skip to Main Content
Adat belingkaran, pusaka berkehiliran, ayam gedang seekor selesung, ....

4 Sebab Harta Pusaka boleh Digadai Dalam Adat Minangkabau

4 Sebab Harta Pusaka Tinggi boleh Digadai

Seorang mamak yang jadi penghulu hanya bisa menggadaikan harta pusaka tinggi, memperdalam gadai, dan memindahkan gadai tapi tidak pernah menebus gadai akan membuat sengsara anak kemenakan dan kaumnya. Karena harta pusaka tinggi itu haruslah dikembang biakan atau sawah ladang ditambah dengan memegang sawah yang baru, meneruko sawah yang baru, mengembangbiakkan ternak dan usaha-usaha lainnya.

Meskipun demikian adapula masanya harta pusaka boleh digadai untuk kondisi tertentu, diantaranya:

  1. Rumah Gadang ketirisan
  2. Gadis Gadang tidak bersuami
  3. Mayat terbujur ditengah rumah
  4. Menegakkan penghulu

Bila salah satu dari empat perkara itu terjadi, terlebih dahulu harus diatasi dari hasil harta pusaka tersebut dan bila tidak memungkinkan juga barulah boleh menggadaikan harta pusaka. Penghulupun tidak mempunyai hak untuk menggadai harta tanpa bermufakat dengan dengan anak kemenakan. Pepatah Minangkabau menyebutkan “bulat boleh digolongkan, picak boleh dilayangkan”, setelah ada kesepatakan bersama barulah harta pusaka boleh digadaikan.

Baca juga: Balai nan Saruang

Sebelum menggadai atau menjual harta pusaka terlebih dahulu harus dicari jalan keluar yang lain karena sedapat mungkin harta pusaka jangan sampai tergadai. Hal ini sesuai dengan pepatah adat yang berbunyi: “Tak kayu janjang dikeping, tak air talang dipancung, tak emas bungkal diasah”. Demikian kokoh dan tertibnya penjagaan harta pusaka oleh ninik mamak dan seharusnya dipatuhi bersama-sama ketentuan adat tersebut.

Back To Top