minangkabau

Kemenakan di Minangkabau

Kemenakan di Minangkabau adalah anak dari saudara yang perempuan. Misalnya Datuk Bagindo seorang penghulu dalam kaumnya memiliki saudara Ana dan Ani. Anak-anak dari Ana dan Ani itulah kemenakan Datuk Bagindo. Karena Ana saudara perempuan Datuk Bagindo yang paling tua maka anak laki-laki Ana akan menjadi calon penganti Datuk Bagindo dalam memimpin kaumnya kelak.

Kemenakan di Minangkabau

Kemenakan di Minangkabau

Selain anak dari saudara perempuan, adapula macam kemenakan lainnya yang berlaku sepanjang adat Minangkabau, seperti:

  1. Kemenakan bertali darah, adalah kemenakan-kemenakan yang mempunyai garis keturunan dengan sang mamak. Contohnya seperti Datuak Bagindo yang telah diterangkan diatas. Kemenakan bertali darah mempunyai hak untuk mewarisi gelar pusaka mamaknya dan menggarap harta pusaka untuk kepentingan kaum. Ada kalanya terjadi perebutan sesama kemenakan dalam hal harta pusaka karena semua kemenakan merasa sama-sama mempunyai hak.
  2. Kemenakan bertali akar, dalam istilah adatnya adalah “yang terbang menumpu, hinggap mencekam”. Kemenakan ini adalah dari garis yang sudah jauh atau dari belahan kaum itu yang sudah menetap dikampung lain. Bila penghulu tempat dia menumpu itu sudah punah bolehlah kemenakan ini menggantikan dengan kesepakatan ninik mamak dan keluarga dalam sepayung. Demikian pula kalau ada harta pusaka yang tergadai boleh pula kemenakan ini untuk menebusinya. Namun masalah akan muncul kalau masih ada tunas baru yang merupakan kemenakan bertali darah dari mamak tersebut.
  3. Kemenakan bertali emas, kemenakan golongan ini tak berhak menerima warisan gelar pusaka tetapi mungkin dapat menerima harta warisan jika diwasiatkan kepadanya karena memandang jasa-jasanya atau disebabkan hartanya.
  4. Kemenakan bartali budi, masyarakat minangkabau tidak mengenal istilah “anak angkat” tetapi mereka mengenal kemenakan angkat dengan istilah lain. Pada suatu kali datang satu keluarga dan mengaku mamak kepada seorang penghulu dalam kampung itu dan dia diterima. Dan mereka melakukan tugas seperti kemenakan biasanya. Lazimnya di Minangkabau kepada mereka yang seperti itu diberikan setumpak tanah untuk berkebun, sepiring sawah, sebuah tabek ikan dan beberapa pohon kelapa.

Nama Kecil Datuak Katumanggungan

Nama Kecil Datuak Katumanggungan adalah Sutan Rumandung atau Sutan Rumanduang, atau kalau diterjemahkan menjadi Pangeran Matahari. Datuak Katumanggungan merupakan salah satu tokoh dalam alam Minangkabau saudara se-ibu dengan Datuk Parpatih nan Sabatang. Datuak Katumanggungan adalah anak dari Sri Maharaja Diraja dengan Puti Indo Jelita. Sedangkan Datuk Parpatih nan Sabatang adalah anak dari Puti Indo Jelita dengan suaminya Cati Bilang Pandai.

Datuak Katumanggungan

Datuak Katumanggungan seorang yang berpaham feodal karena ayahnya adalah seorang raja. Sistem pemerintahannya “bajanjang naik batanggo turun” atau dalam kata adat: “titiak dari ateh” (titik dari atas), artinya keputusan terletak di tangan penghulu pucuk. Datuak Katumanggungan merupakan pemimpin pada kelarasan “Koto Piliang” atau maksudnya kota pilihan.

Menurut Tambo Minangkabau, Sutan Rumanduang mendapatkan gelar Datuk Kutemenggungan seperti kisah berikut ini:

Suatu ketika Sutan Rumanduang ikut membantu memadamkan pemberontakan yang terjadi pada kerajaan di tanah jawa. Sutan Rumanduang dapat berbaur didalam kerajaan tersebut karena pada dasarnya dia juga adalah seorang anak raja. Berkat jasanya tersebut Sutan Rumanduang diangkat menjadi seorang Tumenggung.

Setelah lama merantau ditanah jawa akhirnya Sutan Rumanduang pulang ke kampungnya ranah Minangkabau. Sesampai di Minagkabau ternyata keadaan sudah jauh berubah. Agama Islam mulai berkembang di Minangkabau dan di kaki gunung Marapi lebih kental lagi. Sutan Rumanduang mencoba mempelajari Islam untuk mengetahui kelemahannya. Tetapi hidayah Allah masuk ke dada Sutan Rumanduang sehingga dia memeluk agama islam.

Sutan Rumanduang menjadi seorang muslim dan penganjur agama Islam yang taat. Sutan Rumanduang akhirnya didaulat menjadi datuk dengan gelar Datuk Ketumenggungan karena pernah menjadi Tumenggung di tanah Jawa.

Demikianlah Nama Kecil Datuak Katumanggungan berdasarkan kepada Tambo Minangkabau