Select Page

Lintau termasuk dalam pemerintahan Kabupaten Tanah Datar dan berbatasan dengan Kabupaten Limapuluhkota. Pada zaman penjajahan Belanda dahulu, diperbatasannya terdapat sebuat jembatan yang memiliki atap yang pada kedua sisinya terdapat lukisan. Menghadap ke Limapuluhkota terdapat gambar kambing dan yang menghadap ke Lintau terdapat gambar kucing.

Seperti halnya nagari lain di Minangkabau, Lintau juga mempunyai “orang yang empat jinih” yaitu: andiko, manti, malin dan dubalang. Gelaran pusaka di Lintau Buo diwarisi oleh rumah-rumah tertentu sehingga terdapat perbedaan dalam bentuk pakaian, kebesaran, bentuk rumah, serta tatacara dalam perhelatan.

Bila suatu kaum tidak memiliki keturunan laki-laki yang akan meneruskan gelaran adat maka gelaran tersebut dipahatkan di tiang panjang, atau dinamakan dengan pusaka terlipat. Suatu saat nanti dikembangkan lagi jika sudah ada keturunan laki-laki yang patut memakai gelar adat tersebut. Diadakanlah perhelatan “Batagak Penghulu” dalam kaum tersebut untuk menyatakan bahwa memiliki penghulu yang baru.

Baca Juga:  Sistem Kekerabatan di Minangkabau

Di Lintau Buo panggilan andiko tersebuat adalah datuak, sedangkan panggilan kepada malin adat adalah “angku” atau “tuanku”. Gelar tuanku dipakai ketika terjadi perang padri karena yang memegang tampuk pimpinan adalah orang alim dalam nagari tersebut. Gelaran tuanku itu cukup terhormat dan syarat-syaratnya sama dengan pengangkatan seorang penghulu dengan perhelatan yang cukup besar.

Di Lubuk Jantan yang menjadi kepala atau pucuk adalah Datuk Simarajo dengan gelaran syara’ nya “Tuanku Sutan Ahmad”. Jika ada kerapatan nagari yang memperbincangkan masalah agama maka Tuanku Sutan Ahmad lah yang menjadi ketuanya. Dalam perhelatan ketika diadakan “sambah manyambah” menurut adat tidak dilupakan memanggil kedua gelaran tersebut. Misal: sambah adat kepada “Datuk nan Dua Belas” maka diiringi dengan “Tuanku nan Dua Belas”.

Baca Juga:  Balai nan Panjang dan Balai nan Saruang